STANDARISASI KEHIDUPAN DI TIKTOK: ANCAMAN KESEHATAN MENTAL DAN KRISIS PENCARIAN IDENTITAS SANTRI DI ERA DIGITAL
Oleh Yahdil Falakhi Alkhikam
Pendahuluan
Indonesia kini menyandang predikat yang mengejutkan: negara dengan pengguna TikTok terbanyak di dunia. Per Juli 2024, tercatat 157,6 juta pengguna aktif di Indonesia, mengalahkan Amerika Serikat yang hanya mencapai 120,5 juta pengguna (RRI, 2024). Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata betapa dalamnya aplikasi berdurasi pendek ini telah meresap ke dalam keseharian masyarakat, tidak terkecuali generasi muda dan santri. Rata-rata warga Indonesia menghabiskan sekitar 38 jam 26 menit setiap bulan untuk bermain TikTok, sebuah durasi yang jika diakumulasikan setara dengan lebih dari satu hari penuh (detikNews, 2025).
Di balik hiburannya yang ringan dan candu algoritmanya yang lihai, TikTok diam-diam sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: menciptakan standar tunggal tentang bagaimana seharusnya hidup dijalani. Wajah yang dianggap ideal, tubuh yang dianggap layak, gaya hidup yang dianggap sukses, bahkan pencapaian usia dua puluhan yang dianggap “seharusnya” sudah diraih semuanya diseragamkan melalui repetisi konten yang tiada henti. Fenomena inilah yang penulis sebut sebagai standarisasi kehidupan di TikTok, sebuah proses homogenisasi nilai yang secara sistemik menggerus kesehatan mental dan mengaburkan proses pencarian identitas, khususnya di kalangan remaja dan santri yang tengah berada dalam fase pembentukan jati diri.
Jika dahulu ancaman terhadap pemikiran umat datang dalam bentuk gozwah al-fikr yang kasat mata, kini ancaman itu hadir dalam wajah yang lebih halus: algoritma yang setiap hari membisikkan kepada jutaan anak muda bahwa hidup mereka belum cukup baik. Pesantren, sebagai benteng pembentukan karakter dan akidah, tidak bisa lagi menutup mata terhadap realitas ini.
Pembahasan
Algoritma dan Lahirnya “Kebenaran Tunggal”
TikTok bekerja dengan algoritma For You Page yang mempelajari preferensi pengguna secara presisi, lalu terus-menerus menyajikan konten serupa. Mekanisme ini menciptakan apa yang oleh para peneliti disebut sebagai ruang gema (echo chamber) sebuah dunia kecil di mana pengguna hanya melihat satu jenis wajah, satu jenis tubuh, satu jenis pencapaian, dan satu jenis kebahagiaan secara berulang-ulang, hingga hal tersebut dipersepsikan sebagai norma yang berlaku universal. Padahal, konten yang tampil hanyalah potongan kecil kehidupan yang telah disunting, difilter, dan dikurasi sedemikian rupa untuk terlihat sempurna.
Ketika standar yang sempit ini dikonsumsi secara masif dan berulang, terjadilah apa yang dalam psikologi disebut perbandingan sosial (social comparison). Penelitian Mardiana dan Maryana (2024) menemukan adanya hubungan signifikan antara intensitas penggunaan TikTok dengan tingkat stres dan kecemasan remaja, dengan sekitar 60–70 persen remaja pengguna aktif tercatat mengalami gejala tersebut. Remaja merasa hidupnya kurang, penampilannya kurang, dan pencapaiannya kurang bukan karena kenyataannya demikian, melainkan karena mereka membandingkan sisi terburuk hidupnya dengan sisi terbaik hidup orang lain yang telah dikurasi habis-habisan.
Krisis Pencarian Identitas di Tengah Derasnya Persona Digital
Fase remaja, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kajian psikologi perkembangan, adalah fase krusial pencarian jati diri (identity search). Pada fase inilah seseorang mencoba memahami siapa dirinya, apa nilainya, dan ke mana arah hidupnya. Namun, ketika proses alamiah ini berlangsung di tengah derasnya arus persona digital yang serba sempurna, remaja tidak lagi mencari jati diri dari dalam, melainkan meniru identitas dari luar. Penelitian Egi Regita, Nabilah Luthfiyyah, dan Nur Riswandy Marsuki (2024) mengonfirmasi bahwa media sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi diri dan pembentukan identitas remaja di Indonesia, di mana banyak remaja membangun citra diri berdasarkan validasi eksternal berupa likes, komentar, dan jumlah pengikut, alih-alih berdasarkan pemahaman mendalam tentang dirinya sendiri.
Fenomena ini juga tidak luput menyentuh dunia pesantren. Meski santri hidup dalam lingkungan yang relatif terjaga, akses terhadap gawai pada waktu-waktu tertentu tetap membuka celah bagi standar digital ini untuk masuk. Santri yang semestinya membangun identitas berdasarkan nilai-nilai ketauhidan, keilmuan, dan akhlak, berisiko justru mengukur harga dirinya dengan tolok ukur yang asing: penampilan fisik yang trending, gaya hidup yang viral, atau validasi dari layar kaca. Ketika identitas dibangun di atas fondasi yang rapuh seperti ini, kesehatan mental menjadi taruhannya rasa cemas, rendah diri, bahkan perasaan tidak berharga dapat muncul ketika standar yang dikejar tidak pernah benar-benar tercapai, sebab standar itu sendiri memang didesain untuk terus bergeser dan tidak pernah cukup.
Sebagai ilustrasi, sebut saja namanya Fulanah, seorang santriwati kelas akhir di sebuah pondok pesantren. Setiap kali libur atau saat diberi kesempatan memegang ponsel pada waktu yang diizinkan, ia tak jarang mendapati dirinya scrolling TikTok berjam-jam, menyaksikan teman-teman sebayanya di luar pesantren memamerkan penampilan yang serba tertata, liburan ke tempat-tempat indah, hingga pencapaian akademik yang gemilang di usia belia. Perlahan, muncul dalam dirinya rasa minder: mengapa hidupnya “hanya” berkutat dengan kitab kuning, jadwal mengaji, dan seragam yang itu-itu saja, sementara dunia di luar sana tampak begitu gemerlap dan penuh pencapaian? Ia mulai mempertanyakan pilihannya menjadi santri, bukan karena kehilangan keimanan, melainkan karena standar yang terus-menerus ia lihat di layar membuatnya lupa bahwa kehidupan pesantren yang dijalaninya justru sedang membentuk sesuatu yang jauh lebih bernilai: keilmuan, kesabaran, dan kedekatan dengan Allah. Ilustrasi semacam ini bukanlah kasus tunggal, melainkan gambaran umum dari pergulatan batin yang dialami banyak santri ketika standar digital bertabrakan dengan realitas kehidupan pesantren yang sunyi dari sorotan kamera namun kaya akan makna.
Padahal, Allah S.W.T. telah menegaskan dalam Al-Qur’an surah At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Ayat ini adalah fondasi teologis yang kokoh untuk menangkal krisis identitas akibat standarisasi digital: bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh algoritma, tren, atau jumlah pengikut, melainkan telah ditetapkan oleh Allah sejak penciptaannya. Ketika seorang santri memahami dan meyakini hal ini secara mendalam, standar yang dibangun oleh TikTok akan kehilangan kekuatannya untuk mendikte harga diri mereka.
Strategi Pesantren Menghadapi Standarisasi Digital
Menghadapi realitas ini, pesantren perlu mengambil peran aktif melalui beberapa langkah strategis. Pertama, penguatan literasi digital kritis yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara membacanya secara kritis memahami bahwa konten di media sosial adalah hasil kurasi, bukan representasi utuh dari kenyataan. Kedua, penguatan konsep identitas berbasis akidah, di mana santri secara terus-menerus dibimbing untuk menyadari bahwa jati diri sejatinya bersumber dari kedudukannya sebagai hamba Allah dan pewaris ilmu para ulama, bukan dari validasi digital yang fana.
Ketiga, pesantren dapat menginisiasi program bernama “Fitrah Camp”, sebuah ruang pendampingan berkala yang memadukan konseling ringan, kajian tafsir tentang kemuliaan manusia, dan sesi berbagi (sharing circle) di mana santri bebas menceritakan tekanan yang mereka rasakan akibat perbandingan sosial di media digital, tanpa rasa takut dihakimi. Program ini idealnya melibatkan asatidz yang telah dibekali pemahaman dasar kesehatan mental, sehingga peran mereka sebagai murobbi ruhi benar-benar hadir menjawab persoalan zaman. Keempat, alih-alih hanya menjadi konsumen pasif standar digital, santri perlu didorong untuk menjadi produsen konten yang autentik menampilkan kehidupan pesantren apa adanya, termasuk proses jatuh-bangun dalam menuntut ilmu, sebagai bentuk perlawanan halus terhadap budaya kesempurnaan yang semu.
Kesimpulan
Standarisasi kehidupan yang diciptakan oleh algoritma TikTok bukanlah ancaman yang kasatmata seperti perang fisik atau propaganda ideologis, tetapi ia bekerja secara senyap dalam pikiran dan hati generasi muda, menggerogoti kesehatan mental dan mengaburkan proses pencarian jati diri yang semestinya tumbuh dari dalam. Di tengah derasnya arus ini, pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk hadir bukan dengan cara menjauhkan santri dari teknologi secara total, sebab hal itu mustahil dan bahkan tidak realistis, melainkan dengan membekali mereka fondasi identitas yang kokoh: bahwa nilai diri seorang manusia telah ditetapkan sejak dalam ketetapan Allah, jauh sebelum algoritma mana pun sempat mendefinisikannya.
Sebagaimana Rasulullah S.A.W. bersabda dalam riwayat Imam Muslim,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Ia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
Hadis ini menjadi penawar yang paling mendasar bagi krisis identitas yang lahir dari layar TikTok. Ketika santri menyadari bahwa yang dinilai bukanlah bentuk fisik atau standar viral, melainkan kualitas hati dan amal, maka di situlah kesehatan mental dan kejernihan pencarian identitas akan menemukan jalan pulangnya.
Daftar Pustaka
detikNews. (2025). Remaja, TikTok, dan Kesehatan Mental. Diakses dari https://news.detik.com/kolom/d-7725050/remaja-tiktok-dan-kesehatan-mental
Egi Regita, Nabilah Luthfiyyah, & Nur Riswandy Marsuki. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap Persepsi Diri Dan Pembentukan Identitas Remaja Di Indonesia. Jurnal Kajian Dan Penelitian Umum, 2(1), 46–52. https://doi.org/10.47861/jkpu-nalanda.v2i1.830
Mardiana. (2024). Hubungan Penggunaan Media Sosial Tiktok Terhadap Kesehatan Mental Remaja. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 6(1), 183–190.
RRI.co.id. (2024). Jumlah Pengguna TikTok Indonesia Semakin Melejit. Diakses dari https://www.rri.co.id/iptek/1071480/jumlah-pengguna-tiktok-indonesia-semakin-melejit







