The Duality of Man
Oleh Nazar Junio

Coba kamu perhatikan gambar di atas baik-baik. Di sana terlihat patung perunggu sosok bertubuh manusia tetapi memiliki kepala dan tanduk melengkung besar khas banteng. Posisinya meringkuk penuh keraguan, dengan kedua tangan yang terbuka rendah dan gestur tubuh yang tampak begitu mendalam. Pada patung ini, kesan merenung dan berpikir itu makin terasa kuat saat kamu melihat jemari tangannya yang sedikit terangkat, seakan-akan ragu ingin menyentuh tanduknya sendiri, seolah ia sedang heran dan bertanya pada dirinya tentang wujud asli yang ada pada tubuhnya.
Patung ikonik ini berjudul Minotaur karya pematung asal Spanyol bernama Pedro Requejo Novoa yang dibuat pada tahun 1990 dan berlokasi di Madrid, Spanyol. Hasil karya ini bukan sekadar menampilkan makhluk mitologi Yunani kuno, melainkan menjadi cermin visual tentang the duality of man, yaitu dua sisi yang saling bertolak belakang tetapi hidup bersama di dalam diri manusia. Pose bingung dan jemari yang hendak menyentuh tanduknya itu menggambarkan pergolakan batin kita sebagai manusia yang sering kali kaget atau bingung dengan sisi liar di dalam diri sendiri.
Secara alami, kita semua dibesarkan dan diajarkan untuk menjadi pribadi yang sabar, baik, tenang, dan bisa mengendalikan emosi. Namun dalam perjalanan hidup sehari-hari, ujian sering kali datang tanpa diduga. Saat rasa takut, stres, amarah, atau rasa terancam datang menghampiri, sisi impulsif dan emosional di dalam diri bisa mendadak keluar mengambil alih. Seseorang yang biasanya sangat lembut dan penyayang sekalipun bisa saja berubah menjadi sosok yang sangat keras atau tegas dalam situasi tertentu.
Jika ditarik ke dalam nilai-nilai Islam, pergolakan batin dan sifat tidak konstan ini terasa sangat relevan dengan fitrah manusia. Islam mengajarkan bahwa kondisi iman manusia itu memang tidak selalu berada di atas, melainkan bersifat naik dan turun (al-iimaanu yazid wa yanqus). Ada kalanya saat iman kita sedang naik, jiwa terasa sangat tenang (muthmainnah), hati merasa dekat dengan Sang Pencipta, dan kita begitu mudah tergerak untuk berbuat kebaikan. Sebaliknya, saat iman sedang menurun, hati terasa berat, godaan hawa nafsu (al-ammarah bis-suu’) terasa lebih dominan, dan kita berada di posisi ragu, bingung, atau hilang arah.
Dalam rutinitas harian, kadang kita berada di fase yang sangat sadar akan tujuan hidup, tetapi di hari lain kita bisa merasa linglung, hilang fokus, dan sulit membedakan mana yang terbaik. Memiliki rasa bingung, emosi, atau sisi rumit seperti itu bukan berarti menjadikan kita orang jahat atau monster. Hal tersebut justru membuktikan bahwa sifat dasar manusia memang sangat kompleks dan tidak pernah sekadar hitam atau putih.
Sisi ‘banteng’ yang emosional atau naluriah itu mungkin akan selalu ada di dalam diri kita. Namun, ajaran untuk selalu muhasabah atau berintrospeksi diri serta melatih kendali hawa nafsu memberi kita petunjuk jalan keluar. Kebijaksanaan sejati seorang hamba bukan diukur dari kesempurnaan yang tanpa cela, melainkan dari keberaniannya untuk terus sadar, bangkit, dan memilih kembali ke jalan yang baik di tengah riak naik turunnya kondisi iman. Tanduk gejolak emosi itu boleh saja ada, tetapi kendali untuk melangkah menuju kebaikan tetap berada di tangan kita sendiri.