Ketika Cinta Menjadi Luka
Oleh Bahrul Ilmi

Entah sengaja atau kebetulan, khutbah Jumat hari ini seolah-olah tahu apa yang sedang aku rasakan. Khatib tadi sedikit membahas tentang cinta. Salah satu ungkapannya adalah, “Cintailah siapa yang kamu suka, karena kamu akan berpisah dengannya.” Kemudian khatib melanjutkan, “Seberapa besar kamu meletakkan cintamu pada sesuatu, maka sebesar itu pula kamu akan merasakan sakitnya.”
Seketika aku teringat kisah cintaku yang sudah berjalan selama kurang lebih enam bulan. Namun, belakangan ini semuanya terasa hancur. Dulu aku sangat bahagia dengannya, dan dia juga terlihat begitu bahagia bersamaku. Kami sering bermain bersama, jalan-jalan, bercerita tentang banyak hal, dan seolah-olah dunia ini hanya milik kami berdua.
Dulu aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari aku akan merasakan sakit hati karena orang yang sama-sama mencintaiku. Bukankah kami pernah berjanji untuk saling menjaga? Bukankah dulu kami pernah membicarakan banyak hal tentang masa depan? Namun ternyata, tidak semua yang direncanakan harus menjadi kenyataan.
Apa yang dikatakan khatib Jumat tadi benar-benar terjadi kepadaku.
Aku menundukkan kepala. Suasana masjid yang ramai perlahan terasa begitu sunyi. Di antara suara orang-orang yang mulai meninggalkan masjid, pikiranku justru semakin ramai. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya, tetapi tidak satu pun yang mampu keluar dari mulutku.
Sebenarnya, apa yang berubah?
Apakah perasaannya sudah tidak sama? Apakah aku yang terlalu berharap? Atau memang sejak awal aku terlalu jauh meletakkan kebahagiaanku pada seseorang?
Aku terdiam cukup lama.
Enam bulan mungkin bukan waktu yang sangat panjang bagi sebagian orang. Namun bagiku, enam bulan cukup untuk membuat seseorang menjadi bagian dari rutinitas, bagian dari cerita, bahkan bagian dari doa-doa yang diam-diam selalu aku panjatkan.
Aku terbiasa menerima kabarnya setiap hari. Terbiasa menceritakan hal-hal kecil kepadanya. Ketika ada sesuatu yang membuatku bahagia, dia adalah orang pertama yang ingin aku beri tahu. Begitu juga ketika aku sedang lelah atau memiliki masalah, aku selalu merasa bahwa bercerita kepadanya akan membuat semuanya terasa lebih ringan.
Namun sekarang semuanya berbeda.
Pesan yang dulu selalu kutunggu kini justru membuatku takut. Percakapan yang dulu membuatku tersenyum kini sering berakhir dengan diam. Bahkan hal-hal sederhana yang dulu terasa menyenangkan kini berubah menjadi sesuatu yang membuat dada terasa sesak.
Mungkin inilah yang dimaksud oleh khatib tadi.
Bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Bukan pula tentang siapa yang pergi dan siapa yang ditinggalkan. Tetapi tentang bagaimana kita menempatkan cinta di dalam hati.
Aku mulai sadar bahwa mungkin selama ini aku terlalu menggantungkan kebahagiaanku kepada manusia. Aku mencintainya begitu dalam sampai lupa bahwa manusia bisa berubah, manusia bisa pergi, dan manusia tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Aku kembali mengingat satu hal yang sering kudengar sejak kecil: apa pun yang kita cintai di dunia ini pada akhirnya akan meninggalkan kita, entah kita yang meninggalkannya atau ia yang lebih dahulu meninggalkan kita.
Untuk pertama kalinya, aku mencoba menerima kemungkinan bahwa kisah ini mungkin tidak akan berakhir seperti yang selama ini aku bayangkan.
Mungkin kami memang dipertemukan untuk saling mengenal, saling belajar, lalu pada akhirnya saling melepaskan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Aku juga tidak tahu apakah hubungan ini masih bisa diperbaiki atau justru harus benar-benar berakhir. Yang aku tahu, aku tidak ingin terus memaksa sesuatu yang mungkin memang sudah tidak ditakdirkan untuk bertahan.
Aku menghela napas panjang.
Hari ini aku pulang dari masjid dengan perasaan yang berbeda. Masih ada sakit, masih ada kecewa, dan masih banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Namun setidaknya aku mulai memahami satu hal:
Tidak semua yang kita cintai harus kita miliki selamanya.
Ada kalanya seseorang hadir untuk memberikan kebahagiaan. Ada kalanya seseorang hadir untuk memberikan pelajaran. Dan ada pula yang hadir hanya untuk mengajarkan kita bagaimana cara kehilangan.
Mungkin, kisah cintaku selama enam bulan ini bukan tentang bagaimana aku mendapatkannya.
Mungkin, kisah ini tentang bagaimana aku belajar mencintai tanpa kehilangan diriku sendiri.
Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar harus berpisah dengannya, aku berharap aku bisa mengingatnya bukan sebagai seseorang yang pernah menghancurkanku, tetapi sebagai seseorang yang pernah hadir dan membuatku belajar tentang arti cinta, kehilangan, dan keikhlasan.