Berpijak di antara Pilihan

Berpijak di antara Pilihan

Oleh Rizkha Nafanda Wulandari

Udah ga asing bagi kita untuk menjalani hidup ini seperti serangkaian pilihan yang nggak ada habisnya. Hal yang paling sederhana seperti menu makan hari ini, outfit yang akan dikenakan, tugas mana yang harus dikerjakan lebih dulu, dll selalu menuntut kita untuk menentukan pilihn. Lucunya, kita sering mengeluh ketika dihadapkan banyak pilihan. Terlalu banyak pertimbangan membuat kepala penuh, terlalu banyak kemungkinan membuat kita salah langkah. Namun, disisi lain, ketika pilihan dibatas kita justru merasa tidak punya kendali atas hidup sendiri. Seolah-olah kita ingin bebas menentukan arah, tetapi kebebasan itu sendiri terkadang membuat kita kebingungan.

Gagasan the paradox of choice menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan yang tersedia tidak menjamin semakin besar kebahagiaan yang kita rasakan. Ketika tidak ada pilihan, kita merasa buntu dan bingung. Ketika hanya ada beberapa pilihan, kita merasa masih punya kendali. Namun, ketika terlalu banyak pilihan terbuka di hadapan kita, kita justru merasa kewalahan. Kita mulai membandingkan satu kemungkinan dengan kemungkinan lainnya, memikirkan apa yang mungkin dapatkan, sekaligus mencemaskan apa yang mungkin kita lewatkan. 

Contoh sederhananya, ketika memilih produk yang akan di-check out dari keranjang, mungkin terbesit dipikiran kita tentang produk lain serupa yang tidak kita beli. Ketika sudah memilih satu, kita akan mulai membayangkan opsi produk lain yang mungkin lebih menjanjikan. Bahkan setelah mengambil keputusan, terkadang kita masih sibuk memikirkan “sepertinya lebih worth it produk yang satunya itu deh”. Karena tidak jarang setelah kita checkout algoritma menampilkan opsi lain yang lebih menarik.

Akhirnya, kita terlalu sibuk membayangkan kehidupan yang mungkin terjadi sampai lupa menjalani kehidupan yang sedang kita pilih.

Padahal, hidup memang selalu tentang pilihan. Bahkan ketika kita tidak memilih, sebenarnya kita tetap sedang menentukan sesuatu. Memilih untuk diam adalah keputusan, menunda adalah keputusan, dan membiarkan keadaan berjalan begitu saja pun bisa menjadi keputusan. Sebab, jika kita tidak menentukan arah sendiri, bisa jadi keadaanlah yang akan menentukan ke mana kita melangkah. Kalau bukan kita yang memilih, mungkin kitalah yang akhirnya dikendalikan oleh keadaan.

Namun, ada satu hal yang menarik. Ketika keadaan lebih dulu memilihkan sesuatu untuk kita, bukan berarti kita kehilangan seluruh kendali. Kita mungkin tidak bisa memilih situasi yang datang, tetapi terkadang kita masih punya kesempatan untuk menentukan sikap: menerima, memperjuangkan, mengubah, atau melepaskannya.

Lalu, bagaimana kita tahu bahwa pilihan yang kita ambil merupakan pilihan yang baik?

Menurutku, kita perlu memahami bahwa baik dan buruknya pilihan tidak selalu bisa dinilai dari apa yang terlihat di awal. Pilihan yang terasa nyaman hari ini mungkin membawa kesulitan di kemudian hari. Sebaliknya, pilihan yang terasa berat sekarang bisa menjadi jalan bagi kita untuk bertumbuh.

Karena itu, kita perlu membedakan antara keputusan dan hasilnya. Keputusan yang sudah dipertimbangkan dengan matang pun tidak selalu berakhir sesuai harapan, sebab ada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Jadi, bukan hanya hasil akhir yang penting, tetapi juga alasan, pertimbangan, dan kesadaran di balik keputusan tersebut.

Sebelum memilih, barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang aku cari? Apakah pilihan ini memang sesuai dengan nilai yang aku yakini, atau aku hanya takut tertinggal dari orang lain? Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun kehidupan yang terlihat baik di mata orang lain, tetapi terasa asing ketika kita sendiri yang menjalaninya.

Kita memang tidak selalu bisa memastikan bahwa pilihan kita akan membawa hasil terbaik. Namun, setidaknya kita bisa berusaha memilih dengan sadar, memahami konsekuensinya, dan berani bertanggung jawab atas apa yang telah kita putuskan.

Kalaupun suatu hari pilihan kita ternyata tidak berjalan sesuai harapan, bukan berarti hidup kita telah salah arah. Kita masih bisa belajar, mengevaluasi diri, dan menentukan langkah yang berbeda. Sebab, pilihan hari ini tidak selalu menjadi keputusan yang mengikat kita selamanya.

Jadi, kalau sekarang kamu sedang berada di persimpangan jalan, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Pertimbangkan baik-baik, dengarkan dirimu sendiri, lalu tentukan langkah yang ingin kamu ambil. Kamu tidak harus mengetahui seluruh hal yang menantimu di ujung jalan. Terkadang, kamu hanya perlu cukup berani untuk melangkah.

Sebab, hidup bukan tentang memastikan bahwa kita tidak pernah salah memilih. Hidup adalah tentang belajar memilih dengan sadar, menerima konsekuensinya dengan lapang, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk tumbuh dari setiap jalan yang pernah kita lalui.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp