Sungkawa Holy Land

Oleh : Ilman Mahbubillah

Jerit tangis terdengar, berlatar bengis dengan percikan meriam. Di tanah Maryam yang harusnya suci penuh kedamaian berubah lautan pedih dan mencekam. Bedebah! Merampas segala ketenteraman dengan hidup di tanah perjanjian, mencaplok petak demi petak setiap rumah peristirahatan. Hingga melenyapkan keadilan dari palsunya kemerdekaan. Naas, pembelaan hanya jadi bualan yang berserakan!

Garis demi garis mulai tersingkirkan, disadur tanpa belas-kasihan, ditempa mundur oleh kedok per-asuhan. Kembali diperdom oleh senjata yang penuh dentuman, juga kembali diperalat keniscayaan sebagai dalih setiap ketidak-berdayaan. Darah dan kematian seolah menjadi pesta perayaan, digenapi oleh suguhan raga tanpa sukma beralaskan tanah, diiringi nyanyian penindasan hingga menjadikannya meriah.

Puluhan tahun sejak berkibar bendera konflik bernama perang, berkobar api dengan segala seruan serang, hingga saling berkabar pada jutaan jiwa yang melayang. Para petinggi hanya berlomba mencari simpati, alih-alih merasa empati dan mencoba mengobati perihal rasa dan keprihatinan atas segala tragedi. Mereka justru mengambil untung dengan sabda antipati

Kedua pupil mata tak henti melantunkan doa, meski dalam sekejap mata todongan pistol sudah di kepala. Anggap saja setiap asa yang mengudara akan temukan muara meski dengan berbagai cara. Karena kini, bukit suci telah dinodai oleh kaki tangan paling keji, yang menganggap ia lebih tinggi sehingga berhak menginjak, menapak, dan menjarahi

Kini hanya aroma darah yang menyeruak di balik tembok ratapan, meski seakan perlawanan tak pernah berhenti sampai hari penghabisan. Segala harapan selalu meruncing sebagai ujung persenjataan, dan mengancing segala sudut ke-putus asahan. Pilihannya hanya dua; menjadi tumbal kuasa atau pemenang dari tirani meski dengan hiasan sumpah puputan semata

Pekat hitamnya langit menjadi tanya apakah ini pertanda pudarnya kesempatan? Dari segala ritual yang di-gaung kan seraya menunggu penyelamat di akhir zaman, tumpuan untuk menumpas sekian ketidak-adilan dan sekelumit perpecahan. Sebab tak guna menyeru pada manusia, media telah butakan jutaan sorot mata di perang abadi kota suci tiga agama

Kepada yang semoga dan terus mengiba, tetaplah mencoba walau akhirnya tetap sama, tapi bersua dan bersama di surga adalah janji pemilik singgasana. Tantang segala kutukan dan kutuk segala pantangan! Menerjang kemungkinan dan kematian sebagai batas takdir, hingga temui kepastian akan nirwana menjadi rumah terakhir.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp