![]() |
Sumber Gambar : https://www.pexels.com/id-id/ |
Oleh: M. Ikhsan Kamaluzaman
Salah satu dari sekian banyak bahasa di dunia, bahasa Arab memiliki
keistimewaan dan kedudukan yang mulia sampai era saat ini. Komunikasi dengan
bahasa ini masih eksis sejak 16 abad yang lalu dan keutamaan bahasa ini karena
menjadi bahasa kitab suci Al Quran yang di dalamnya dititipkan syariat agama
islam yang kekal. Selain itu bahasa ini menjadi bahasa untuk bangsa Arab dalam
urusan ekonomi, politik, dan kebudayaan mereka sampai dijadikan bahasa ini
sebagai bahasa resmi PBB yang kita peringati setiap tanggal 18 Desember tiap
tahunnya.
Pembelajaran bahasa Arab menjadi salah satu hal yang menjadi wajib
bagi setiap pembelajar studi Islam khususnya di Indonesia. Karena bahasa Arab
menjadi syarat untuk memahami studi Islam secara komperehensif. Akan tetapi
faktanya, alumni madrasah Aliyah dan yang setaranya tidak menguasai bahasa Arab
dengan baik, sekalipun ada itu hanya sedikit sekali. Itupun mereka yang ikut
les bahasa Arab atau tinggal di pondok pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa
masih banyak terjadi permasalahan dan problematika dalam pembelajaran bahasa
Arab baik di tingkat Aliyah bahkan di tingkat universitas sekalipun.
Menteri Agama Indonesia ke 12 Prof. Dr. Mukti Ali pernah mengatakan
bahwa mahasiswa Islam Indonesia masih sangat lemah dalam metodologi berfikir
dan kemampuan berbahasa asing khususnya bahasa Arab. Ada 3 jenis tempat untuk
belajar bahasa Arab : 1. Pembelajaran intensif yang dilakukan di kampus bahasa
atau kampus keislaman yang memiliki jurusan bahasa Arab 2. Pembelajaran reguler
dan klasik yang dilakukan di pondok pesantren 3. Pembelajaran reguler hanya
pada waktu tertentu yang dilaksanakan di sekolah islam mulai sejak madrasah
ibtidaiyah sampai madrasah Aliyah.
Dari ketiga golongan tersebut melahirkan 2 jenis pelajar bahasa
Arab. Pertama, pelajar yang menguasai bahasa Arab baik secara bacaan,
pendengaran, bicara, dan kepenulisan. Kedua, pelajar klasik mereka menguasai
bahasa secara pasif karena mampu membaca teks arab namun tidak mampu berbicara
atau mengkomunikasikannya, padahal bahasa adalah menunjukkan kemampuan
berbicara bahkan bahasa itu sendiri ya berbicara. Adapun pelajar reguler dengan
mempelajari banyak mata pelajaran pada waktu yang bersamaan tidak menghasilkan
output apapun dan tidak menjadikan mereka menguasai satupun dari keterampilan
bahasa. Ini yang biasa terjadi di sekolah ibtidaiyah, tsanawiyah, Aliyah,
bahkan di perguruan tinggi.
Hal demikian bisa terjadi karena banyak faktor. Diantaranya karena
faktor eksternal seperti ketiadaan bantuan lingkungan masyarakat, kurangnya
kompetensi guru, ketiadaan materi pembelajaran yang cocok, atau tiadanya media
pembelajaran yang memadai. Namun berbeda bagi Mustofa Fahmi, ia mengatakan
bahwa faktor utama dari kesuksesan pembelajaran adalah minat, motivasi,
orientasi, norma kemasyarakatan dan etika, kegelisahan personal, ekspektasinya,
dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.
Menciptakan lingkungan berbahasa adalah salah satu upaya riil untuk
memperbaiki pembelajaran bahasa Arab yang ada di Indonesia, oleh karena itu
Basyiri menjelaskan ada 11 strategi untuk menciptakan lingkungan berbahasa untuk
pembelajaran bahasa Arab :
1.
Membangun
asrama pelajar. Memfokuskan mereka pada satu tempat yang sama memudahkan para
pengawas bahasa untuk membiasakan mereka berbahasa bahkan di luar jam belajar.
2.
Menentukan
tempat non berbahasa. Misalnya ketika mereka berada di kantin atau kantor
sekolah.
3.
Adakan
setiap kegiatan dengan berbahasa. Ketika acara wisuda misalnya maka semua petugas
harus menyampaikannya dengan berbahasa agar para pelajar terbiasa untuk
mendengarkan dan berbicara di acara acara resmi mereka.
4.
Adakan
pembelajaran bahasa intensif. Waktu liburan adalah waktu yang tepat untuk
mengadakan pembelajaran bahasa intensif, dengan focus pada satu tema diharapkan
bisa menumbuhkan kemampuan berbahasa dengan cepat.
5.
Adakan
kegiatan ekstrakulikuler berbahasa. Dalam 1 bulan adakan perlombaan baca
berita, menyanyi, debat, dan bercerita dengan berbahasa agar mereka semakin
dekat dengan bahasa namun dengan cara yang lebih bervariasi dan tidak membuat
mereka jenuh
6.
Latih
para pelajar dengan membuat jadwal ceramah berbahasa setiap selesai sholat
jamaah.
7.
Siapkan
macam macam literatur bahasa Arab di perpustakaan. Bisa berupa kitab fiqh, tasawuf,
akhlak, dan sebagainya agar para pelajar semakin kaya dengan pembendaharaan
kosa kata bahasa Arab.
8.
Fasilitasi
majalah berbahasa Arab untuk para pelajar berkreasi menulis. Dengan itu mereka
yang lebih senang menulis akan tersalurkan bakat mereka untuk mengekpspresikan
diri mereka.
9.
Fasilitasi
pengumuman dan informasi dengan bahasa, bahkan setiap papan pemberitahuan
ditulis dengan bahasa Arab agar pelajar semakin akrab dengan bahasa Arab.
10.
Biasakan
pelajar dengan memperdengarkan kepada mereka berita Arab langsung dari timur
tengah dan juga ceramah para ulama timur tengah agar mereka terlatih untuk
mengucapkan bahasa dengan dialek timur tengah.
11.
Bekerja
sama dengan guru agama agar menyampaikan materi dengan bahasa Arab yang mudah
difahami.
Rujukan:
Halimi Zuhdy, Al Biah Al Lughawiyah Takwinuha Wa
Dauruha Fi Iktisabil Lughah, UIN Maliki Press, Malang, 2017







