Pesan Ibu Sebelum Pulang

Pesan Ibu Sebelum Pulang

Oleh: bahrul ilmi

Saya lahir di ujung Provinsi Jambi, daerah yang cukup jauh dari perkotaan, sejak kecil saya sudah diajarkan untuk hidup mandiri. Setelah tamat SD, saya mulai meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren di Sumatra Utara. Setelah menyelesaikan pendidikan selama tujuh tahun di pesantren, saya kembali melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kali ini, tempat yang saya tuju bukan lagi berbeda provinsi, tetapi berbeda pulau, yaitu Kota Malang.

Jauh dari rumah membuat saya terbiasa dengan kehidupan sebagai seorang perantau. Hari-hari saya isi dengan kuliah, belajar dan berbagai aktivitas lainnya. Terkadang, hidup di perantauan begitu menyenangkan. Bisa bertemu banyak orang, dapat teman baru, dan belajar memanfaatkan waktu. Meskipun sudah terbiasa hidup jauh dari keluarga, adakalanya rasa rindu menghampiri tanpa disengaja. 

Di tengah kesibukan saya sebagai mahasiswa, saya memiliki adik yang mondok di salah satu pesantren di jawa tengah. Jarak membuat kami jarang bertemu. Ia sibuk dengan kegiatannya di pesantren dan saya juga sibuk dengan kegiatan di perkuliahan.

Suatu ketika, sebelum saya libur dan hendak pulang kampung untuk melepaskan rindu yang selama ini dipendam, ibu berpesan. “Nak, kalau nanti kamu mau pulang, mampir dulu di pesantren, jenguk adikmu”.

Pesan sederhana itu membuat saya terdiam. Saya kembali menyadari bahwa sekarang kami sama-sama jauh dari rumah dan sama-sama sedang berjuang untuk meraih masa depan.

Singkat cerita, saya berangkat menaiki kereta api dan turun di stasiun Prujakan cirebon, sekitar pukul 20.00 WIB. Malam itu saya beristirahat terlebih dahulu. Keesokan paginya baru saya menjenguk adik di pesantren. Setelah semalaman beristirahat saya melanjutkan perjalanan  menuju pesantren tempat adik saya belajar.

Ketika sampai di gerbang pesantren, saya terdiam beberapa menit. Suasananya begitu syahdu. Para santri sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sedang menuju masjid, belajar, dan ada pula yang bercengkrama dengan teman-temannya.

Pemandangan itu membuat saya terharu karena seakan memutar kembali kenangan lama. Saya teringat masa-masa ketika masih menjadi seorang santri. Rutinitas yang dahulu saya jalani setiap hari kini kembali terlihat di hadapan saya.

Setelah beberapa menit di pesantren, saya melihat ke beberapa arah, tapi belum meniemukan keberadaan adik saya. Ketika seorang santri melintas tepat dihadapan saya, saya langsung bertanya apakah ia mengenal adik saya.

“Tahu. Tunggu sebentar, saya panggilkan,” jawabnya.

Tak lama kemudian, saya melihat adik berjalan menghampiri saya. Perasaan saya saat itu bercampur aduk. Ada rasa senang, haru, dan lega karena akhirnya kami bisa bertemu setelah sekian lama.

Kami berbincang sebentar tentang kehidupan masing-masing. Saya bertanya tentang kabarnya, kegiatan di pesantren, dan bagaimana ia menjalani hari-harinya jauh dari keluarga. Meskipun pertemuan itu sederhana, bagi saya momen tersebut sangat berarti.

Waktu terasa begitu cepat. Pertemuan kami harus segera berakhir. adik saya harus kembali melanjutkan aktivitasnya, sementara saya harus kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman.

Sebelum berpisah, saya memeluk erat badannya dan berbisik ke telinganya ”tetap semangat ya belajarnya. Ada orang tua yang harus kita bahagiakan”.

Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Saya melihat matanya yang seakan menyimpan banyak hal. Entah rasa rindu, sedih karena harus berpisah, atau mungkin semangat untuk terus melanjutkan perjuangan. Saya pun berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun sebenarnya ada rasa berat di dalam hati untuk meninggalkannya.

Dalam perjalanan menuju kampung halaman, saya terus teringat pesan ibu. Saya menyadari bahwa pertemuan singkat dengan adik ternyata memiliki makna yang begitu besar. Kami sama-sama jauh dari rumah, sama-sama belajar mandiri, dan sama-sama sedang berjuang untuk meraih masa depan.

Saya juga kembali mengingat perjalanan hidup saya sejak meninggalkan kampung halaman setelah tamat SD. Tujuh tahun di pesantren mengajarkan saya banyak hal tentang kemandirian dan perjuangan. Setelah itu, saya kembali merantau ke Malang untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Semakin jauh saya pergi, semakin saya memahami arti rumah. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi tempat di mana keluarga selalu menunggu dan mendoakan kita.

Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang, saya sampai di kampung halaman. Rasa lelah seakan hilang ketika melihat wajah orang tua. Saat itu saya sadar, sejauh apa pun seorang anak pergi, selalu ada alasan untuk kembali.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru