Bahasa dan Tuhan

Bahasa dan Tuhan

Bahasa dan Tuhan – Allah SWT sebagai Sang Pencipta segala hal yang ada di langit dan di bumi, menciptakan manusia dan jin untuk menyembah-Nya “dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” (QS. Adz-Dzariyat 56). Dalam logika manusia, hubungan menyembah dan disembah ini memerlukan suatu bentuk komunikasi. Pengajaran tentang cara hidup di dunia dari Sang Pencipta dan pengekpresian menyembah dari seorang hamba, memerlukan komunikasi dua arah.

Dari banyaknya bahasa yang ada di muka bumi ini, bahasa apa yang digunakan oleh Allah SWT untuk berkomunikasi dengan hamba-Nya supaya mereka mengerti? Apakah Bahasa Arab yang digunakan oleh Allah SWT karena itu merupakan bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an dan disebut sebagai bahasa surga?

Keindahan sastra Arab dalam Al-Qur’an tidak tertandingi dan menyimpan banyak rahasia Ilahi. Namun bagaimana dengan wahyu Allah SWT lainnya yang diturunkan pada berbagai Nabi; seperti Nabi Daud menerima wahyu dalam bahasa Qibthi, Nabi Musa dalam bahasa Ibrani, dan Nabi Isa dalam bahasa Aram?

Ataukah lebih masuk akal jika Allah Sang Pencipta menggunakan semua bahasa yang ada di bumi ini? Ataukah pernyataan yang lebih lurus yaitu Allah tidak menggunakan semua bahasa tersebut, karena itu semua adalah bahasa manusia; sedangkan Allah SWT adalah dzat yang sepenuhnya tidak bisa disamakan dengan makhluk ciptaan-Nya. Namun yang pasti, Allah menurunkan wahyu kepada suatu kaum/rasul menyesuaikan bahasa dari kaum tersebut supaya mudah dipahami. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 4:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”

Jika bahasa dipahami sebagai kata dan kalimat seperti yang dipakai manusia, maka Tuhan tidak terikat dengan itu. Tuhan Mahasuci dari batasan. Ketika Allah ingin menyampaikan wahyu, Ia menurunkannya sesuai bahasa kaum penerima. Semua Nabi berbicara (begitu pula dengan wahyu Allah) sesuai dengan bahasa kaumnya, agar pesan Allah mudah dipahami. Jadi bahasa Tuhan bukanlah satu bahasa manusia tertentu, melainkan cara Ilahi menyampaikan kebenaran dengan media yang bisa dipahami manusia.

Bahasa Tuhan

Bahasa Tuhan tidak hanya bisa didengar oleh telinga; namun juga bisa dilihat oleh mata, dirasakan oleh indra peraba, dan dihayati oleh hati hambanya. Bahasa Tuhan bisa masuk langsung ke hati dan memberi pemahaman penuh kasih; bahkan tanpa huruf, kata ataupun suara.

Seperti kita ingin berkomunikasi dengan-Nya. Tanpa kata dan suara, Allah SWT sudah mengetahui maksud kita. Sama seperti kita berniat, cukup ‘kretek’ dihati sudah inti yang bermakna.

Seperti Allah SWT menjawab doa kita. Tiba-tiba datang apa yang kita butuhkan secara kebetulan, padahal tidak ada yang benar-benar kebetulan didunia ini. Semua adalah rencana Sang Pemilik Takdir yang dengan halus menyusun rangkaian abstrak kisah-kisah makhluk-Nya. Semua ciptaan-Nya adalah bahasa yang Allah gunakan untuk berkomunikasi dengan kita.

Bahkan cobaan yang sedang ditimpakan kepada kita, sejatinya adalah komunikasi bahasa cinta dan rindu dari Sang Maha Kasih. Allah mencintai hamba-Nya dengan cara yang terkadang tak kita pahami; dengan membuatnya tumbuh lebih kuat, lebih sabar, lebih dewasa dalam iman. Allah rindu pada hamba-Nya, rindu pada doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, rindu pada hati yang bergetar menyebut nama-Nya. Maka ujian hadir bukan untuk melemahkan, tetapi untuk mengundang kita kembali mendekat; supaya lidah ini basah dengan dzikir, supaya mata ini basah dengan tangis, dan supaya hati ini basah dengan harap.

Allah menyanyangi hamba-Nya dengan cara yang berbeda dari cinta manusia. Cinta manusia sering hanya memberi kesenangan, tetapi cinta Allah kadang berupa kepahitan, agar jiwa kita tidak lalai. Ia menutup satu pintu rezeki, namun membukakan pintu kesabaran. Ia mengambil satu kenikmatan, namun menggantinya dengan cahaya pengertian. Ia menguji dengan luka, namun di baliknya menyiapkan obat yang lebih manis dari segala nikmat dunia.

Setiap musibah adalah panggilan lembut, setiap air mata adalah surat cinta, setiap kerikil tajam di jalan adalah tanda agar kita lebih hati-hati melangkah. Bahkan kesendirian yang menyesakkan dada adalah ajakan agar kita lebih sering bersandar hanya kepada-Nya. Sungguh Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. justru melalui ujian itulah, Ia seperti berbisik lembut pada hati hamba-Nya; Aku di sini, kembalilah pada-Ku.

Iqra’ : Antara Qauliyah dan Kauniyah

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (2) ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (3)

 ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (4) عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Iqra’ yaitu lafadz fi’il amr (perintah) yang memiliki arti ‘Bacalah-!’ adalah kata firman pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW. kata yang mendapati gelar “wahyu pertama” bukanlah sekedar kaleng-kaleng. Perintah ‘bacalah-!’ untuk manusia adalah inti sejati segala kemajuan peradaban manusia pula. Membaca artinya adalah belajar. Belajar artinya adalah berliterasi.

Baca juga : Literasi Kunci Peradaban.

Kini pertanyaannya adalah ‘Apa yang diperintahkan untuk dibaca?’. Pada mulanya mungkin kita berpikir perintah tersebut adalah perintah untuk membaca wahyu Allah yang telah dikodifikasi (Al-Qur’an). Tentu hal tersebut sangat masuk akal, apalagi memang Al-Qur’an adalah pedoman sepanjang hidup umat Nabi Muhammad. Banyak pula hal tersirat didalamnya yang baru terkuak dengan teknologi zaman modern, sekitar 14 abad jauhnya setelah wahyu itu diturunkan. Saat ini pun masih banyak rahasia-rahasia yang belum kita sadari tersimpan rapi didalam perpaduan lafadz demi lafadz yang tertulis dalam kitab suci tersebut.

Namun jika kita pikirkan kembali, perintah ‘bacalah-!’ adalah lafadz Al-Qur’an yang pertama kali turun. Maka jika yang pertama baru saja turun, maka tidak ada lafadz yang kedua-ketiga-keempat dan seterusnya. Maka menjadi irelevan ketika perintah itu datang kepada Nabi, namun Al-Qur’an belum diturunkan sempurna. Lebih lagi keistimewaan Nabi Muhammad SAW, yang disebut “ummi” karena beliau tidak bisa membaca dan menulis (buta huruf). Maka sekali lagi ‘Apa yang diperintahkan untuk dibaca?’.

Allah SWT menyampaikan bahasa-Nya melalui dua jenis ayat. Pertama adalah ayat-ayat Qauliyah yaitu kalam Allah yang dikodifikasi (Al-Qur’an). Hal inilah yang telah kita bahas sebelumnya. Namun Allah juga memiliki ayat-ayat Kauniyah (realitas). Eksplorasi terhadap teks Qauliyah maupun Kauniyah sebenarnya memiliki derajat yang sama, keduanya merupakan tanda kebesaran dan pengajaran yang bersumber dari Allah untuk makhluk-Nya.

Allah SWT menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya yang menunjukkan kebesaran-Nya. Kebesaran yang baru kita tahu setelah teknologi modern menyentuh kita. Gunung yang bergerak (An-Naml: 88), Bintang Pulsar (At-Thariq: 1-3), Orbit benda langit (Yasin: 40, Al-Anbiya: 33 ), dua laut (Ar-Rahman: 19-20), Embriologi (Al-Mu’minun: 12-14), Atmosfer pelindung bumi dan berlapis (Al-Anbiya: 32, Al-Mulk: 3-4), Konsep Matahari dan Bulan (Yunus: 5), Madu dan Propolis (An-Nahl: 68-69), Asal muasal air susu (An-Nahl: 66), Sidik jari manusia (Al-Qiyamah: 3-4) dan lainnya adalah ayat kebesaran Allah.

Ayat-ayat kauniyah (realitas) itulah yang harus kita baca dan teliti juga. Ditambah dengan kita – manusia, adalah ayat Allah yang paling luar biasa. Kondisi sosial, psikologi, politik dunia, peradaban umat, pendidikan, dan ilmu-ilmu tentang manusia yang semakin kompleks itulah yang juga harus kita baca/pelajari. Keahlian membaca ayat kauniyah inilah yang merupakan salah satu keahlian Rasulullah SAW – Kebijaksanaan.

Rasulullah dan para sahabat juga ‘melek’ (tidak buta) dalam strategi perang dan politik internasional. Pada tahun 6 H, beliau mengirimkan surat pada raja Heraklius / Hercules (Romawi) dan surat kepada Raja Kisra (Persia). Bahkan sebelumnya ketika Rasulullah berumur 35 tahun saat perdebatan para pemimpin quraisy tentang siapa yang meletakkan hajar aswad pad tempat aslinya,  pemahaman tentang karakter dan kondisi pemimpin quraisy telah dibaca oleh Rasulullah hingga dapat mengeluarkan keputusan yang bijak. Sebelumnya lagi, Nabi Muhammad telah terbukti kepandaiannya dengan ilmu berdagang dan kejujurannya. Beliau memahami psikologi manusia dan ilmu ekonomi dengan baik.

baca juga: Sistem Hukum Tata Negara Islam

Kondisi alam semesta dan manusia inilah yang perlu kita baca juga. Islam tidak menjauh dari sains dan teknologi, malah islam mengajarkan untuk kita mendalami llmu-ilmu tersebut. Begitu juga untuk para santri, bukan hanya ‘ngaji’ namun juga meneliti dan berliterasi. Santri tidak boleh buta politik dan berlindung diri dibalik opini ‘politik itu basi (bau atau kotor)’. Santri harus mengisi internet dan sosial media, karena kalau bukan santri sebagai garda terdepan perubahan islami maka siapa lagi? sahroni?.

Iqra’ – bacalah!

Oleh : Dzulfahmi

Pondok Pesantren Darun Nun


Baca juga tulisan sebelumnya “Bahasa dan Manusia”:

Bahasa dan Manusia

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp