Pesantren
Darun Nun mengirimkan 2 delegasi yaitu
Bella dan Hariski untuk mengikuti Pelatihan Konselor
Pesantren Ramah Santri yang diadakan oleh Pengurus Wilayah (PW) Rabithah
Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jatim bekerja sama dengan Dewan
Pimpinan Wilayah (DPW) Perempuan Bangsa Jatim untuk membentuk satgas pesantren
ramah santri. Tujuan diadakanya pelatihan ini ialah
dalam rangka menjaga marwah pesantren dan menunjukkan respon positif Pesantren
NU menghadapi berbagai isu yang berkembang.
Acara
diadakan di PP. Al Ittihad, Belung, Poncokusumo, Kabupatan Malang. Dimulai pada
Jum’at 14/10/2022 Pukul 13.00 WIB
hingga sabtu 15/10/2022 pukul 15.30
WIB. Pelatihan berjalan dengan lancar mulai awal hingga akhir acara.
Alhamdulillah acara dapat dihadiri oleh ketua PW RMI NU JATIM KH. Iffatul Latoif, Kepala Pelaksana BPBD Jatim Budi Santosa, Direktur Rumah Sakit Saiful Anwar Kota
Malang, dan pejabat lainya. Walaupun dihari kedua,
paginya sudah hujan deras, namun tidak melunturkan semangat para peserta mengikuti
acara. Yang mana kita menganggap hujan pertanda bahwa Allah mengguyurkan rahmat–Nya.
Hari
Pertama, Acara secara resmi dibuka
oleh ketua RMI Kab. Malang yaitu Dr. H. Agus Ikhwan
Mahmudi, M.Si. Kemudian dilanjutkan dengan
bina suasana dan kontrak belajar.
Prolog disampaikan oleh ketua DPW Perempuan Bangsa Jatim, Ibu
Hikmah Bafaqih “Santri yang menjadi pengurus terutama harus belajar
tentang manajemen kasus ala pesantren. Bagaimana membangun jaringan dengan
dunia luar, Apa yang harus dibangun agar dua prioritas utama yaitu menjaga
marwah pesantren sekaligus berpihak kepada kepentingan terbaik korban itu
betul-betul dilaksanakan. Hikmah tidak ingin kasus-kasus seperti di Jombang,
Banyuwangi, Gontor itu terulang lagi”
Beliau mengajak kepada semua
peserta untuk menjadi benteng pertama bagi pesantren masing-masing agar
kasus-kasus yang sempat viral tentang pesantren tidak terulang lagi. Untuk
itulah peseta akan diberi materi terkait dengan bagaimana memanajemen masalah
yang ada di pesantren, Mulai dari kasus bullying, kekerasan seksual, tidak
nyamanya santri di pondok dan lain-lain.
Setelah
itu, mulai masuk materi pertama yakni
masalah dan respon, dimana peserta
diberi materi mengenai masalah-masalah yang sering terjadi di Pesantren.
Kemudian dibentuklah
kelompok untuk melakukan Forum
Grub Discusion ( FGD), yang mana setiap kelompok diberi satu permasalahan dan
disuruh oleh mentor
menemukan sebab, dan cara menanggulanginya. Setelah FGD selesai barulah semua
peserta bisa istirahat.
“Logika tidak akan jalan tanpa logistik”
begitulah adagium yang begitu masyhur di kalangan mahasiswa. Maka waktu siang hari, dan sore
hari peserta mendapatkan waktu untuk
ishoma (istirahat, sholat, makan).
Alhamdulillah makanan yang diberikan sangat
lezat dan bergizi. Apalagi
para peseta adalah dari pesantren semua, yang mana notabenya makan enak mungkin
jarang. Makanan sudah disediakan oleh panitia, mulai
dari opor ayam, Soto, Rawon, dan ayam plus telur asin. Para peserta sangat senang sekali, walaupun materi
yang disampaikan tergolong banyak tetapi tetap dapat diikuti dengan serius
karena perut dalam keadaan terisi.
Hari
kedua, Matahari tidak menampakkan keceriaanya. Hujanlah yang menjadi
penyebabnya. Hingga sekitar 08.15
WIB, para peserta baru memasuki forum lagi. Dimana dihari
kedua, peserta mendapatkan materi lagi terkait dengan:
Teori relasi kuasa dan identitas gender, manajemen kasus di pesantren, problem
solving dan coaching clinic dan ditutup dengan RTL. Dimana hampir setiap ba’da
materi disampaikan, kita kemudian FGD lagi
dengan permasalahan-permasalahan yang sering terjadi di pondok.
Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari
kegiatan pelatihan ini adalah peserta diminta membentuk struktural satgas yang
tentu dengan izin pengasuh pesantren masing-masing. Setelah satgas terbentuk
nantinya akan ada pengayaan dari mentor yang mana akan diadakan secara virtual
melalui aplikasi zoom meeting. Untuk materi yang perlu diperdalam lagi sesuai
dengan permintaan para peserta yaitu terkait dengan problem solving. Kemudian
Closing Statement diberikan kembali oleh Ibu Hikmah yang mana intinya beliau
memberi amanah kepada seluruh peserta. Amanahnya yaitu untuk mengshare ilmu
yang didapatkan kepada pengurus pondok yang terpilih menjadi anggota satgas.
Tujuanya yaitu agar semua pengurus paham terkait dengan manajemen masalah yang
terjadi di pesantren.
Sebelum acara ditutup, ada
sesi pembaiatan seluruh peserta diklat oleh Dr. H. Agus Ikhwan Mahmudi, M.Si, kemudian mushafahah bersama semua pengurus pondok Al-Ittihad dan para
mentor. Acara ditutup secara resmi kembali oleh Dr. H. Agus Ikhwan
Mahmudi, M.Si, dilanjut dengan pembacaan doa dan diamini oleh semua
orang yang hadir. Tidak lupa juga selalu generasi gen
Z, tidak meninggalkan kebiasaan usai acara
yaitu foto bareng. Dengan
menggunakan rompi satgas dan membawa sertifikat yang telah diberikan, para
peserta foto bersama Pengurus PP. Al Ittihad dan mentor. Semoga
ilmu yang didapatkan
menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah.
Malang, 18 September
2022
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







