Bukan Pacar, Tapi Kehilangan Separuh Hidup

Bukan Pacar, Tapi Kehilangan Separuh Hidup

Oleh Amalia Ayu Putri Roosyidah

Malam itu, di antara deru bising kipas angin tua dan layar ponsel yang menyala redup, jemariku gemetar di atas layar retak. Ada napas yang tertahan di tenggorokan, berat, seolah udara di kamar kos ini mendadak berubah menjadi timah.

“Bakar semua foto kita. Hapus semua hal tentang aku.”

Pesan itu terpampang telak, dingin, tanpa sisa ampun. Tidak ada angin, tidak ada hujan atau setidaknya begitu yang selalu kupikirkan sebelum badai kesekian kalinya ini datang menerjang. Tangan yang tadinya hendak mengetik balasan panjang mendadak lemas. Dingin menjalar dari ujung jemari hingga dada.

Tiga tahun. Waktu yang cukup panjang untuk menumbuhkan rasa, lalu memangkasnya habis hingga akar-akarnya berdarah.

Semuanya bermula dari ruang kelas sembilan yang berbau debu kapur dan kertas ujian. Di sudut ruangan, saat hiruk-pikuk peserta lomba cerdas cermat matematika perlahan mereda, mataku menangkap sosoknya. Ia duduk dengan kacamata berbingkai kotak yang memantulkan cahaya lampu neon.

Tinggi, berkulit bersih, dengan garis rahang dan pembawaan tenang yang mengingatkanku pada karakter anime favoritku erotaka Nifuji. Sosok fiksi yang mendadak menjelma menjadi nyata di hadapanku, duduk di bangku deretan seberang, memegang lembar soal dengan jemari lentiknya.

Kami hanya saling bertukar nama saat itu. Berlanjut pada sebuah pesan singkat malam hari demi menanyakan rumus bab PPKn, lalu berujung pada daftar kontak WhatsApp yang saling membisu. Kami hanya penonton setia. Saling melihat story satu sama lain, mengintip potongan kecil hari-hari masing-masing tanpa pernah benar-benar menyapa di lorong sekolah.

Hingga takdir atau barangkali kebetulan yang terlalu manis untuk disebut kebetulan mempertemukan kami kembali di hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tingkat SMA. Di ruangan gugus yang sama. Kursiku tepat berada satu jengkal di depan mejanya.

Sejak hari itu, lorong sekolah dan ruang kelas unggulan menjadi saksi bisu bagaimana rasa itu tumbuh tanpa pernah diberi nama resmi. Kami terikat oleh prinsip yang sama sebuah pagar tak kasat mata yang melarang hubungan pacaran karena keyakinan dan keterlibatan kami di organisasi rohani sekolah. Kami memilih berjalan di garis abu-abu. Hubungan tanpa status yang oleh orang luar dilihat sebagai kemesraan, namun di dalam diri kami menyimpan ketakutan sekaligus kecemburuan yang membakar.

Ia lelaki pencemburu. Matanya lekat mengawasi setiap gerak-gerikku, melarangku terlalu akrab dengan teman lelaki lain, meminta batasan-batasan ketat yang kuberikan bukan karena terpaksa, melainkan karena aku terlalu takut kehilangannya. Dan aku menerima itu semua. Aku mematikan ruang gerakku sendiri, menepis segala sapaan ramah demi menjaga hatinya yang rapuh terhadap curiga.

Namun, porselen yang retak cepat atau lambat akan pecah juga.

Bulan Ramadan datang membawa jarak. Pesan-pesan yang biasanya mendarat setiap pagi mendadak lenyap diganti keheningan panjang. Lebaran tiba tanpa ucapan selamat dari bibirnya. Dan ketika jemariku tak tahan lagi mengetik tanya, balasan dingin meluncur tanpa perasaan: sebuah keputusan bulat untuk berhenti. Alasannya klise, tapi menghujam telanjang: aku dianggap melanggar kepercayaan karena terlalu ramah kepada dunia luar.

Beberapa bulan berlalu dalam sunyi yang pekat. Aku sempat merajut selembar sweater hangat dengan jemariku sendiri, berniat menghadiahkannya di hari ulang tahunnya sebagai jembatan yang runtuh. Meski akhirnya ketakutan membuatku memilih membelikan yang baru, senyum tipis yang ia berikan saat menerima barang itu sempat membuatku percaya bahwa kami masih punya sisa hari esok.

Kami sempat kembali. Masuk ke tahun terakhir sekolah, hari-hari kami terasa jauh lebih manis. Bioskop, kafe sudut kota, dan bilik photobox menjadi saksi tawa kami yang berderai. Aku mulai berani merajut mimpi tentang masa depan yang lebih jauh dengannya.

Hingga malam itu tiba. Sebuah kesalahan kecil bertanya kabar melalui sahabat terdekatnya karena nomor utamaku masih terblokir menjadi bara yang membakar seluruh bangunan kepercayaan yang susah payah kami dirikan kembali.

Ponsel di tanganku berdengung sekali lagi. Layar itu buram oleh bulir air mata yang jatuh tanpa kutahan. Sesenggukan kecil lolos dari bibirku yang kelu.

“Percuma dijelasin juga aku capek. Kamu enggak pernah berubah, bahkan makin parah. Kalau takdir, kita pasti bakal ketemu lagi.”

“Takdir tidak perlu mempertemukan kita lagi,” bisikku lirih pada udara kosong di kamar kos yang temaram.

Jariku bergerak kaku, menekan tombol block di seluruh media sosial yang kami miliki. Tak lama berselang, seolah semesta sepakat untuk membersihkan sisa-sisa kenangan itu, ponsel di tanganku mati total rusak, membawa serta ribuan foto, tangkapan layar chat, dan memori yang belum sempat kuhapus.

Kini, di atas meja belajar yang sepi, aku duduk menatap cermin dengan lembaran kertas kosong di hadapanku. Tidak ada lagi bayangan tentangnya di setiap sudut kepala. Aku belajar bernapas tanpa harus menahan diri, berjalan dengan langkah yang lebih tenang, dan merawat sisa-sisa harga diri yang sempat kutebar begitu murah demi sebuah kata “cinta” yang tak bertuan.

Pintu itu belum sepenuhnya tertutup rapat, namun untuk pertama kalinya, aku melangkah maju bukan untuk mencarinya, melainkan untuk menemukan diriku sendiri.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru