
Oleh : Ilman Mahbubillah
Aku ingin menjadi kutipan favorit dalam buku yang kau baca; bagian penting yang tak ingin kau lupa, juga membuatmu bahagia kala mengingat penggalan katanya. Lalu kau tandai aku dengan stabilo berwarna; seolah berhati-hati karena tak ingin salah dalam mengartikan maknanya, atau langsung jadi penanda bagi kumpulan kata yang selalu ingin kau tunjukkan ceritanya. Kelihatannya begitu menyenangkan, bahwa ternyata sosok itulah yang kau harapkan membawa banyak cinta pada kisah yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.
Tapi pernahkah kau mengira; jauh sebelum keinginan itu ada dan selalu menjadi bayang-bayang dalam sukma. Kau adalah frasa indah yang membuat dadaku berdebar kala menatapnya, kalimat yang membuatku berhenti membaca meski di tengah paragraf; sebab terpana. Seketika aku menghela nafas, mengulanginya kata demi kata karena takut terdapat huruf rahasia yang luput kubaca tanpa sengaja, sehingga tak kutinggalkan setiap makna yang menjadikannya begitu sempurna.
Namun kini, dunia seakan menunjukkan kekejamannya dalam membuat rangkaian skenario yang tak pernah kita inginkan. Kau; dipaksa untuk melupakan meski tak benar-benar tahu bagaiamana caranya, sedang aku; harus merela pada setiap harapan yang sebelumnya sudah kita rencanakan bersama. Sialnya; kita sama-sama tak kunjung memberi kesempatan pada rasa kecewa sehingga justru ungkapan duka lah yang terus mengudara dan perlahan mengurung kita pada luka yang tak bermuara.
Orang-orang bilang, berdamailah dengan nestapa sampai kau pahami bahwa cara kerja takdir memanglah begini. Setiap asa akan temui hampa jika sedari awal tak kau landasi cinta dengan doa dan setiap rasa akan binasa jika kau sematkan bukan pada tempat semestinya. Oleh karenanya tak ada yang bisa disalahkan selain nafsu yang senantiasa mengiba dan angkara yang selalu diberi nyawa. Kita hanya bisa melewati masa ini dengan telapak tangan terbuka, menundukkan kepala, menyirami duka dengan isak tangis air mata.
Pada akhirnya; aku akan tetap menempatkanmu pada ruang istimewa, di ujung mariana; tempat awal kita menumbuhkan rasa dan tempat yang ber’sandi’kan kata setia. Sungguh aku tak pernah benar-benar sanggup menjalani dan melanjutkan keadaan ini jika akhirnya kau tak temukan bahagia. Meski nanti mungkin bukan aku sosok yang digariskan oleh sang Maha, kau tetap bisa menemuiku dalam suaka penuh cinta yang disebut dengan doa. Kau tak perlu khawatir tentang kata ‘kita’ yang berakhir dengan sungkawa, karena ia akan jadi epilog penutup yang justru menurutNya adalah ending paling sempurna.







