PURA-PURA LUPA

 

Oleh: Neng Sumiyati
Judul tulisan ini, bukan judul lagu yang saat ini sedang memenuhi playlist
music
anak indie, ya lebih tepatnya judul ini berangkat dari kemerosotan stok kesungguhan di akhir bulan penuh cinta ini. Kemungkinan akan sangat cocok dengan
siapa yang tak sabar membeli tiket pulang, karena kabarnya stok tiket mudik lebaran
sudah launching loh dari pihak terkait.
Sadar tak sadar kita sering berpura-pura dari hal apapun serta untuk apapun.
Misal contohnya seorang dosen memerintahkan tugas dengan beberapa ketentuan
yang sudah beliau tetapkan, lalu ketika kita mengerjakan tugas matakuliah yang
diampu beliau, kita melaksanakannya dengan tidak adanya kesungguhan serta melalaikan
ketetapan yang sudah beliau buat, seolah menepis ketetapan lalu berkata “gak apa-apa
deh, yang penting ngerjakan“. Nah ini contoh dari pura-pura melupakan tugas
yang seharusnya dikerjakan sesuai dengan ketentuan dosen.
Selain contoh di atas, ada sikap pura-pura lupa yang lain, dan ternyata itu
menjadi lebih seperti sebuah kebiasaan. Ketika seorang muslim telah mendengar adzan
sebagai simbol datangnya waktu sholat, namun dia menepis kenyataan tersebut dengan
sikap pura-pura lupanya ya itu dengan tetap mengerjakan tugasnya, atau mengabaikan
panggilan yang seharusnya dilaksanakan saat itu juga, tapi berbalik diri dan
berkata “nanti aja deh, waktu sholat kan masih panjang, lagi juga tugas ini bentar
lagi selesai kok“. Pada kenyataannya kasus seperti ini mengantarkan seseorang tersebut
kepada perilaku yang semakin lama akan membuatnya sebagai seseorang yang tidak pernah
mematuhi waktu sholat yang semestinya.
Bukan hanya mengenai itu saja, namun juga ada pura-pura yang lain, yang
mana semua orang sangat enjoy ketika melakukannya. Pura-pura lupa amanah orang
tua misalnya. Seorang anak diamanahi untuk menggunakan uang yang orang tuanya berikan
untuk membayar kos bulanan serta keperluan penting lainnya. Namun pada kenyatannya
ketika malam minggu tiba, si anak tersebut terhasut ajakan temannya yang ingin menghabiskan
malam minggunya di sebuah Mall terdekat.

Masih banyak lagi sikap pura-pura lupa kita yang lain, yang tidak bisa saya
paparkan satu per satu di sini. Sekali lagi uraian di atas hanya contoh,
mungkin jika ada kesamaan kisah dan perilaku, semoga saja kita dapat segera memperbaiki
diri, dan menjauhkan diri dari sikap pura-pura lupa tersebut.
Lalu sebenarnya seorang yang pura-pura lupa itu sadar tidak? Tentu saja sadar.
Tapi hal tersebut terjadi karena seseorang tidak menuruti apa yang dirasakan nuraninya,
lalu menepis apa yang dirasakannya itu dengan pikiran yang tidak selaras dengan
rasanya. Itulah sebabnya ada orang yang terlihat murung walaupun sebenarnya dia
di tengah keramaian, atau seseorang yang tersenyum sendu, namun pada kenyataannya
dia sedang dikerumuni sorakan bahagia dari teman-temannya. Mengapa begitu?
Karena sebenarnya dia merasa, namun tidak sanggup mengakui sikap pura-pura lupanya
tersebut.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp