
Oleh: Dimas Indra Pratama
Malam itu kelam mencengkeram
Tujuh nama terukir dalam luka bangsa
Darah mengalir di tanah Lubang Buaya
Menjelma tangis ibu pertiwi.
Bintang-bintang jatuh bersama fajar
Pahlawan terkulai—tubuh penuh derita
Ajaran sesat merampas nyawa
Menghancurkan sendi negara.
Aku berdiri di tepi sejarah kelam
Membaca nama-nama yang tak kan pudar:
Nasution, Harjono, Panjaitan
Soeprapto, Parman, Sutoyo, Tendean.
Mereka jatuh bukan karena lemah
Tapi karena membela merah-putih
Darah mereka menjadi tinta
Menulis kembali arti setia
Tiga puluh September—angka hitam
Pengkhianatan terhadap Pancasila
Namun dari kelam lahir terang
Bangsa ini bangkit dari luka.
Kini aku berdiri tegak
Di atas kuburan ideologi sesat
Mengingat, agar tak terulang
Tragedi yang merobek dada bangsa
30 September 1965 – Dikenang, Tak Dilupakan
Pondok Pesantren Darun Nun