Sepasang Kata-Kita

Oleh : Ilman Mahbubillah

Aku menemukanmu di antara kata-kata, pada kalimat yang mengajakku berkelana; menyusuri garis buku dengan goresan tinta, hingga tiba di halaman tempat kita bersua. Sejak saat pertama; kulihat serupa pemilik rumah paling ramah, dengan jejak kaki yang sudah tak sesuai pada tulisan pena; remuk, meremah dan melemah. Dengan mata yang meraba; berlutut dan meng-iba, lalu mulutku mulai mengeja; beralun meski tanpa tanda baca.

Aku mulai tenggelam; mendamba setelah jutaan kelam, memasuki dimensi pada netramu dalam-dalam, menelusuri relung tempat cintamu mulai tertanam. Kucoba terjemahkan warna yang muncul saat kau terpejam, menafsiri nada yang hilang pada setiap dentingan jam. Lantas kusadari; tak hanya bayangmu yang sedang bersemayam runyam, bahkan hadirmu adalah hangat dari dinginnya nestapa malam.

Dunia terlalu sempit untuk kisah kita; kukira. Dengan segala kebetulan yang membuat rasa mengalir seadanya, dengan berbagai sengaja membuat cinta perlahan menjadi cerita. Seumpama kau dan aku adalah ‘kita’; yang digaris oleh takdir pada satu muara yang sama, yang bertemu setelah sekian luka lalu sepakat untuk bersama. Maka, mohon izinkan; agar segala doa berbagi melewati pahit manis dari suka dan sungkawa.

Perjalanan panjang dengan banyaknya puisi yang diramu; kubacakan dihadapmu atau kau dengar sendiri dari lantunan suara hatiku ketika kau simpulkan senyummu. Meski nanti tak selalu menjadi penadah atas tumpahnya air matamu, tak selalu hadir dalam duka lara yang menimpamu. Harapku; bermula dari sekedar kata, menjadi sajak, dan rima lalu benih itu tumbuh, membantu lukamu temui obat penyembuh.

Serupa bunga yang merekah pada tangkainya; membuncah dan memerah setiap ujungnya, merambah pudarkan gundah yang menusuk dada. Menggenapi hati setelah sekian perih tak bertepi, membuka tabir elegi dalam perasaan sepi; tiap kali kekasih pergi, menjadi risalah untuk tak sekedar ingin memiliki dan tak lagi menyakiti. Bagian akhirnya adalah; menelanjangi sekat cakrawala dengan indahnya tanah utopia.

Sampai kita menjadi halaman akhir dari sebuah buku; bersama dalam asa, bersatu menuai balutan kasih berlandaskan rindu, beradu dari berbagai beda hingga berujung padu. Lantas kembali kutegaskan padamu; kata-kata adalah penawar luka yang selalu singgah, dan ‘kita’ adalah sebuah takdir yang tak bisa disanggah.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp