Bahasa dan Manusia

Bahasa dan Manusia

Bahasa dan manusia – Manusia adalah makhluk sosial; dan berkomunikasi adalah sebuah keniscayaan. Setiap manusia hidup dengan bahasa. Kita berbicara dengan kata-kata, menulis dengan huruf, dan memahami dengan kalimat. Bahasa membuat manusia bisa saling berhubungan, saling memahami, bahkan membangun peradaban.

Bahasa manusia sangat banyak dan beragam. Ada bahasa Indonesia, Arab, Inggris, Jawa, Sunda, Mandarin, dan sekitar 7000 bahasa lainnya masih digunakan hingga saat ini (UNESCO, 2025). Setiap bahasa memiliki ciri, tata bahasa, serta keindahannya masing-masing.

Pernahkah mendengar pepatah “Bahasa adalah jendela dunia”?. Dengan memahami semakin banyak bahasa, maka semakin banyak ilmu pengetahuan yang dapat kita pelajari. Ketika kita hanya memahami satu bahasa saja, maka ilmu pengetahuan kita juga akan terbatas pada apa yang ada dalam lingkup bahasa tersebut. berbahasa juga berarti memahami, memahami juga berarti berliterasi. Literasi tonggak utama peradaban bumi.

Bahasa dan “The Golden Age of Muslim”

Kebesaran kemampuan berbahasa pernah terbukti dalam sejarah masa peradaban “The golden age” umat muslim, masa Kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa khalifah Harun ar-Rasyid, didirikanlah pusat intelektual dan perpustakaan di Baghdad dengan nama Khizanah Al-Hikmah. Kemudian dikembangkan oleh putranya khalifah Al-Ma’mun dan berubah nama menjadi Baitul Hikmah. Baitul Hikmah memiliki peran besar dalam memajukan peradaban Islam dan menjadi simbol “masa keemasan” Islam.

Baitul Hikmah menjadi pusat kegiatan intelektual yang sangat besar dengan mencakup fungsi perpustakaan, lembaga penelitian, dan pusat penerjemahan. Baitul Hikmah menerjemahkan berbagai karya ilmiah dan filosofis dari bahasa Yunani, Persia, India, dan Sansekerta ke dalam bahasa Arab; serta mengumpulkan ilmuwan terkemuka seperti Hunain bin Ishaq untuk menerjemahkan pengetahuan kuno. Dibawah dukungan para khalifah seperti Al-Ma’mun, Baitul Hikmah melancarkan proyek penerjemahan besar-besaran untuk mengalihbahasakan pengetahuan dunia ke dalam bahasa Arab.

Masa tersebut adalah masa dimana umat muslim memimpin dunia dan menjadi garda terdepan peradaban ras manusia dengan ilmu pengetahuan. Juga menjadi masa dimana lahirnya banyak ilmuan muslim; seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Farabi, Jabir bin Hayyan, Al-Kindi, Al-Biruni, dan masih banyak ilmuan lainnya yang penemuannya sangat masyhur hingga saat ini dikalangan muslim maupun non-muslim.

Perlu ditegaskan, kebesaran pengetahuan dan penemuan para cendekiwan muslim tersebut tidak lepas dari salah satu penyebabnya adalah adanya lembaga Baitul Hikmah yang menyambung pengetahuan dari seluruh bahasa dunia untuk dinikmati bersama. Pemikiran terbuka para khalifah dan ilmuwan untuk mempelajari ilmu yang berasal dari berbagai bangsa dan agama juga menjadi dasar mind-set mengapa banyak lahir ilmuwan muslim saat itu.

Mengapa Harus Ada Banyak Bahasa?

Pertanyaan ini muncul dari pemikiran bahwa “Bahasa adalah jendela dunia” dan bukti kehebatan bahasa pada masa Abbasiyah. Ketika bahasa menjadi landasan dasar untuk saling memahami manusia dan mengetahui ke-Maha Agung-an Sang Pencipta diatas bumi ini, mengapa Allah Swt menciptakan banyak bahasa untuk manusia? Bukankah lebih baik hanya ada 1 bahasa saja didunia ini supaya kita lebih mudah berkomunikasi? Supaya kita lebih efektif dan efisien dalam membangun peradaban?. Problematisasi ini patut dianalisa dan ditemukan jawaban logisnya untuk mensyukuri akal yang sudah diberikan kepada manusia, karena tidak mungkin Yang Maha Mengetahui menciptakan sesuatu tanpa adanya maksud dibaliknya.

Pertanyaan yang dilatarbelakangi oleh kesadaran masyarakat modern ini, ternyata telah dijawab lebih dari 1400 tahun yang lalu didalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 22 :

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَأٰايَٰتٍ لِّلْعَٰلِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”

Pemikiran kritis tentang mengapa ada banyak bahasa telah di-notice didalam Al-Qur’an. Memang ada maksud, tujuan, dan alasan besar mengapa ada banyak sekali bahasa didunia ini. terdapat mega-proyek yang menunjukkan kebesaran Allah Swt dalam hal tersebut, dan yang dapat melihat tanda-tanda tersebut adalah orang-orang yang memakai akalnya (mengetahui).

Ayat ini menjawab bahwa perbedaan bahasa dan warna kulit itu membuktikan pada keagungan kekuasaan Allah dan kesempurnaan keperkasaan-Nya, yang telah menciptakan makhluk (ciptaan) yang agung ini, dan kesempurnaan hikmah-Nya karena ketelitian yang terkandung dalam ciptaan tersebut, serta kehalusan ilmu-Nya. Sebab, sang pencipta pasti mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. “ketahuilah, Yang menciptakan itu mengetahui,” (al-mulk:14).

Semua itu adalah dalil-dalil rasional yang diingatkan oleh Allah kepada akal, diperintahkan oleh-Nya untuk direnungkan dan diambil pelajarannya. “dan berlain-lainannya bahasamu dan warna kulitmu,” berdasarkan banyaknya jumlah manusia dan berbeda-bedanya bahasa manusia, padahal asal usulnya satu Manusia dan tempat keluarnya huruf pun sama. Sekalipun demikian adanya, namun kita tidak akan menjumpai dua suara (manusia) sama dari segala sisi, melainkan pasti akan ditemukan perbedaan di antara suara/bahasa yang dengannya bisa dibedakan.

Ini semua menunjukkan ke-Maha Sempurna-an kekuasaan-Nya, kehebatan masyi’ah (kehendak)-Nya, ketelitian perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan rahmat (kasih sayang)-Nya kepada mereka. Dia menetapkan perbedaan tersebut agar tidak terjadi kesamaran, karena akan berakibat fatal (kekacauan) dan akan banyak tujuan-tujuan mulia dan kebutuhan yang akan terabaikan.

* Diambil dari Tafsir as-Sa’di, Tafsir Ibnu Katsir, dan Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an.

Artinya, bahasa adalah karunia dan bukan sekadar alat komunikasi. Jika kita hanya melihat dari sisi “bahasa adalah alat komunikasi saja”, maka jelas pilihan hanya ada 1 bahasa yang diatas bumi mungkin saja yang terbaik. Namun mega-proyek ‘berbedanya bahasa manusia’ lebih mulia dari itu. Salah satu tujuannya adalah untuk saling memahami antar manusia, supaya tidak muncul kesombongan diri, dan menunjukkan kelemahan menjadi seorang hamba. Keragaman ini adalah ciptaan Allah agar manusia saling mengenal dan bentuk pengajaran Allah kepada makhluk-Nya yang dikaruniai Akal.

Oleh : Dzulfahmi

Pondok Pesantren Darun Nun


Tulisan diatas adalah sekedar pengantar untuk tulisan yang kedua, berikut tautan untuk tulisannya:

Bahasa dan Tuhan

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp