45 Hari di Racii

Oleh :Nabila.F

Bagian 34 – Rujak Mangga

Setelah tiga hari berturut-turut dihantam gelombang kegiatan yang cukup menyita energi mulai dari adaptasi posko, keteteran pembacaan acara di balai desa, hingga drama dadakan diba’an di masjid, hari keempat akhirnya berjalan dalam ritme yang lumayan melambat. Tidak ada agenda besar bersama warga, tidak ada seremonial kaku, dan tidak ada lari-lari kecil mencari perlengkapan acara. Hari ini terasa seperti embusan napas lega yang sudah lama kami tunggu-tunggu.

Rutinitas pagi kami berjalan sangat santai, hampir tanpa terburu-buru. Lepas subuh dan sarapan bersama dengan lauk seadanya di dapur, kami membagi tugas membersihkan posko. Bedanya, kali ini tidak ada debu tebal yang harus disapu atau kecoak yang membuat panik seisi rumah. Kami membersihkan posko sambil menyetel musik dari speaker portable, sesekali bernyanyi kencang, dan saling lempar candaan konyol.

Sisa siang kami habiskan untuk benar-benar menikmati jeda. Ada yang selonjoran di ruang tengah sambil menonton video lucu, ada yang sibuk membalas pesan di HP, dan tak sedikit yang memanfaatkan waktu untuk tidur siang membalas dendam atas kurangnya jam tidur dalam tiga malam terakhir. Tawa dan celetukan-celetukan segar terus mengalir tanpa henti. Canggung yang dulu sempat membeku di hari pertama kini benar-benar sudah mencair sepenuhnya. Posko sederhana ini perlahan-lahan mulai terasa seperti rumah sendiri.

Namun, menginjak waktu malam, suasana santai itu harus sedikit diselingi oleh urusan formal. Sebagai struktur pimpinan kelompok, BPH (Badan Pengurus Harian) merasa perlu untuk duduk bersama menggelar rapat internal. Rapat ini krusial untuk menyusun, merapikan, dan memetakan alur program kerja (proker) yang akan kami jalankan selama puluhan hari ke depan.

Struktur BPH kelompok kami cukup unik dan solid. Ada Guz yang menjabat sebagai Koordinator Desa (Kordes), sosok penanggung jawab utama yang pembawaannya tenang. Lalu ada Mpus sebagai Wakil Koordinator Desa (Wakordes), temanku sejak awal berangkat yang selalu sigap backup teknis di lapangan. Jabatan Sekretaris Umum (Sekum) dipegang oleh Mba Bil, sosok yang sangat teliti dan rapi dalam urusan administrasi dokumen. Sedangkan aku sendiri, Moana, mengemban amanah sebagai Bendahara Umum (Bendum) yang bertugas menjaga nafas keuangan kelompok agar anggaran tetap sehat sampai hari ke-45.

Sekitar pukul delapan malam, usai shalat Isya, kami berempat berkumpul di teras depan posko. Namun sebelum lembaran kertas catatan proker dan laptop dibuka, sebuah ide brilian mendadak tercetus di tengah keheningan malam yang hangat.

“Lapar gak sih? Atau mau yang segar-segar gitu sebelum mulai pusing mikirin proker?” celetuk Mba Bil.

“Rujakan enak nih, malam-malam begini. Tapi buahnya beli dimana jam segini?” sahut Mpus.

Guz, sang Kordes, mendadak tersenyum penuh arti. Di antara kami belasan orang, Guz adalah satu-satunya warlok alias warga lokal. Dia tumbuh dan besar di wilayah Raci, jadi seluk-beluk desa hingga tetangga sekitar sudah seperti keluarga sendiri baginya.

“Gampang, tenang aja. Kalian siapin bumbu rujaknya, aku cari buahnya,” ujar Guz santai sambil berdiri dan melangkah keluar pagar posko.

Tanpa butuh waktu lama, Guz kembali ke teras dengan wajah tanpa dosa sambil membawa beberapa buah mangga muda yang masih segar berselimut getah. Kami sempat terperanjat heran melihat betapa cepatnya dia mendapatkan mangga tersebut.

“Lho, Guz! Kamu petik dari mana itu? Jangan-jangan nyolong ya?” tanyaku setengah panik, membayangkan bendahara KKN harus berurusan dengan kasus pencurian mangga.

Guz langsung tertawa lebar. “Sembarangan! Ini petik di pohon tetangga sebelah rumah. Orang rumahnya kenal baik kok sama aku, tadi udah ijin juga pas lewat. Lagian buahnya lagi lebat banget di samping pagar.”

Gelak tawa kami pecah seketika. Mitos kelebihan punya Kordes seorang warga lokal benar-benar terbukti nyata malam itu. Akses buah gratis tanpa perlu ke pasar adalah salah satu privilege terbaik yang kami dapatkan.

Tanpa membuang waktu, kami membagi tugas. Mba Bil dan Mpus bertugas mengupas kulit mangga dan mengirisnya tipis-tipis, sementara aku sibuk mengulek bumbu rujak di cobek batu yang ada di dapur. Cabai rawit, gula merah, sedikit garam, dan terasi dibakar diulek jadi satu hingga mengeluarkan aroma gurih pedas yang langsung memancing air liur.

Sesi rujakan malam itu pun menjadi highlight paling berkesan di hari keempat. Di bawah remang lampu teras dan hembusan angin malam Desa Raci, kami berempat beserta beberapa anak lain yang ikut merapat karena tergiur aroma bumbu menikmati iris demi iris mangga muda yang asam renyah, dicocol ke sambal gula merah yang pedas menggigit. Sensasi pedas dan asam yang menyengat di lidah membuat rasa kantuk dan lelah menguap seketika. Gelak tawa bersahut-sahutan setiap kali ada yang kepedasan hingga meneteskan air mata.

Setelah piring rujak bersih tak bersisa dan rasa pedas perlahan mereda, barulah meja rapat BPH resmi dibuka. Dengan perut kenyang dan kepala yang mendadak segar berkat sengatan cabai rawit, diskusi mengenai proker berjalan dengan sangat lancar dan produktif.

Mba Bil dengan sigap mencatat setiap poin penting dan draft linimasa kegiatan. Mpus memberikan masukan-masukan taktis mengenai pembagian lapangan, sementara aku mencocokkan setiap rencana proker dengan alokasi kas keuangan yang ada di catatanku. Guz memimpin jalanya rapat dengan memberikan arahan yang pas, mempertimbangkan karakteristik warga desa yang sangat dia pahami sebagai warga lokal.

Rapat BPH malam itu baru berakhir menjelang tengah malam. Kertas-kertas rencana proker kini sudah tertata rapi, siap untuk dipresentasikan ke seluruh anggota kelompok esok hari. Kami menutup laptop dengan perasaan puas. Hari keempat ini mungkin tidak riuh oleh acara besar, tetapi kebersamaan di teras posko, kesegaran rujak mangga tetangga, dan kehangatan diskusi BPH membuat kami makin yakin bahwa tim ini siap menghadapi tantangan hari-hari berikutnya.

 

bersambung…

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp