Kanvas Semesta
Oleh: Roudhatul Jannah
Di atas kepala kita, sebuah bentangan tanpa batas membiru dengan megah. Langit adalah saksi bisu yang paling setia, merekam setiap helai doa yang melesat dari bumi, menampung jutaan air mata yang menguap dari luka-luka manusia. Ia tidak pernah menghakimi mengapa awan kelabu datang mendung, sebab ia tahu, setelah badai yang paling hebat sekalipun, warna biru yang damai akan selalu menemukan jalan untuk pulang kembali ke rumahnya yang lapang.
Saat fajar menyingsing di ufuk timur, langit melukis dirinya dengan warna jingga dan merah muda yang lembut. Sebuah sambutan hangat bagi jiwa-jiwa yang baru bangun dari mimpi, memberikan harapan baru bahwa hari ini akan menjadi cerita yang lebih baik. Namun ketika senja mulai menyapa, langit berubah menjadi panggung drama yang romantis, perlahan meredup menenggelamkan sang surya ke dalam pelukan malam yang sunyi dan dingin.
Lalu kegelapan datang menyelimuti, tetapi langit tidak pernah benar-benar membiarkan kita sendirian dalam gulita. Ia membentangkan selimut hitam yang ditaburi miliaran permata kecil yang bersinar terang bernama bintang. Rembulan bertindak sebagai lentera malam, menemani malam-malam sepi para pemimpi yang menatap ke atas dengan penuh harap. Di sana, di antara gugusan galaksi yang jauh, tersimpan misteri masa depan yang belum terpecahkan.
Kita sering kali lupa mendongak ke atas karena terlalu sibuk menatap tanah tempat kita berpijak sekarang. Padahal, langit selalu mengajarkan kita tentang arti keikhlasan dan kelapangan dada yang tiada bertepi. Ia menerima awan hitam, petir yang menyambar, maupun pelangi yang indah dengan keanggunan yang sama. Menjadi luas berarti selalu siap menampung segala rasa tanpa harus kehilangan jati diri.