Tidak Semua Hal Harus Kita Persoalkan

Tidak Semua Hal Harus Kita Persoalkan

Oleh Alvian Izzul Fikri

 

Pernahkah kita merasa kesal karena teman yang berjanji datang tepat waktu ternyata terlambat? Atau seseorang yang meminjam barang lupa mengembalikannya? Bisa juga tetangga yang tanpa sengaja melakukan sesuatu sehingga membuat kita kurang nyaman. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali memancing emosi. Namun, tidak semua hal harus kita persoalkan. Terkadang, kita memilih untuk menahan diri, memaklumi, dan membiarkannya berlalu begitu saja.

Lalu, apakah sikap seperti itu merupakan bentuk kedewasaan, atau justru membuat orang lain merasa bebas mengulangi kesalahannya? Menurut keyakinan saya, jawaban itu bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Sebab, ada hal-hal yang memang perlu ditegur, tetapi ada pula yang lebih baik dibiarkan berlalu.

Saya teringat salah satu penjelasan dalam kitab “rasail minatat tabiin” karya Adham Syarqawi, pada bagian yang berjudul 

مَنْ أَكْثَرَ التَّدْقِيق حُرِمَ التَّوْفِيق

Dalam kutipan ini disebutkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang tidak terlalu memperinci setiap persoalan, baik besar maupun kecil, ketika berhubungan dengan keluarga, teman, orang-orang yang dicintai, dan tetangganya.

Pesan ini sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita. Terkadang, masalah bukan terletak pada kesalahan orang lain, melainkan pada cara kita menyikapi kesalahan tersebut. Kita terlalu sibuk menganalisis setiap tindakan, memikirkan setiap perkataan, bahkan mencari-cari maksud di balik sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Akibatnya, hati menjadi mudah gelisah, hubungan menjadi renggang, dan persoalan kecil berubah menjadi pertengkaran panjang. Padahal, bisa jadi orang lain tidak memiliki maksud buruk sama sekali. Mereka hanya manusia biasa yang sesekali melakukan kesalahan, lupa, atau kurang berhati-hati.

Tentu saja, tidak mempermasalahkan sesuatu bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Ada persoalan yang memang harus dibicarakan, terutama jika menyangkut hak orang lain, tanggung jawab, atau kesalahan yang terus berulang dan merugikan. Namun, kita perlu belajar membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sekadar mengusik perasaan sesaat.

Ada kalanya, respons terbaik justru tidak memberikan respons apa pun. Bukan karena kita tidak mampu membalas, melainkan karena kita memahami bahwa ketenangan hati dan keutuhan hubungan jauh lebih berharga daripada memenangkan perdebatan kecil.

Pada akhirnya, hidup bersama orang lain membutuhkan kelapangan hati. Kita ingin dimaklumi ketika melakukan kesalahan, maka kita pun perlu belajar memaklumi kesalahan orang lain. Jangan sampai keinginan untuk selalu benar justru membuat kita kehilangan kedamaian dan orang-orang yang berharga dalam kehidupan kita.

Sebab, tidak semua hal harus dipersoalkan. Terkadang, kebijaksanaan bukan terletak pada kemampuan kita menemukan kesalahan orang lain, melainkan pada kemampuan menentukan kesalahan mana yang perlu diluruskan dan mana yang cukup dimaafkan. Terlalu banyak mempermasalahkan hal-hal kecil bisa membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar, baik itu berupa ketenangan, keharmonisan didalam pertemanan, persahabatan apalagi perasmaraan. Wallahu alam bisshawab.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp