45 Hari di Racii-Bagian 8: Jeda

Oleh: NabilaF

Setelah rentetan agenda yang padat berpuncak pada rapat kolaborasi yang cukup menguras pikiran bersama kawan-kawan IPNU IPPNU malam sebelumnya, dua hari berikutnya berjalan dalam tempo yang jauh lebih lambat. Hari kedelapan dan kesembilan di Desa Raci seolah menjadi oase kecil di tengah linimasa KKN kami yang perlahan mulai memadat. Tidak ada seremonial resmi, tidak ada kepanikan acara, dan tidak ada panggung untuk ditaklukkan. Yang ada hanya ritme keseharian yang hangat, perut yang dimanjakan jajanan desa, serta percakapan-percakapan ringan yang makin merekatkan kami belasan orang di bawah satu atap.

Memasuki hari kedelapan, posko kami benar-benar diselimuti atmosfer santai yang menenangkan. Pagi hari diawali dengan tugas piket rutin yang kini dikerjakan tanpa banyak komando. Dapur posko mengeluarkan aroma nasi goreng sederhana buatan tim konsumsi, sementara deru mesin cuci dan tumpukan jemuran baju di halaman belakang menjadi pemandangan biasa yang tak lagi asing. Usai urusan posko beres, sebagian dari kami memilih meluruskan punggung di ruang tengah, sebagian lagi sibuk berbincang atau menyelesaikan tugas kuliah masing-masing.

Highlight terbesar di hari kedelapan ini justru terletak pada petualangan sederhana kami: berburu jajanan lokal. Setelah seminggu lebih menginjakkan kaki di Desa Raci, kami mulai hafal jam-jam berapa saja para pedagang jajanan melintasi gang depan posko atau mangkal di persimpangan jalan desa.

Sore harinya, saat angin sepoi-sepoi berhembus menyejukkan teras, ide berburu camilan pun tercetus secara mendadak. Pilihan pertama jatuh pada cipuk, jajanan khas berbahan dasar aci dan kerupuk yang digoreng garing lalu ditaburi bumbu tabur pedas gurih. Keberadaan pedagang cipuk di pinggir jalan desa langsung menjadi serbuan anak-anak posko. Suara gigitan renyah cipuk hangat yang dinikmati bersama di teras posko sukses menjadi pereda lelah dan pelebur suasana yang sangat ampuh.

Tak berhenti di situ, urusan per-pentolan yang sempat heboh di acara IPPNU beberapa hari lalu ternyata masih berbuntut panjang. Rasa penasaran dan ketagihan anak-anak posko terhadap pentol khas desa ini rupanya belum tuntas. Kali ini, Winda yang kebetulan sedang ada urusan keluar posko mendadak menjadi pahlawan dan sasaran empuk titipan bagi kami semua.

“Win! Mumpung kamu lagi di luar, sekalian nitip pentol dong!” teriak salah satu dari kami saat Winda baru saja hendak memanaskan mesin motornya di halaman.

“Boleh, boleh! Mau pentol apa nih? Pentol kuah apa pentol goreng bumbu kacang?” sahut Winda ramah dari atas motor sambil membetulkan posisi helmnya.

Daftar titipan pun mengular seketika. Masing-masing dari kami menyebutkan porsi dan tingkat kepedasan yang diinginkan. Tak berapa lama, Winda kembali ke posko membawa beberapa kantong plastik penuh berisi pentol panas berkuah pedas dan pentol goreng bumbu kacang yang aromanya langsung memenuhi ruang tengah. Sesi sore itu berubah menjadi festival jajanan kecil-kecilan. Kami duduk melingkar di atas karpet, saling melempar cipuk, mengunyah pentol hasil titipan ke Winda, sambil menonton tayangan lucu dari ponsel yang dihubungkan ke pengeras suara. Hari kedelapan ditutup dengan kepuasan sederhana, sesederhana perut kenyang, tawa lepas, dan tidur malam yang sangat nyenyak.

Menyeberang ke hari kesembilan, suasana santai itu masih berlanjut dengan mulus. Pagi hingga siang hari berlalu seperti mengalir begitu saja tanpa beban. Namun, sebagai kelompok yang sudah harus bersiap mengeksekusi rangkaian program kerja di minggu kedua, kami tidak bisa benar-benar “lepas tangan” dari urusan tanggung jawab kampus.

Sore menjelang malam di hari kesembilan, alih-alih menggelar rapat formal yang kaku dengan laptop terbuka dan deretan slide presentasi, kami memilih mode diskusi yang jauh lebih santai: “bincang-bincang tipis”. Di teras depan posko yang kini resmi menjadi tempat favorit untuk berkumpul, Guz, Mpus, Mba Bil, aku, serta seluruh anggota kelompok duduk selonjoran sambil menyeduh kopi hitam dan teh hangat manis.

Bincang-bincang tipis ini berjalan sangat mengalir dan tanpa tekanan. Mba Bil membuka catatan linimasa proker hasil kesepakatan rapat dengan kawan-kawan IPNU IPPNU kemarin, lalu menyampaikannya secara santai kepada seluruh anak posko agar semua memiliki gambaran yang sama.

“Jadi mulai minggu depan kita udah harus siap-siap masuk tahap persiapan lapangan ya, Rek. Jadwalnya udah kita susun rapi sama kawan-kawan IPNU IPPNU, jadi perlengkapan sama divisi yang bertugas bisa mulai diatur dari sekarang,” ujar Mba Bil sambil menunjukkan catatan di ponselnya.

Sebagai bendahara, peranku ikut menyela dengan nada santai namun memberikan kepastian, “Untuk dana kas kelompok juga masih aman banget kok, gais. Pengeluaran minggu pertama kemarin bisa kita tekan berkat hematnya tim konsumsi pas belanja sayur. Jadi kalau ada divisi yang butuh dana awal buat beli bahan atau piala proker minggu depan, bisa langsung koordinasi sama aku.”

Mpus memberikan beberapa masukan teknis mengenai pembagian personil di lapangan agar tidak ada anggota yang terlalu lelah atau menganggur, sementara Guz mematangkan garis koordinasi dengan pihak kantor desa dan tokoh masyarakat. Meskipun judulnya hanya bincang-bincang tipis tanpa formalitas meja rapat, diskusi santai di teras malam itu berjalan sangat efektif. Semua isi kepala berada di frekuensi yang sama, tanpa ada rasa tertekan atau cemas berlebihan.

Dua hari ini, hari kedelapan dan kesembilan mungkin tidak memiliki kejutan besar, konflik dramatis, atau cerita heroik untuk dituturkan di lembaran novel. Namun, justru dari hari-hari biasa yang terkesan mengalir tanpa beban seperti inilah, pondasi kekeluargaan kami kian kokoh terbentuk. Diantara renyahnya cipuk, gurihnya pentol titipan Winda, tawa renyah di ruang tengah, dan obrolan proker yang hangat di teras, kami makin sadar bahwa 45 hari di Desa Raci bukan cuma soal menuntaskan kewajiban akademis, melainkan tentang bagaimana kami belajar menikmati setiap detik kebersamaan dengan orang-orang baru yang kini sudah terasa seperti keluarga sendiri.

bersambung… 

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp