Oleh: Muhammad Thoriq Abdul Jabbar
Kamu pernah enggak, duduk berjam-jam di depan buku, tapi begitu disuruh mengerjakan atau menjawab soal, otak serasa kosong melompong? Atau bertanya ke mana-mana sampai kaki lelah, tapi esoknya malah sakit sampai tidak bisa berangkat sekolah? Kalau iya, selamat datang di sirkel yang anggotanya jutaan orang, tetapi jarang ada yang mau mengaku
Dan pertanyaan yang sering kita hindari adalah: sebenarnya, ilmunya yang susah atau kita yang kurang berusaha?
Kita lebih suka menyalahkan ilmunya
Jujur saja. Ketika kita gagal memahami sesuatu, respon pertma kita seringkali hampir selalu sama:
“ falak memang susah.”
“ faroidh itu nggk semua orang bisa.”
“ bahasa inggris susah kareana kita bukan orang sana.”
Kalimat-kalimat itu terasa melegakan. Sebab, kalau ilmunya yang salah, kita tidak perlu berubah. Kita bisa duduk tenang sambil ngopi di ujung lorong, merasa wajar karena banyak orang yang bernasib sama, lalu melanjutkan hidup tanpa rasa bersalah. Namun, ada masalah besar dengan cara berpikir seperti itu: ia membuat kita berhenti sebelum benar-benar memulai.
Ada yang Berhasil Memahami Hal yang Sama
Coba pikir lagi. Pelajaran yang kamu anggap sulit itu sebenarnya bisa dikuasai oleh orang lain. Bahkan, tidak sedikit yang menikmatinya.
Merek bukan hasil eksperimen, bukan alien, dan bukan pula orang yang lahir dengan IQ 1000. Kebanyakan dari mereka hanya melakukan hal sederhana secara konsisten: mereka tidak menyerah di titik tempat kamu mulai menyalahkan ilmunya.
Ini bukan soal bakat. Dalam kitab Ta’lim Muta’allim karya Syekh Az- Zarnuji, dalam Bab 5 menegaskan:
وقيل: من طلب شيئا وجد وجد، ومن قرع الباب ولج ولج. وقيل: بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى.
“Siapa yang bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu, pastilah ia menemukannya. Barang siapa yang mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti akan dapat memasukinya.”
Dikatakan pula: “Sejauh mana usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu.”
Poin utamanya adalah kunci dalam mencari ilmu terletak pada Al-Jidd (kesungguhan), Al-Muwadzabah (ketekunan), dan Al-Himmah (cita-cita yang tinggi).
Tapi tunggu…….pelajaran memang ada yang sulit!
Kita juga harus menimbang kembali. Mungkin benar pelajran itu sulit , tapi kesulitan belajar bukna hanya soal malas atau kurang usaha. Ada faktor lain yang membuat proses belajar menjadi sulit:
- Metode belajar yang salah. Membaca materi berulang-ulang terasa produktif, tetapi penelitian sekarang menunjukan menujukan metode ini sudah tidak efisien kembali.
- Materi belajar yang tidak sesuai. Kalkulus untuk pelajaran kelas 6 SD, itu seperti kantong ukuran 1 kg di isi 10 kg.
- Dan Lain sebagainya.
Jadi ilumya bisa memang sulit, tapi sulit bukan berarti tidak bisa, melainkan belum saatnya.
Yang membedakan bukan kecerdasan, tapi Strategi
Di sinilah letak perbadaan sebenarnya. Orang yang berhasil menguasi suatu hal yang sulit bukan hanya lebih keras dalam berusaha, tapi juga lebih cerdas dalam berusaha. Sepeeti halnya:
Mencari tahu dimana titik buntunya, bukan langsung menyimpulkan “ini terlalu sulit buat saya.” Mengubah cara belajar ketika cara yang lama sudah tidak efesien. Dan meminta bantuan kepada yang lain, sebelum rasa frustasi menjadi keyakinan bahwa diri ini tidak bisa.
Lebih simpelnya, mereka memperlakukan kesulitan sebagai lampu kuning yang harus berjalan pelan pelan, bukan lampu merah yang artinya berhenti.
Jadi sebelum kamu menyimpulkan suatu ilmu itu memang sulit, coba tanyakembali pada dirimu yang paling dalam:
“ sudahkah saya berusaha lebih keras dan lebih cerdas ?.”
Ilmu memang bisa susah. Dan kita juga bisa kurang berusaha. Keduanya tidak saling membatalkan. Yang penting adalah kita tidak berhenti pada pertanyaan yang salah. Bukan “ini sulit atau tidak?” tapi “apa yang harus aku ubah agar aku bisa memahaminya?.”
Karena pada akhirnya, ilmu tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Yang sering menutupnya adalah diri kita sendiri, terlalu dini, terlalu cepat, sebelum benar-benar terselesaikan.