![]() |
| Sumber: page-16f.blogspot.com |
Oleh: Hilmi Gholi Hibatulloh
Abbas Mahmud Al-Aqqadlahir di Aswan
padatahun 1889 dalam keluarga yang
sederhana. Sejak kecil dia adalah anak
yang sangat cerdas,
memiliki kepribadian
yang baik, memiliki ambisi yang
kuat dalam mencari pengetahuan,
dan juga hasrat untuk membaca
yang sangat kuat. Dengan kecerdasan dan berbagai pengetahuan
yang dia miliki menjadikanya sebagai salahsatu
orang yang banyak berperan dalam pengembangan
agama dan kemasyarakatan
(Al-Fakhury, 1987, h. 289). Tidak hanya itu dia terkenal sebagai salah seorang
penyair ternama, seorang jurnalis, kritikus, dan pembentuk grup Diwan yaitu
kelompok pembaharu dalam sastra Arab di Mesir, selain Abdurrahman Syukri dan Ibrahim
Abd al-Qadir al- Mazini.
Al-Aqqad lahir dari keturunan
yang baik, kedua orang tuanya sangat taat dalam beragama dan juga mempunyai kegemaran dalam membaca.
Terdorong dari keinginan kedua
orang tuanya untuk menjadi
orang yang alim dalam bidang
agama dia akhirnya belajar
di madrasah untuk mendalami ilmu-ilmu
agama. Ketika di madrasah dia sangat gemar dalam menulis.
Bahkan tulisan-tulisanya mendapat banyak pujian dari
guru-gurunya karena keindahan bahasa dalam tulisanya.
Karirnya sebagai jurnalis dimulai pada usia
16 tahun. Akan tetapi ada peraturan pemerintah
yang mensyaratkan bahwa calon pegawai setidaknya harus berumur
18 tahun yang menjadikanya harus menunggu selama dua tahun.
Pada masa menunggunya ini dia menerbitkan majalah mingguan Raj’u Sada. Dalam bidang jurnalistik,
dia mendapat bimbingan dari
Muhammad Farid Wajdi, yaitu seorang ulama dan penulis
yang terkenal di Mesir. Pada masa ini
pula dia memiliki sebuah pengalaman
yang tak terlupakan,
yaitu ketika ada seorang muslim Inggris,
Majur Dicksun menghadiahkan dua buah buku kepadanya,
Tarjamah al-Qur’an dan Revolusi Perancis karya
Thomas.
Al-Aqqad juga memiliki andil
yang sangat besar dalam meningkatkan kecerdasan generasi muda Mesir melalui artikel-artikel politiknya
yang diterbitkan dalam beberapa surat kabar seperti
al-Balag dan al Jihad. Al-Aqqad menjalani kehidupanya dengan sangat aktif dan banyak sekali karya
yang telah dibuatnya.
Terhitung sekitar sembilan puluh jilid karyanya
yang membahas berbagai topik.
Selain menulis tentang politik,
kemasyarakatan, dan juga filsafat baik Timur maupun
Barat, dia juga menulis puisi dan biografi tokoh-tokoh
Islam.
Sebagai seorang kritikus
Al-Aqqad telah banyak memberikan kritik terhadap puisi maupun prosa
yang ada, sambil mengemukakan pendapat dan memperbaruinya.
Susunan-susunan puisi maupun prosa
yang hanya penuh dengan hiasan dan kurang dalam isinya
di arahkan oleh Al-Aqqad kepada puisi dan prosa
yang penuh arti dan juga memiliki isi
yang padat dan baik.
Menurut Al-Aqqad penulis yang
baik hendaknya memiliki
ide dan metode sendiri dalam karya-karya
yang dibuat, dan tidak mencontoh karya-karya terdahulu.
Karena itu ia mengkritik beberapa penulis seperti
Ahmad Syauqi dan Taha Husein,
yang dianggap tidak sesuai dengan pola
yang dia tawarkan.
Al-Aqqad pada masanya dijuluki sebagai mufakkir
al-Imlaq (pemikir raksasa),
julukanya ini bukan dari ketinggian akademiknya melainkan didapat dari independensi berpikirnya
yang menghantarkan Al-Aqqad sebagai panutan dari
para pemikir lainnya.
Karyanya selalu dikaji oleh berbagai
orang dari masa kemasa
yang khususnya kajian dalam kesusastraan
Arab dan jugapemikiran
Arab modern.
Sumber:
Achamad, Bacharudin. Sastrawan Arab Modern. 2019. Indonesia.
Guepedia.
Badawi, Muhammad Mustafa. A Critical Introduction to Modern
Arabic Poetry. 1975.
Cambridge. Cambridge
University Press.
Hanna Al-Fakhury. Al-Jami’ filadab al-Arabi: al-Adab al-Hadits.
1987. Beirut.
Daar al-Jail







