Detik Terakhir bersama Murabbi 

Oleh: karya Nabila F

Sore hari menjelang maghrib azaliya bersama dengan santri lainnya, masfufah duduk di depan ruang rawat inap rs petrokimia, mereka disana lantaran menjaga bu nyai nya yang tengah berbaring diatas ranjang putih dengan selang infus terpasang di pergelangan tangannya. Sudah 3 hari sejak dikeluarkannya beliau dari ruang ICU, azaliya dan masfufah menjaga murabbinya bersama keluarga besar ndalem yai. Sekali dua kali mereka masuk ke dalam kamar jika diperlukan.

Setelah sholat maghrib terdengar suara bu nyai memanggil mereka, dan mereka pun datang langsung menghadap beliau. Ternyata didalam sempat terjadi gaduh lantaran jadwal yai yang harusnya ceramah diluar dan beliau menolak untuk berangkat lantaran khawatir meninggalkan istri tercintanya. Namun hal tersebut di tolak oleh bunyai dengan mengatakan beliau baik baik saja, “mboten nopo bi, njenengan tindak rumiyen. Kulo kale mbak-mbak, engken nggih wonten nurul dateng meriki”. 

Setelah itu yai faqih pun pamit meninggalkan rumah sakit. Ruangan pun menjadi sunyi dengan suara dzikir pelan dari bu nyai dan santri di sisi kanan nya. Tak terasa waktu isya’ pun selesai dan bu nyai sudah bersantai dengan tasbih tetap berjalan indah di tangan kanannya.

Beberapa menit kemudian ning nurul pun datang menghampiri mereka dan segera salim mencium tangan ummi nya. Dalam hatinya ning nurul merasa ada yang aneh dari suhu badan ummi nya, namun ning nurul segera menepis pikiran buruknya karena beliau yakin umminya baik-baik saja. Setelah salim ummi nya ning nurul pun menyerahkan nasi kepada azaliya dan masfufah dan menyuruh mereka untuk segera makan, “niki mbak sampeyan dhahar dulu, kulo sampun”. dan segera di sahuti oleh anggukan keduanya, “nggih matur nuwun ning”. 

Selang berapa menit setelah mereka makan terdengar suara ning nurul memanggil keduanya, “mbak mriki,, mbak mriki”. Ternyata bu nyai memejamkan mata dengan ning nurul diaamping ranjang dengan mata yang sudah sembab akibat menangis. “mbak sampeyan nggada wudhu?” ucap ning nurul dan dibalas anggukan oleh keduanya. Lalu ning nurul pun membalas lagi, “sampeyan ngaji yasin kale ar ra’du nggih ten meriki, mboten banter-banter tartil mawon”. Suara bacaan surat yasin pun terdengar bersahutan dengan surat ar ra’du, sementara ning nurul menghubungi saudara-saudara nya dan juga abinya. Suhu badan bu nyai semakin turun, ning nurul pun pasrah lantaran melihat tasbih umminya yang terhenti tanda beliau sudah meninggalkan dunia yang fana ini.

Ning nurul segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi ibunya, dan benar saja tepat pukul 20.40 tanggal 20 januari 2012 bertepatan dengan 12 rabiul awwal, bu nyai aini dinyatakan meninggal dunia.

Yai faqih yang datang tidak lama setelah itu pun merasa sedikit menyesal lantaran tidak bisa membersamai istrinya di detik-detik terakhirnya. Hal itu kemudian di tenangkan oleh ning nurul dengan cerita akhir hidup ummi nya yang masih berjalan beriringan bersama dzikirnya. Dan yai faqih pun ikhlas dan meridhoi kepergian istri nya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp