Sisa Tenaga Hari Ini
Oleh Nyimas Salsabila Fitri
Sejak semester pertama, aku sudah terbiasa menjalani kuliah sambil bekerja. Awalnya aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya perlu pandai membagi waktu. Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari, membagi waktu saja tidak cukup karena yang harus kubagi ternyata juga adalah tenagaku.
Setiap pagi aku berangkat ke kampus seperti mahasiswa pada umumnya. Mengikuti perkuliahan, mencatat penjelasan dosen, mengerjakan tugas, dan berdiskusi dengan teman. Namun, di sela-sela semua itu, ada pekerjaan yang juga harus kuselesaikan.
Jam istirahat yang seharusnya kugunakan untuk makan dan mengistirahatkan pikiran sering kali kuhabiskan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Teman-temanku mungkin sedang bercanda atau menikmati makan siang. Sementara aku masih duduk di depan layar, berusaha menyelesaikan apa yang belum selesai.
Kadang aku melihat mereka dan berpikir, “Enak ya, bisa istirahat tanpa memikirkan apa-apa.”
Bukan berarti aku tidak bersyukur dengan kehidupanku. Aku hanya lelah.
Perkuliahan biasanya baru selesai pukul 16.30. Saat teman-teman mulai bersiap pulang, aku justru harus bersiap untuk kesibukan berikutnya. Setelah magrib, aku masih harus mengajar.
Di situlah aku sering merasa benar-benar kehabisan tenaga.
Aku berdiri di depan anak-anak sambil berusaha tersenyum dan menjelaskan pelajaran sebaik mungkin. Padahal, pikiranku masih penuh dengan materi kuliah dan tugas yang belum selesai. Tubuhku ingin beristirahat, tetapi aku harus tetap memberikan yang terbaik.
Pernah suatu malam, setelah semuanya selesai, aku pulang dengan tubuh yang terasa sangat berat. Aku masuk ke kamar, meletakkan tas, lalu duduk tanpa melakukan apa-apa.
Aku hanya diam.
Kemudian air mataku jatuh.
Bukan karena pekerjaanku. Bukan juga karena kuliahku. Aku hanya merasa sudah terlalu lama memaksa diri untuk terlihat kuat.
“Aku capek,” bisikku.
Kalimat sederhana itu justru menjadi hal yang paling sulit kuakui selama ini.
Aku pernah berpikir untuk berhenti. Ada saat ketika aku iri melihat teman-teman yang bisa pulang setelah kuliah, tidur lebih awal, atau memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Sementara aku harus terus bergerak meskipun rasanya sudah tidak punya tenaga.
Tetapi setiap kali ingin menyerah, aku selalu mengingat alasan mengapa aku memulainya.
Aku akhirnya mengerti bahwa perjuangan bukan berarti harus selalu kuat. Ada kalanya kita boleh lelah, menangis, dan beristirahat. Yang penting, setelah itu kita mencoba berdiri lagi.
Kuliah sambil bekerja mengajarkanku banyak hal yang tidak pernah kutemukan di dalam buku.
Aku belajar menghargai waktu. Belajar bertanggung jawab. Belajar bahwa uang yang diperoleh dari kerja keras memiliki arti yang berbeda ketika kita tahu betapa banyak tenaga yang dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Dan yang paling penting, aku belajar mengenal diriku sendiri.
Aku ternyata mampu melewati hari-hari yang dulu kupikir tidak akan sanggup kulewati.
Kini, ketika mengingat semuanya, aku tidak ingin menghapus rasa lelah itu. Karena dari sanalah aku belajar.
Mungkin perjalanan ini tidak mudah. Mungkin aku sering berjalan dengan sisa-sisa tenaga.
Tetapi ternyata, sisa tenaga pun cukup untuk membawa seseorang sedikit lebih dekat kepada mimpinya.





