MENGGAPAI RIDHO ALLAH SWT DENGAN BERILMU DAN BERADAB

Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah
 

     Roda kehidupan yang terus berputar, mengingatkan bahwa zaman ini
semakin tua. Beraneka ragam makhluk yang diciptakan, akan
mempertanggungjawabkan segala yang telah diperbuat kelak di hari kiamat.
Apalagi manusia yang diberi kemampuan lebih dalam berfikir secara rasional. Sudah
sepantasnya memperhatikan baik tingkah laku, maupun ucapan yang keluar darinya
bisa membawa kemaslahatan bagi umat. Karena segala gerak-geriknya tak lepas
dari pengawasan Allah swt. Kemudian, apakah manusia sudah mempersiapkan bekal
yang cukup untuk menghadapi kelak di hari perhitungan (
في يوم الحساب)?.
     Wahai manusia! buka mata, hati dan telingamu lebar-lebar! Dunia dan
seisinya menghampar luas untuk dimanfaatkan dengan bijak. Oleh karena itu, kini
saatnya bagimu berlomba-lomba dalam kebaikan untuk meraih ridho-Nya (Allah
swt). Janganlah khawatir tidak mampu melakukannya. Karena ada beribu cara yang
dapat ditempuh didalamnya. Tinggal kamu seorang hamba harus peka dan mampu
untuk mencarinya.
 
     Kalau manusia sadar dan tahu, untuk meraih ridho-Nya (Allah swt)
dapat ditemukan melalui komunikasi disekitar kita. Salah satu contohnya adalah
dengan menghormati orang tua dan guru. Sosok orang tua yang menjadi washilah
kita dilahirkan didunia, maka sudah sepantasnya untuk menghormati beliau dengan
berbakti kepadanya. Selama tidak menyimpang ketentuan syariat, sebagai seorang
anak harus patuh kepada orang tua.
     Begitupula dengan guru. Beliau menjadi orang tua kita ketika di sekolah
ataupun lembaga pendidikan lainnya. Dengan sabar dan telaten seorang guru
mengajarkan ilmu, membimbing serta mendoakan kepada muridnya setiap saat. Maka,
dengan berbakti kepada-Nya kita dapat membalas jasa-jasa beliau. Meskipun kita tahu,
masih banyak jasa-jasa beliau yang tidak dapat disebutkan disini dan tidak akan
pernah bisa membalasnya dengan seimbang.
     Bagi orang tua akan sangat bangga jika mempunyai putra-putri yang
sholeh dan sholihah. Karena bagi beliau, tidak selalu dengan prestasi ataupun
jabatan yang bisa diperoleh anaknya didunia. Tetapi, yang lebih penting adalah
ketika anaknya bisa berbakti kepada kedua orang tua dan selalu mendoakannya.
Karena hal inilah yang menjadi aset berharga bagi orang tua kelak di akhirat.
Termasuk seorang guru, pasti akan merasa senang jika bisa
membimbing dan menuntun muridnya menjadi orang yang berhasil baik di dunia
maupun di akhirat. Karena atas jasanya selama ini dalam mengajar, bisa diterima
dengan baik oleh muridnya. Meskipun, tidak semua bisa seperti itu dan
memerlukan proses yang panjang.
 
    Murid dikatakan berhasil dalam pendidikannya, jika dia semakin baik
dalam tingkah lakunya (akhlaknya). Sebaliknya, jika ada murid yang masih buruk
akhlaknya, bisa jadi ada salah satu faktor yang mempengaruhinya. Ibarat ilmu
padi, semakin berisi, semakin merunduk. Maknanya, semakin tinggi ilmu seseorang,
maka akan semakin rendah hatinya. Dia tidak mau sombong dan bisa menjaga
akhlaknya. Tawadhu’nya seorang murid kepada gurunya, bisa menjadi washilah
Allah memudahkannya dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, berilmu saja tidaklah
cukup, maka harus diiringi dengan berakhlak. Orang akan disegani tidak selalu
karena kepandaiannya. Namun, orang lebih disegani karena akhlaknya yang baik
dan berilmu pengetahuan .

ANDA SOPAN, KAMI SEGAN..

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp