oleh : zahra sumayyah
Jalan lengang yang mengisahkan harapan
Ketika manusia dan egonya menjamah gelap dan membaurkan ketenangan
Saat itulah aku membisukan lisanku
Membutakan metaku
Dan memasrahkan sukmaku pada keheningan
Bagaimana lagi aku harus menjelaskan
Wahai diri
Yang tenggelam dalam gelak semu yang menyesatkan
Bukankah alam telah mengajakmu berfikir?
Aku berteman dengan kelalaian
Bersenda gurau dengan detik yang tak sedikitpun membalas senyum
Dingin
Ia terus meninggalkanku dengan kelengahan dan lenguhan berantakan yang membuat detik kian jengah
Ada mata dengan duanya yang berbinar sempurna
Menjelajah gerlap dan gegap gempita dunia
Terlihat indah dan menggoda tapi busuk dan hancur hakikatnya
Ada telinga yang setia dengan duanya
Yang lincah mencari berita dan menjaring fitnah dari milyaran lisan yang bergentayangan diluar sana
Ada tangan yang setia dengan duanya
Yang senantiasa menabung hisab dan perhitungan panjang
Ada kaki yang setia dengan duanya
Mendatangi majelis-majelis penuh lagho dan tawa
Meninggalkan majelis penuh tangisan dan kehadiran hati pada Pembolak-baliknya
Apa-apaan ini wahai diri? Ini nasehat dari sanubarimu sendiri
Peringatan bahwa kerusakan hatimu telah hampir menguliti nurani
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Author
Post Views: 6