Matematika Manis yang Tak Terencana

Oleh: Karya Nabila F

Waktu jenguk santri satu hari yang diizinkan untuk melepas rindu bersama orang tua berasa seperti 1 jam saja. Aku Aisyah, seorang santriwati sekaligus siswi kelas 12 di salah satu SMA swasta favorit Kabupaten Gresik dengan rangking paralel kedua se-sekolah menengah ini harus rela menjual semua impianku dengan alasan patuh kepada orang tuaku. Siang itu aku menyerahkan selembar kertas pakta integritas yang berisi pilihan jurusanku di perguruan tinggi. “pendidikan matematika ca”, suara ibu terdengar lembut,  “Menjadi seorang guru itu sebuah profesi yang pas ca, guru itu mulia, waktu nya pun fleksibel, paling cocok buat kamu yang perempuan nak, lagipula unesa itu dekat dari rumah ca, kamu bisa pulang tiap minggunya, kamu juga bisa kuliah pulang pergi kalo kamu mau.”lanjut ibu.

Aku memejamkan mata sejenak. Universitas Negeri Surabaya, itu merupakan pilihan yang bagus, logis juga, selain aman, unesa juga dekat dengan rumah. Tapi bagiku, itu tidak ada tantangannya. Aku eligible 2, masuk perguruan tinggi dengan jalur yang begitu mudah? impianku disetarakan dengan mereka yang jauh dibawah? Gengsi akademikku menolak mentah – mentah. Iya kelasku merupakan kelas unggulan di sekolah, mimpi mereka pun tentu bukan hal remeh yang bisa di pandang sebelah mata. Meskipun unesa memiliki akreditasi yang bagus dan tidak kalah menarik dari UM, namun menurut kelas kami melanjutkan studi ke unesa seperti naik kelas di SMA, lantaran banyaknya alumni yang melanjutkan studi disana. Bahkan perkataan salah satu temanku Ziza, “kau yakin ca mau ke unesa? kamu eligible 2 loh. nanti kalo kamu ke unesa kamu kayak anak-anak yang lain loh. jadi gak ada privilege dari eligible 2″.

Setelah ingat perkataan temanku dengan mantap aku meyakinkan orang tua ku “Bu, Ayah, dengarkan aku,” kataku dengan nada seyakin‐yakin nya, “Aku sudah mencari-cari informasi baik dari internet, kakak kelas, maupun guru-guru. Pendidikan Matematika kampus terdekat yang paling ketat dan terjamin itu di UM. Aku yakin kompetisi di sana lebih sesuai dengan kemampuanku. Dan kalau aku menempatkan unesa di pilihan pertama, nanti jadinya ga seimbang karena tingkat keketatannya lebih tinggi UM daripada unesa. Jadi nempatin pilihan pertama di Universitas Negeri Malang, yang kedua di unesa dan pilihan pertama di UM ya Yah, Bu?”. Sebenarnya, alasan “keketatan” itu hanyalah sebuah kedok. Jauh dari lubuk hati terdalam, aku ingin melarikan diri. Melarikan diri dari bayang – bayang orang tua, melarikan diri dari pandangan manis yang selama ini melekat dalam diriku, dan melarikan diri dari kenyataan bahwa aku, adalah anak yang sangat manja dan tidak bisa jauh dari rumah. Dan Kota Apel itu adalah tujuan ku.  Iya, menurutku, Malang adalah pelarianku yang dingin dan jauh.

Keinginanku akhirnya terwujud. Setelah penantian panjang yang mendebarkan, aku resmi diterima di pilihan pertamaku, iya di Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang. Ayah dan Ibu pun ikut bangga, anaknya ini diterima di pilihan pertamanya. Meski di dalam lubuk hatinya, unesa tetap menjadi yang pertama. Sedangkan aku? Aku bangga karena akhirnya gengsi ku terselamatkan. Dalam pikiranku hanya ada perasaan lega bahwa aku berhasil meraih pilihan pertamaku, tanpa berpikir jangka panjang tentang bagaimana kehidupan ku di perantauan.

Namun kenyataannya, Malang tidak menyambutku dengan karpet merah. Jarak Gresik-Malang yang kutebus selama berjam-jam lamanya terasa seperti membelah benua menjadi dua. Di pondok pesantren baruku, aku mulai merasa lumpuh. Aku menutup diri dari sekitar. Aku rindu suara Ayah yang memanggilku di pagi hari untuk sarapan, rindu wanginya masakan Ibu yang menggugah selera untuk makan, rindu kehebohan adikku saat mencari isi tas sekolahnya dan rindu kehidupan rumahku yang penuh kesenangan dan kebahagiaan.

​Setiap malam, telepon genggamku menjadi satu-satunya pelabuhan setelah seharian penuh kegiatan. Jari-jari pun mendukungku untuk sekedar mengetik  pesan kerinduan diatas layar ataupun menerima panggilan dengan penuh keantusiasan. 

“Ibu , aku tidak betah. Malang terlalu asing bagiku. Aku sendirian disini. Makanan disini rasanya hambar semua di mulutku. Aku mau pulang bu, aku mau pindah.”Aku mengadu pada ibuku dengan suara tercekat menahan tangis.

“Yaallah, Aisyah ini sudah menjadi pilihan mu sejak awal. Kamu sekarang sudah besar, kamu harus mempertanggung jawabkan pilihanmu sendiri, ini masih pertama, kamu ngga boleh menyerah ca, kamu kuat. Kami tidak mengirimmu jauh – jauh hanya untuk menyerah, kamu harus sabar.” Ibu membalas dengan nada lemah karena kecewa.

Kata-kata Ibuku terngiang-ngiang di telingaku, menusuk ke relung jiwaku, aku rapuh, ku putuskan sambungan telepon darinya. Aku menangis dalam diam, pelan, tanpa suara, namun rasanya sangat sesak di dalam dada. Aku sadar bahwa aku tidak hanya gagal di jurusan dan kampus impian tapi aku juga gagal pada pilihan yang kubuat sendiri, aku terlalu gegabah untuk mengambil keputusan. Dan akhirnya aku pun menjadi mahasiswa suram, tertutup, pendiam, dan hanya fokus pada nilai yang aman. 

Satu semester berlalu dalam kegelapan dan homesick. Aku nyaris putus asa.

Hingga suatu sore, aku duduk dengan bersandar pada lemari kayu dalam kamarku, hanya ditemani catatan Teori bilangan yang tebal. Pintu kamarku diketuk. Riya, kakak tingkat satu departemen, masuk dengan wajah cemas kemudian berkata,

​“Aisyah, tolong. Aku butuh tutor untuk matematika  dan fisika kelas 11 SMA. Ibunya meminta nanti malam mulai les. Kamu bisa kan? tolong bantu ya, hari sabtu saja saja!”

​Awalnya aku enggan. Namun, karena riya meyakinkanku maka aku pun mengiyakan permintaannya. Setelah jamaah maghrib, kunyalakan motorku dan pergi ke rumah anak bimbingku. Aku mulai pembelajaran dengan tadarus alquran bersama, dan aku mulai menanyakan materi yang dipahaminya serta apa kesulitannya. Saat aku mulai menjelaskan materi, sesuatu terjadi. Aku tidak lagi melihat rumus-rumus itu sebagai beban, melainkan sebagai seni merangkai logika. Pikiranku yang gelap karena penuh dengan pemikiran-pemikiran rindu rumah mulai tergantikan dengan cahaya terang yang mengubah suasana hatiku. Rasa bahagiaku bertambah kala melihat salsa (anak yang ku bimbing) yang awalnya bingung menjadi ceria, perlahan matanya berbinar. Ada kepuasan yang luar biasa saat aku berhasil menemukan cara sederhana untuk menjelaskan materi agar dia benar-benar mengerti dan paham atau bahkan membuatnya menyukai matematika.

“Hah ini beneran semudah ini kak caranya? gitu aja?” Tanya salsa dengan mata berbinar – binar)

Aku pun menjawab dengan senyum merekah, “Iya sal benerann, gimana mudah kan matematika?” dan salsa menjawabnya dengan nada antusias,” ah iyaa mudah banget kak, tadi awalnya kayak susah banget liat soalnya tu panjang dan sepertinya rumit gitu. Eh pas udah kakak tulis dan jelasin jawabannya cuma singkat aja.”

Hari-hari selanjutnya aku pun perlahan mulai melupakan rasa rindu, rasa kesepian, dan bahkan gengsiku. Setelah banyaknya pengalaman hidup yang sudah aku lalui, aku baru sadar bahwa selama satu semester ini waktuku terbuang sia-sia hanya untuk merutuki nasibku. 

Aku pun mulai membuka diri. Aku mulai berbaur dengan lingkungan yang ada di sekitarku. Dalam hatiku aku menertawakan diriku sendiri yang mencari kebebasan berpikir di Matematika Murni, yang ternyata kebebasan terbesarku adalah saat aku menyampaikan dan menerjemahkan pemikiran itu. Dulunya aku pikir guru itu profesi biasa untuk perempuan bahkan tidak ada istimewanya sama sekali dan aku juga sudah menebak bagaimana guru dalam mengabdi yang kulihat sehari hari pada ayah dan ibuku, padahal menjadi seorang guru adalah panggilan istimewa yang tidak semua orang mendapatkannya. Aku salah satu dari mereka yang terpanggil, harusnya aku bersyukur bukan malah mencari yang diluar diriku.

Aku menelepon Ibu seminggu kemudian. Dan dengan yakin aku berkata: ” Bu, Ayah,” kataku pelan, “Aku minta maaf kepada kalian, dulunya aku memilih Malang hanya karena gengsi pada teman – teman ku, dan aku hanya ingin lari karena aku tidak bisa masuk kampus impian seperti mereka. Tapi kenyataannya aku memang tidak sekuat yang aku bayangkan, dan ternyata kerasnya perantauan mengajarkanku betapa manja diriku ini.” 

Ayah dan Ibu terdiam di seberang telepon.

“Tapi Yah, Bu, sekarang aku sudah berdamai dengan keadaan. Aku sudah menemukan kebahagiaanku di Pendidikan Matematika. Aku suka mengajar Bu, ternyata mengajar memang passion ku, Aku akan menjadi guru yang baik seperti kalian. Terima kasih sudah memilihkan jalan yang terbaik ini, meskipun awalnya aku menolak, dan aku memilih sesuatu yang mungkin Ayah Ibu nggak suka.” tambahku. Air mataku menetes, kali ini bukan lagi air mata homesick. Tapi air mata ini adalah air mata rasa syukur. Aku bersyukur karena akhirnya aku bisa berdamai dengan diriku sendiri, berdamai untuk tidak selalu memaksakan keinginanku terjadi, berdamai untuk menjadi lebih kuat pada kehidupan yang keras ini. Aku mungkin tidak berada di kampus impian ku, Universitas Airlangga Surabaya. Tapi aku bisa berada di tempat terbaik di Malang, belajar bersama orang – orang hebat, bahkan berada di kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Jarak Gresik-Malang kini hanyalah sebuah angka, meski kerinduan itu masih tetap ada. Tapi hatiku sudah menemukan rumah nya disini.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp