Seragam yang Tak Lagi Sama

Seragam yang Tak Lagi Sama

Oleh Syabrina Wahyuni

Langit sore di balik jendela kelas XII IPA 2 perlahan berubah warna menjadi keemasan. Bau debu kapur yang bercampur dengan aroma minyak kayu putih milik Pak Rahmat guru Sejarah masih tertinggal di udara. Jam dinding tua menunjuk pukul empat sore, menandakan jam belajar mandiri telah usai, namun tiga pasang kaki belum juga beranjak dari bangku paling belakang.

“Kalian yakin tidak mau ikut ke kantin luar? Gorengan Pak Kumis baru matang,” celetuk Dimas membuyarkan keheningan. Tangan kanannya asyik memutar-mutar pensil 2B yang ujungnya sudah tumpul.

Gita, yang sejak tadi menunduk menekuni buku latihan UTBK Matematika, menatap Dimas galak. “Dimas, pendaftaran SNBP tinggal dua minggu lagi, dan nilai simulasi try out kamu masih naik-turun seperti wahana kora-kora. Bagaimana bisa kamu hanya memikirkan tempe mendoan?”

“Justru karena memikirkan UTBK otakku butuh asupan tempe mendoan, Ta,” sahut Dimas tak mau kalah, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit nyaring.

Rian, yang sejak tadi diam mengetik draf esai Beasiswa Garuda di laptop lusuhnya, hanya tertawa kecil. Garis lengkung halus terbentuk di sudut matanya yang tampak lelah karena kurang tidur. “Dimas benar, Ta. Sedikit makan gorengan tidak akan membuat rumus logaritma hilang dari kepalamu.”

“Tuh, kan! Rian saja setuju,” seru Dimas bangga sambil menepuk bahu Rian keras.

Gita mendengus, namun sudut bibirnya tak bisa menahan kedutan senyum. Ia menutup bukunya dengan helaan napas panjang. Tiga bulan lagi, seragam putih-abu-abu ini tidak akan mereka kenakan lagi. Ruang kelas dengan kipas angin gantung yang berdecit lambat ini hanya akan menjadi kenangan yang pelan-pelan berdebu.

Sejak hari pertama MOS ketika Dimas keliru memakai kaus kaki belang-belang, Gita tersesat mencari toilet putri, dan Rian dengan tenang membagikan bekal roti bakarnya mereka bertiga selalu bersama. Mereka adalah tiga karakter yang bertolak belakang: Gita yang ambisius dan teratur, Dimas yang humoris dan santai, serta Rian yang tenang dan selalu menjadi penengah.

“Ngomong-ngomong,” gumam Rian, jemarinya berhenti meluncur di atas kibor. “Kalau nanti kita beda kota, kalian bakal lupa sama aku tidak?”

Dimas dan Gita seketika menoleh. Suara Rian terdengar begitu pelan, berlawanan dengan kepribadiannya yang biasanya tegar. Gita paham kecemasan itu. Rian menaruh harapannya pada universitas di Yogyakarta, Gita menargetkan kampus utama di Jakarta, sementara Dimas berniat melanjutkan usaha keluarga sambil mengambil kuliah malam di kota mereka.

“Pertanyaan bodoh macam apa itu?” Dimas melemparkan penghapus karetnya ke arah Rian, tepat mengenai bahunya. “Kamu pikir tiga tahun aku sudi membagikan jawaban PR Fisikaku hanya untuk dilupakan begitu saja?”

“Jawabanmu banyak yang salah, Dim,” sela Gita lempeng, namun matanya menatap Rian hangat. “Rian, tidak ada yang akan saling melupakan. Bandung, Jakarta, Jogja, atau di sini sekalipun, itu cuma jarak geografis. Lagipula, siapa lagi yang mau mendengarkan ocehan Dimas kalau bukan kita?”

“Hei!” protes Dimas, meski wajahnya tertawa.

Rian tersenyum lega. Ketakutan halus yang mengendap di dadanya perlahan terangkat. Ia kembali menatap layar laptopnya, lalu menutupnya pelan.

“Sudah sore. Ayo ke Pak Kumis,” kata Gita tiba-tiba sambil merapikan alat tulisnya ke dalam tas.

Dimas melotot kaget. “Lho, Gita sang Juara Umum mau makan gorengan Pak Kumis di jam krusial ini?”

“Aku mau makan karena aku lapar, bukan karena ajakanmu,” balas Gita cepat seraya berdiri dan menggendong tasnya. “Dan kamu, Dimas, setelah ini wajib menyelesaikan lima soal bab Probabilitas!”

Mereka bertiga berjalan melintasi koridor sekolah yang mulai sepi. Bayangan tubuh mereka memanjang di lantai semen yang aus. Bunyi langkah kaki, tawa renyah Dimas, serta debat kecil antara Gita dan Rian bergaung di sepanjang selasar merekam sebuah jejak masa muda yang tak akan pernah pudar oleh waktu, bahkan ketika putih dan abu-abu itu kelak berganti warna.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp