Pada Akhirnya, Aku Mengerti

Pada Akhirnya, Aku Mengerti

Oleh Hanifia Laila Harisi

Kirana selalu percaya bahwa hidup akan menjadi indah jika seseorang memiliki rencana yang baik.

Sejak duduk di bangku sekolah, ia terbiasa menuliskan banyak hal dalam sebuah buku kecil berwarna biru. Tentang kampus yang ingin ia masuki, pekerjaan yang ingin ia dapatkan, kota yang ingin ia tinggali, hingga kehidupan seperti apa yang ingin ia jalani kelak.

Semuanya ia tulis dengan begitu yakin.

Seolah-olah masa depan memang berada di tangannya.

Namun, hidup ternyata tidak pernah benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang manusia tuliskan.

Hari itu, Kirana duduk di depan layar laptop dengan tangan yang gemetar. Ia membaca pengumuman itu berulang kali, berharap ada kesalahan yang terlewat dari matanya.

Namanya tidak ada.

Ia gagal mendapatkan kesempatan yang selama berbulan-bulan ia perjuangkan.

Kirana terdiam.

Air matanya jatuh tanpa diminta.

“Kenapa, Tuhan?”

Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Ia sudah berusaha. Ia sudah berdoa. Ia bahkan berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa kali ini mungkin menjadi jalannya.

Tapi ternyata bukan.

Malam itu, buku kecil berwarna biru kembali terbuka di hadapannya.

Kirana mencoret salah satu rencana yang selama ini ia tuliskan dengan tinta hitam.

Satu rencana hilang.

Beberapa minggu kemudian, rencana lainnya ikut menyusul.

Seseorang yang selama ini begitu ia percaya perlahan menjauh. Hubungan yang ia kira akan bertahan lama ternyata harus berakhir tanpa banyak penjelasan.

Untuk kedua kalinya, Kirana merasa Tuhan mengambil sesuatu darinya.

Ia mulai bertanya-tanya, apakah hidup memang harus sesulit ini?

Mengapa ketika ia mulai menyukai sesuatu, justru sesuatu itu harus pergi?

Mengapa ketika ia sudah merasa menemukan jalan, jalan itu kembali ditutup?

Hari-hari berlalu.

Kirana akhirnya mengambil keputusan untuk menjalani sesuatu yang tidak pernah ada dalam daftar rencananya.

Ia pergi ke sebuah kota yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari hidupnya.

Awalnya ia tidak menyukai tempat itu.

Terlalu asing.

Terlalu jauh dari rumah.

Terlalu berbeda dari kehidupan yang selama ini ia bayangkan.

Namun di sanalah semuanya perlahan berubah.

Ia bertemu dengan orang-orang baru.

Ia menemukan lingkungan yang membuatnya belajar banyak hal.

Ia mulai mengenal dirinya sendiri dengan cara yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.

Ia juga mulai menyadari bahwa ternyata ada banyak hal yang bisa ia lakukan, banyak kebaikan yang bisa ia berikan, dan banyak kehidupan yang bisa ia sentuh.

Salah satunya adalah seorang anak kecil bernama Raka.

Raka adalah anak yang sering datang ke tempat Kirana mengajar. Ia selalu duduk paling depan, membawa buku yang sampulnya sudah lusuh, tetapi tidak pernah kehilangan semangat untuk belajar.

Suatu sore, setelah kegiatan selesai, Raka menghampiri Kirana.

“Kak, besok datang lagi, kan?”

Kirana tersenyum.

“Kenapa?”

“Soalnya kalau Kak Kirana nggak datang, aku nggak punya yang ngajarin.”

Kirana tertawa kecil.

“Nanti kalau Kakak nggak datang, Raka tetap harus belajar.”

Raka mengangguk.

Kemudian ia berlari pulang.

Kirana memandanginya dari kejauhan.

Entah mengapa, dadanya terasa hangat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa berada di tempat yang benar.

Padahal tempat itu bukan tempat yang pernah ia rencanakan.

Malamnya, Kirana membuka kembali buku birunya.

Ia melihat halaman-halaman lama yang penuh coretan.

Nama kampus.

Pekerjaan.

Kota.

Seseorang yang pernah ia tulis sebagai bagian dari masa depannya.

Semuanya masih ada di sana.

Namun kini ia memandangnya dengan perasaan yang berbeda.

Ia tersenyum kecil.

Ternyata, jika dulu semua keinginannya terwujud, ia tidak akan pernah berada di kota ini.

Ia tidak akan pernah bertemu Raka.

Ia tidak akan pernah mengenal orang-orang yang sekarang begitu berarti dalam hidupnya.

Ia tidak akan pernah menemukan bagian dirinya yang selama ini tersembunyi.

Kirana terdiam cukup lama.

Kemudian air matanya kembali jatuh.

Tetapi kali ini bukan karena kecewa.

Ia menangis karena akhirnya memahami sesuatu.

Bahwa tidak semua kehilangan adalah keburukan.

Tidak semua kegagalan adalah hukuman.

Dan tidak semua pintu yang tertutup berarti akhir dari perjalanan.

Terkadang, Tuhan menutup sebuah pintu karena di baliknya ada sesuatu yang tidak kita ketahui.

Sesuatu yang mungkin akan menyakiti kita.

Sesuatu yang mungkin bukan untuk kita.

Atau mungkin karena ada pintu lain yang jauh lebih baik, tetapi kita terlalu sibuk menangisi pintu yang tertutup untuk menyadarinya.

Kirana menutup buku birunya.

Ia tidak lagi ingin menulis terlalu banyak tentang masa depan.

Bukan karena ia berhenti memiliki harapan.

Melainkan karena kini ia belajar untuk menyerahkan sebagian harapannya kepada Tuhan.

Sebab manusia hanya mampu melihat apa yang ada di depan mata.

Sedangkan Tuhan mengetahui seluruh jalan yang bahkan belum pernah kita bayangkan.

Bertahun-tahun kemudian, Kirana kembali membuka buku kecil itu.

Halaman-halamannya sudah menguning.

Ia membaca kembali tulisan-tulisan lamanya dan tersenyum.

Ada begitu banyak hal yang dulu ia tangisi.

Begitu banyak hal yang dulu ia pikir sebagai akhir dari segalanya.

Padahal ternyata, semuanya hanyalah awal dari sesuatu yang lebih indah.

Kirana menutup buku itu untuk terakhir kalinya.

Kemudian ia berkata pelan,

“Dulu aku selalu bertanya mengapa Tuhan tidak memberikan apa yang aku inginkan.”

Ia tersenyum.

“Sekarang aku tahu jawabannya.”

Karena ternyata Tuhan tidak pernah benar-benar mengambil sesuatu darinya.

Tuhan hanya mengubah arah.

Mengajarinya melepaskan.

Mengajarinya percaya.

Dan membawanya menuju kehidupan yang tidak pernah mampu ia rencanakan sendiri.

Kirana menatap langit sore di hadapannya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi ingin bertanya, “Mengapa harus seperti ini?”

Ia hanya ingin berkata,

“Terima kasih, Tuhan.”

Sebab pada akhirnya, ia mengerti.

Bahwa apa yang menurutnya terlambat, ternyata adalah waktu yang paling tepat.

Apa yang ia kira kehilangan, ternyata adalah cara Tuhan menyelamatkannya.

Dan apa yang dahulu ia sebut sebagai kegagalan, ternyata merupakan jalan menuju kehidupan yang selama ini Tuhan siapkan untuknya.

Pada akhirnya, Kirana mengerti.

Bahwa rencana manusia boleh saja indah.

Tetapi rencana Tuhan selalu memiliki cerita yang jauh lebih luas.

Dan terkadang, untuk memahami keindahan itu, kita hanya perlu berjalan sedikit lebih jauh dari apa yang kita inginkan.

Lalu menoleh ke belakang.

Dan tersenyum sambil berkata,

“Oh… ternyata ini maksud Tuhan.”

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru