Oleh: Astri Liyana
Judul buku: Biografi Imam Syafi’i Kisah
Perjalanan dan Pelajaran Hidup Sang Mujtahid
Penerbit: Zaman
Pengarang: Dr. Tariq Suwaidan
ISBN: 978-602-1687-39-0
Halaman: 329 halaman
Tahun: 2007
Imam Syafi’i merupakan salah seorang imam
besar dalam mazhab Fiqih. Ia lahir di Ghaza, pada tahun 150 Hijriah, bertepatan
dengan wafatnya seorang pendiri mazhab Hanafi, yakni imam Abu Hanifah, keduanya
merupakan imam besar yang keilmuannya sangat berpengaruh dalam peradaban islam.Ia
memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas Ibn Utsman
Ibn Syafi’i Ibn Al-Sa’ib Ibn Ubaid Ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Muthallib ibn
Abdi Manaf.Nama Imam Syafi’i sendiri dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama
Syafi’i ibn al-Sa’ib.
Jika ditelaah lebih lanjut, Imam Syafi’i
memiliki nasab yang bersambung hingga ke Rasulullah SAW. Yakni dari Abdi Manaf.
Sehingga, beliau juga termasuk dalam keturunan al-Muththalib, saudara dari
Hasyim yang tak lain adalah kakek Nabi Muhammad SAW. dengan demikian, Imam
Syafi’i dapat dikatakan sebagai keturunan Arab asli, karena ia masih termasuk
dalam Bani Muththalib. Karena kemuliaan nasabnya Imam Syafi’i, hingga
diabadikan dalam syair berikut :
نسب كأنّ عليه من شمس الضحى #
نورا و من خلق المصباح عمودا
ما فيه ألاّ سيد من سيد #
حاز المكارم و التقى و الجودا
Nasabnya seakan disinari mentari pagi
Dan menjadi tiang bagi lentera
Di dalamnya hanya ada para pemuka
dan putra para pemuka
Yang terhormat, mulia, dan bertakwa.
Imam Syafi’i merupakan putra dari Idris,
seorang bapak keturunan Quraisy yang berasal dari Tabalah. Sedangkan ibunya
berasal dari Azad, salah satu kabilah bangsa Arab yang masih murni. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa imam Syafi’i memiliki garis keturunan bangsa
Arab Murni. Namun, di balik garis keturunannya yang baik, Imam Syafi’i sudah
kehilangan ayahnya ketika ia masih dalam buaian sang ibu, tanpa meningggalkan
harta sedikitpun untuk diwarisi.
Walaupun Imam Syafi’i tumbuh dalam keadaan
yatim dan keluarga yang miskin, itu tidak menjadi alasan ia untuk berhenti belajar
dan mengenyam pendidikan. Karena ia sang ibu sangat telaten dalam mendidiknya,
serta memiliki pengarus yang besar dalam membentuk dan membina kepribadiannya.Beliau
adalah seorang ibu yang taat beribadah serta cerdas. Sehingga tak heran, ia
melahirkan seorang anak yang cerdas pula. Pencapaian-pencapaian yang telah
diraih oleh Imam Syafi’i tidak lepas dari peran sang ibu yang luar biasa. Terutama
peran ibu sebagai madrasah pertama bagi sang anak.
Di samping itu, menjadi seorang single
parent tidaklah mudah, ia harus menjadi ayah serta ibu sekaligus. Namun hal
itu tidak menyurutkan semangat sang ibu untuk terus mewujudkan mimpisang anak,
terutama dalam hal pendidikannya, agar Imam Syafi’i menjadi seorang yang ‘alim
dalam ilmu pengetahuan. Mengingat bahwa Imam Syafi’i memiliki garis keturunan
yang mulia, sang ibu terus mengupayakan Imam Syafi’i agar tumbuh dengan baik,
memiliki akhlak yang lurus, menempuh ‘jalan yang mulia’, serta menjauhkannya
dari hal-hal yang hina sejak kecil.
Ketika Imam Syafi’i berumur sepuluh tahun,
ibunya mengirim imam Syafi’i keluar kota, tepatnya ke kota-kota yang menjadi
pusat keilmuan kala itu, salah satunya ialah Makkah.Selain menjadi pusat ilmu,
hal itu juga dimaksudkan sang ibu agar Imam Syafi’i tidak kehilangan garis
nasabnya di sana.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







