
Oleh : Ilman Mahbubillah
Aku tak benar-benar tau, sebenarnya apa yang selalu kau panjatkan dalam doamu. Sebab setelah kuratapi kepergianmu, ternyata aku tidaklah kehilangan sesuatu; hanya saja raga yang dulu bersimpuh rapuh, kini tak lagi bersikukuh pada lantunan sendu. Ada yang berubah dari sudutku mengartikan sunyi yang bertamu; adakalanya menjadi irama pengobat rindu atau menjadi teman dalam perjalananku merelakan keputusanmu.
Kubuka lagi lembaran kurasi; tempatku menulis puisi, tapi kini bukan dari apa yang kuharap kembali, tapi dari perasaan yang akhirnya bisa kusyukuri. Tak lagi bercerita atas rasa yang dipaksa berhenti, cinta yang kau kremasi, dan duka yang selama ini kusimpan sendiri. Atas nama kesedihan yang tak pernah kau bagi, atas nama kepedihan yang kau sediakan untuk kutempati; maka akan kulewati setiap lembar-lembar elegi bersama mentari kala esok pagi.
Tulisan yang bernada kehilangan tak harus disembunyikan pada metafora kepalsuan. Dia hanya butuh kejujuran untuk mengungkapkan bahwa kekecewaan; bila diserahkan tidaklah menyakitkan, dia hanya memberi waktu padamu untuk penyembuhan. Namun sembuh pun tak selalu tentang melupakan, dia adalah dimensi perubahan pada makna kepedihan; awalnya diartikan pada penyesalan, kemudian berubah menjadi perayaan keikhlasan, pembawa kedamaian.
Pesan yang kukira tak kunjung tiba, ternyata ada pada waktu yang lima; bercengkerama dengan apa yang didamba jutaan manusia, menelanjangi rasa tanpa ada rasa iba. Kini semua sudah sampai pada tempatnya, layaknya laut tak melawan ombaknya, begitu pun doa pada pemilik suaka. Ternyata melepas cinta tak selalu identik pada luka, bisa saja ia tak lagi mengeluh pada apa yang sudah berlalu.
Pada akhirnya, prasasti harapan selalu siap untuk dijamu; entah bagaimana alurnya, kini akan kulibatkan Dia sebagai pemandu. Sajak peraduanku kini menjadi surat lintas waktu; sarana bagi dada yang beranjak dari pilu, tempat bagi bahagia setelah kelam berlalu. Rima dari puisiku kini menjadi surat lintas waktu; perasaan yang bisa diziarahi dengan selaksa rindu, bukan untuk bertamu, tapi bekal bagi kehidupan yang baru.