ORANG YANG TIDAK PERNAH ADA
Oleh Silvia Izzatul Maula
Sudah tiga hari terakhir, Dina merasa ada sesuatu yang aneh di rumahnya.
Setiap pagi, dia selalu menemukan secangkir teh di atas meja ruang tengah.
Padahal, sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, hanya Dina dan ibunya yang
tinggal di rumah itu. Ibunya juga tidak pernah membuat teh karena lebih suka minum
kopi.
Awalnya Dina mengira ibunya yang membuatnya. Namun, ketika ditanya, ibunya
selalu memberikan jawaban yang sama.
“Ibu nggak bikin teh. Mungkin kamu lupa sudah membuatnya sendiri.”
Dina merasa tidak mungkin lupa. Dia bahkan tidak terlalu suka minum teh.
Pada hari keempat, kejadian aneh itu terulang lagi. Kali ini, bukan hanya secangkir
teh yang ditemukan, tetapi juga sepiring roti di sampingnya.
Dina mulai merasa penasaran.
Malam itu, sebelum tidur, dia sengaja tidak membereskan meja ruang tengah. Dia
ingin memastikan apakah ada seseorang yang masuk ke rumah ketika semua orang
sudah tidur.
Pagi harinya, meja itu kembali rapi. Cangkir teh sudah berada di tempatnya, lengkap
dengan sepiring roti.
Dina langsung menghampiri ibunya.
“Bu, sebenarnya siapa yang bikin ini?”
Ibunya yang sedang menyapu lantai berhenti sejenak.
“Sudah Ibu bilang, bukan Ibu.”
“Terus siapa? Masa ada orang masuk rumah?”
Ibunya tidak menjawab. Dia hanya meminta Dina untuk tidak terlalu memikirkan hal
tersebut.
Namun, jawaban itu justru membuat Dina semakin penasaran.
Sore harinya, Dina memeriksa seluruh bagian rumah. Dia melihat pintu belakang,
jendela dapur, sampai kamar kosong yang sudah lama tidak digunakan.
Tidak ada yang terbuka. Semua terkunci dengan baik.
Ketika sedang memeriksa kamar kosong, Dina menemukan sebuah foto keluarga di
dalam laci. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, ketika ayahnya masih hidup.
Dalam foto tersebut, ada ayah, ibu, dan Dina yang sedang tersenyum di depan
rumah.
Namun, Dina memperhatikan sesuatu yang membuatnya terdiam.
Di belakang mereka ada seorang anak laki-laki kecil yang sedang berdiri.
Dina tidak mengenal anak itu.
Dia membawa foto tersebut ke ruang tengah dan menunjukkannya kepada ibu.
“Bu, ini siapa?”
Ibunya melihat foto itu cukup lama. Wajahnya berubah, tetapi dia segera mengambil
foto tersebut dari tangan Dina.
“Sudah, jangan dibahas.”
“Kenapa? Aku cuma tanya.”
“Ibu bilang jangan dibahas!”
Dina terkejut mendengar ibunya berbicara dengan nada setinggi itu. Selama ini,
ibunya jarang sekali marah kepadanya.
Malam itu mereka tidak banyak berbicara.
Dina kembali memikirkan anak laki-laki dalam foto tersebut. Dia mencoba mengingat
apakah pernah memiliki saudara laki-laki, tetapi tidak ada satu pun ingatan yang
muncul.
Keesokan paginya, Dina mencari foto itu lagi. Namun, foto tersebut sudah tidak ada
di tempatnya.
Dia akhirnya bertanya kepada ibunya, tetapi ibunya hanya mengatakan bahwa foto
itu sudah dibuang karena sudah rusak.
Dina tidak percaya begitu saja.
Beberapa hari kemudian, saat sedang membereskan lemari lama ayahnya, Dina
menemukan sebuah buku catatan kecil. Sampulnya sudah kusam dan beberapa
halamannya mulai terlepas.
Dia membuka halaman pertama.
Di sana tertulis nama ayahnya dan tanggal beberapa tahun yang lalu.
Dina membaca beberapa halaman. Isinya sebagian besar tentang pekerjaan dan
kegiatan sehari-hari. Sampai pada satu halaman, dia menemukan tulisan yang
berbeda.
“Dina masih sering bertanya tentang kakaknya. Kami belum tahu bagaimana
menjelaskan semuanya. Semoga suatu hari nanti dia bisa mengerti.”
Dina membaca kalimat itu berulang kali.
Kakaknya?
Selama ini, dia selalu mengira dirinya anak tunggal.
Dengan perasaan bingung, Dina membawa buku itu kepada ibunya.
“Bu, aku punya kakak?”
Ibunya tidak langsung menjawab. Dia duduk di kursi, lalu meminta Dina duduk di
sebelahnya.
Setelah beberapa saat, ibunya mulai bercerita.
Sebenarnya, Dina pernah memiliki seorang kakak laki-laki bernama Dimas. Mereka
hanya terpaut beberapa tahun. Ketika masih kecil, Dina sangat dekat dengannya.
Mereka sering bermain bersama dan hampir selalu menghabiskan waktu di rumah.
Namun, suatu hari Dimas mengalami kecelakaan ketika sedang pergi bersama
ayahnya. Dimas meninggal dunia, sedangkan ayahnya berhasil selamat.
Saat itu Dina masih sangat kecil. Dia terus bertanya kapan kakaknya akan pulang.
Karena tidak tega melihat Dina terus menangis, kedua orang tuanya perlahan
berhenti membicarakan Dimas. Foto-fotonya disimpan, barang-barangnya
dipindahkan, dan nama Dimas semakin jarang disebut.
Lama-kelamaan, Dina tumbuh tanpa banyak mengetahui bahwa dia pernah memiliki
seorang kakak.
“Kenapa Ibu nggak pernah cerita?” tanya Dina.
Ibunya mengusap wajahnya.
“Ibu cuma nggak mau kamu terus sedih. Waktu itu kamu masih kecil dan belum
mengerti apa-apa.”
Dina terdiam. Dia mencoba menerima cerita yang baru saja didengarnya.
Lalu, dia teringat secangkir teh yang selalu muncul setiap pagi.
“Terus, siapa yang bikin teh di meja setiap pagi?”
Ibunya terlihat bingung.
“Teh apa?”
Dina menceritakan semuanya. Tentang cangkir, roti, dan meja yang selalu rapi
setiap pagi.
Ibunya mendengarkan tanpa menyela.
Setelah Dina selesai bercerita, ibunya menarik napas panjang.
“Dina, Ibu memang tidak pernah membuat teh di pagi hari. Tapi sejak kamu kecil,
kamu punya kebiasaan menyiapkan dua cangkir setiap kali membuat minuman.”
Dina mengerutkan dahi.
“Dua cangkir?”
“Iya. Satu untuk kamu, satu lagi untuk kakakmu. Dulu Ibu sering menemukan dua
cangkir di meja. Ibu kira kebiasaan itu sudah hilang.”
Dina tidak langsung menjawab.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Ada satu bagian dari masa kecilnya yang selama ini
terasa samar. Dia sering duduk di ruang tengah sambil berbicara sendiri, seolah
sedang menemani seseorang.
Dina menunduk dan melihat kedua tangannya.
Pagi itu, dia baru menyadari bahwa selama ini ada banyak hal tentang masa
kecilnya yang tidak pernah dia pahami.
Sejak percakapan tersebut, tidak ada lagi cangkir teh yang muncul dengan
sendirinya. Dina juga tidak lagi menemukan roti di atas meja.
Beberapa hari kemudian, dia meminta ibunya mengeluarkan kembali foto-foto lama
Dimas. Mereka melihatnya bersama sambil sesekali membicarakan kenangan yang
masih diingat ibu.
Dina tidak tahu apakah semua kejadian sebelumnya hanya kebetulan atau bagian
dari ingatan masa kecil yang perlahan muncul kembali.
Namun, ada satu hal yang akhirnya dia pahami.
Terkadang, sesuatu yang tidak pernah dibicarakan bukan berarti tidak pernah terjadi.
Ada kenangan yang sengaja disimpan terlalu lama, sampai orang-orang yang
seharusnya mengingatnya justru hampir melupakannya.
Dan sejak hari itu, Dina tidak lagi merasa aneh ketika melihat dua cangkir di atas
meja.
Satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk seseorang yang pernah menjadi bagian dari
hidupnya.