Oleh : Bagus Isnu H
Diam
atau Mengungkapkan ?
atau Mengungkapkan ?
Hidup dalam hidup
yang tak luput akan dalang (controlled) oleh nafsu, sudah menjadi sunnahNya untuk
mahluk yang diciptakan, serta diamanahi sebuah peliharaan yang harus benar-benar
dipelihara (sebagaimana : dijaga dan dirawat) yaitu bernama “Nafsu”. karena jika tidak! dalam sebuah tindakan maupun perkataan akan menimbulkan sikap brutall atau berlebihan. ketika benar-benar kita sadari dan resapi, diluar
nalarpun kita akan pekah bahwa kita di kontrol oleh nafsu. Meski itu dalam
tindakan dan perkataan baik maupun buruk, semestinya kita harus bisa meminimalis
dari keadaan yang buruk dengan cara “Diam atau Mengungkapkan” dengan bijak.
yang tak luput akan dalang (controlled) oleh nafsu, sudah menjadi sunnahNya untuk
mahluk yang diciptakan, serta diamanahi sebuah peliharaan yang harus benar-benar
dipelihara (sebagaimana : dijaga dan dirawat) yaitu bernama “Nafsu”. karena jika tidak! dalam sebuah tindakan maupun perkataan akan menimbulkan sikap brutall atau berlebihan. ketika benar-benar kita sadari dan resapi, diluar
nalarpun kita akan pekah bahwa kita di kontrol oleh nafsu. Meski itu dalam
tindakan dan perkataan baik maupun buruk, semestinya kita harus bisa meminimalis
dari keadaan yang buruk dengan cara “Diam atau Mengungkapkan” dengan bijak.
Sebagaimana
atas sekenarioNya yang sudah tertera, manusia diberi selain nafsu yaitu juga
akal, fungsinya pun untuk berfikir dan baik akan memilah sebuah perkara. Dengan
sebuah keterbatasan ini, kita juga harus pandai dalam menyikapi hal yang
sekiranya itu un faedah atau pertanyaan yang amat durjana. Sebagaimana dalam
menyikapi sebuah perkara yang sekiranya unfaedah, alangkah baiknya disikapi
dengan Diam atau tinggalkan. Dan apabila menghadapi sebuah pertanyaan yang
sekiranya akan menyia-nyiakan masa,
sebaiknya kita menyikapi dengan diam atau mengungkapkan kata untuk pamitan
pulang, dan tak lupa dalam menyikapi sesuatu kita harus mengetahui sikond
(situasi kondisi) diri maupun sosial. sebagaimana ada maqola “Tidak menjawab (diam)
terhadap orang bodoh itu adalah jawaban” .
atas sekenarioNya yang sudah tertera, manusia diberi selain nafsu yaitu juga
akal, fungsinya pun untuk berfikir dan baik akan memilah sebuah perkara. Dengan
sebuah keterbatasan ini, kita juga harus pandai dalam menyikapi hal yang
sekiranya itu un faedah atau pertanyaan yang amat durjana. Sebagaimana dalam
menyikapi sebuah perkara yang sekiranya unfaedah, alangkah baiknya disikapi
dengan Diam atau tinggalkan. Dan apabila menghadapi sebuah pertanyaan yang
sekiranya akan menyia-nyiakan masa,
sebaiknya kita menyikapi dengan diam atau mengungkapkan kata untuk pamitan
pulang, dan tak lupa dalam menyikapi sesuatu kita harus mengetahui sikond
(situasi kondisi) diri maupun sosial. sebagaimana ada maqola “Tidak menjawab (diam)
terhadap orang bodoh itu adalah jawaban” .
Terimakasih dan semoga bermanfaat.








