Setitik Etika di Kamar Kontrakan
oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
Sore menjelang maghrib, suasana kamar seketika ricuh. Hana mendadak mendapat telepon dari dosen pembimbingnya untuk bimbingan skripsi saat itu juga. Tanpa berpikir panjang, Hana yang saat itu hanya mengenakan kemben langsung gelagapan. Ia mandi super kilat dan bersiap secepat yang ia bisa.
“Kamu bimbingan pertama kali, ya?” tanya Tari, teman sekamarnya, memperhatikan kepanikan Hana.
“Enggak, ini udah keempat kalinya,” sahut Hana terburu-buru sembari menatap cermin untuk membetulkan kerudungnya.
Di saat yang sama, seorang penghuni kontrakan lainnya melintas di depan kamar. Tanpa basa-basi, Hana langsung memanggilnya dengan nada memaksa. “Mbak, anterin aku ke kampus SEKARANG!”
Penghuni kontrakan itu sempat mengelus dada mendengar ucapan Hana. Namun, karena sifatnya yang tidak enak menolak bantuan orang lain, ia akhirnya mengangguk pasrah dan mau mengantarkan Hana.
“Mbak Tari, motornya dipakai enggak?” tanya Hana lagi.
“Enggak. Mau dipakai kapan?”
“Sebentar doang kok, cuma mau bimbingan.”
“Jangan sampai maghrib ya, soalnya aku mau berangkat ngajar les,” pesan Tari. Hana mengangguk cepat sepakat.
Waktu berlalu hingga azan maghrib berkumandang. Motor milik Tari tak kunjung kembali. Tari terpaksa berangkat mengajar dengan berjalan kaki. Tidak lama setelah azan usai, Hana akhirnya pulang. Tanpa rasa bersalah, ia meletakkan tas di kamarnya lalu asyik bersantai memainkan ponsel tanpa ada iktikad untuk meminta maaf atau mengembalikan kunci.
Menjelang isya, Tari baru kembali ke kontrakan dengan wajah lesu. Melihat hal itu, aku menghampiri kamar yang saat itu sedang diisi oleh Tari dan dua teman kami lainnya.
“Kenapa, Tar?” tanyaku bingung melihat raut wajahnya.
Salah satu teman kami yang menjemput Tari di jalan langsung menyahut gemas. “Bisa-bisanya ya, Hana tuh enggak nepatin janji dan enggak ada minta maaf sama sekali karena telat balikin motor! Dia malah diam aja di kamar. Justru mbak yang antar dia tadi yang minta maaf ke Tari lewat pesan singkat. Katanya motornya terpaksa dipakai dulu buat mengantar paket dosennya Hana ke suatu tempat.”
“Terus kamu tadi gimana, Tar?” tanyaku prihatin.
“Ya aku jemput,” timpal temanku lagi. “Bayangin aja, Tari sampai jalan kaki. Untung tadi ketemu aku di jalan.”
“Padahal tempat ngelesinnya lumayan jauh,” gumam Tari dengan suara lemas.
Kami semua hanya bisa mengelus dada. Hana memang terkenal dengan wataknya yang seperti itu. Meski tidak memiliki kendaraan sendiri, ia selalu bersikap pilih-pilih saat meminjam motor teman-temannya. Ironisnya, setelah meminjam hingga bensin habis, jangankan mengisinya kembali, sepatah kata terima kasih pun jarang sekali terucap dari mulutnya.





