Oleh: Nurmiati Habib
Akhir Semester
Waktu
bergulir begitu cepat, tanpa terasa akhir semester sudah di depan mata bagi
para mahasiswa yang haus akan liburan setelah satu semester sibuk dengan
kegiatan kuliah. Begitupun dengan Hanna, ia kegaiatannya masih sama setiap harinya,
pagi kuliah siang ke perpus dan sore harus menjadi tutor anak-anak sekolah
dasar yang memang butuh dampingan dalam proses belajar mengajar. Semua itu
dilakukan Hanna dengan senang hati tanpa ada rsa ngeluh karena yang terpenting
dalam hidupnya saat ini ia bisa menghidupi dirinya untuk bertahan hidup di
tanah rantau. Ketika liburan semester tiba,Hanna tetep harus berfikir memutar
otak untuk bagaimana menghasilkan uang. Akhirnya ia memutuska untuk bekerja
sampingan di perpustakaan kampus yang bertugas untuk membereskan buku-buku yang
dipinjam mahasiswa dan merapihkannya kembali ke tempat semestinya. Apapun akan
Hanna kerjakan dan yang terpenting halal.
Sorak-sorai
melepas akhir tahun dan akhir semester sudah terdengar di penjuru kampus, ada
yang puas dengan nilai yang didapatkan, ada juga yang masih harus berurusan
dengan dosen untuk memperbaiki nilai di masa enjury time, ada juga gerombolan
aktifis mahasiswa yang masih diskusi di saung-saung kampus, dan masih banyak
sekali kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus pada akhir semster tanpa
terkecuali Hanna dan Sania.
“Han besok udah libur semester nih
dan akhir tahun juga, yuk liburan bosen gwe di kos kampus kos kampus. Gitu-gitu
mulu hidup gwe kan membosakan, ayuklah jalan-jalan kemana gtu”.
“Gwe gak bisa San, kan Lo tau gwe
kerja sampingan di Perpus kampus”.
“Ah gak asik lo, seminggu kedepan
libur kali kan hari raya natal sekaligus lanjut tahun baru, masa iya kampus
tetep buka, udah kayak kerja apa aja’.
“Iya deh iya gwe usahain untuk
beberapa hari ke depan kita jalan-jalan khusus waktu buat kamu, haha udah kayak
pacaran aja ya kita berdua”.
“Duh mit amit kali yak gwe pacaran
sama lo, bisa-bisa hidup gwe lurus-lurus aja”.
“Hhaaha, asik lah.. mau kemana nih?
Kalau bisa jangan di Malang tapi ya jangan jauh-jauh juga, gwe tuh pingin
banget gtu ke tempat wisata yang penuh keindahan tapi banyak cerita mistis, dan
kita disana memcahkan itu semua. Duh asik banget kayaknya”.
“Gila lo ya, kita tuh mau liburan
bukan jalan-jalan ke alam lain, kayak nyawa lo ada sepuluh aja, endingnya takut
juga aja pakek sok-sokan pengen jadi kayak detektif gitu, Han..Han..”.
“Ya gak ada salahnya kali ya,
berarti imajinasi gwe kuat dong tentang hal-hal kayak gituan, tinggal
realisasinya Hahaha”.
“Ya Allah lindungi teman gwe satu
ini, cantik-cantik kenapa otaknya gesrek ya Allah, berikan kuasamu agar kembai
ke jalanmu”. (ucap Sania sembari wajah yang ngejek”
“Apa-apaan sih lo San, lo kira gwe
gila apa yaaaa, Udah deh mau kemana?”. (tanya Hanna)
“Sans dong, gwe kan cuma bercanda,
Han lo masih inget Panji kan? yang anak geofisika, dulu pernah deket banget
sama kita jaman-jaman maba hits hehe”.
“eh iyaa inget banget lah gwe,
sesibuk apapun dia gwe gak bakal lupain kebaikan dia waktu awal-awal gwe datang
ke sini, gimana ya kabar dia sekarang, udah lama gwe gak denger kabarnya, Cuma
liat instastory dan itupun jarang deh, yaa maklum dia kan orang sibuk, aktifis
juga kayaknya ditambah dia tangan kanannya salah satu dosen di jurusannya.
Yaudah lah tambah tenggelem tuh Panji di auditorium fakultas HAHAHA”. (jawab
Hanna)
“Dia baik kok, kemaren masih ngechat gwe kan
lo tau gwe satu organisasi daerah sama dia, ya walaupun dia jarang kumpul sih,
tapi dia masih aktif bales-bales info-info di grup.Dia kemaren bilang ke gwe,
kalau dia ngajakin ke Banyuwangi, disana terkenal dengan wisata yang indah juga
ditambah dia kakeknya dia asli orang sana kan enak tuh” (tawaran Sania pada
Hanna)
“Eh asik tuh,gwe juga belum pernah
kesana, kayaknya keren juga gwe kemaren liat di explore wisata-wisata
Banyuwangi yang udah mendunia gtu. Terus gwe baca artikel juag kalau disana
terkenal dengan mistisnya juga, kayak kemaren tuh kan yang lagi viral ada
Festival Santet di Banyuwangi, duh menantang sekali” (ucap Hanna sambil
membayangkan semuanya)
“Bener-bener gesrek nih Hanna
Mahira, Iya udh lo setujukan kalau kesana? Nanti gwe omongin ke Panji” (tanya
Sania)
“Iya gwe setuju, kabarin aja info
selanjutnya”.
“Sip dah, udah yuk pulang, ngantuk
gwe, semaleman bagadang mikirian Kak Bisma”.
“Kak Bisma lagi, Kakk bisma lagi,
heran gwe kenapa sih di otak lu pikirannya Cuma dia doang, kayak gak ada cowok
lain aja”
“Dia itu tipe gwe banget Hahahha”
(jawab Sania sambil berlari meninggalkan
Hanna)
Dadadadadada Hanna Mahira gwe
pulang duluan (sembari melambaikan tangan)
Hari minggu telah tiba, Sania Hanna
dan Panji sepakat unuk jalan-jalan ke Banyuwangi di rumah kakeknya Panji. Sejak
semalem mereka bertiga sibuk dengan barang-barang yang akan dibawa selama
beberapa hari liburan. Pagi-pagi sekali mereka bangun dan menyiapkan kembali
barang-barang yang belum disiapkan. Mereka akan berangkat nanti sore
mengggunakan kereta dari Stasiun Malang tentunya kereta ekonomi untuk menghemat
pengeluaran. Tanpa lupa, Hanna izin kepada oramg tua untuk liburan ke
Banyuwangi supaya diberi kelancaran.
Pukul tiga sore mereka berkumpul di
stasiun Malang karena harus menukarkan tiket terlebih dahulu dan mengantisipasi
agar tidak terlambat. Hanna ke stasiun menggunakan grab, begitupun dengan Sania
dan ternyata sampai di Stasiun Panji sudah sampai terlebih dahulu. Disusul
dengan Sania dan Hanna yang terakhir sampai karena memang jarak kos Hanna yang
paling jauh dari stasiun.
“Gimana kabar panji?, udah lama gak
bertemu, sibuk banget sih “. ( Hanna sembari menyalami Panji)
“Baik Han, lo kai Han gwe mah masih
sama kayak dulu gini-gini aja”. (jawab panji sembari bergumam lo makin cantik
aja Han). Sebenernya dulu Panji suka sama Hanna, tapi karena Panji tau kalau
Hanna punya prinisip kalau kuliah yang paling penting dan gak mikirin dulu
perihal perasaan. Udah deh jadinya panji mundur secara perlahan sebelum
mengungkapkan.
“Bisa aja lo Nji, lo tuh yang sibuk, tiba-tiba
ngilang,”. (ejek Hana)
“Ehemmmm, please disini masih ada manusia lain
selain kalian” (Sindir Sania)
“Eh iyaa “ (jawab Hanna dan Panji
secara bersamaan)
“Tuh kan, Please ya kita liburan
bertiga, gwe gak mau jadi obat nyamuk diantara kalian, Stopppppppppp” (kata
Sania)
“Udaah lah, apa sih ini,, Gwe udah
cetak tiket kalian. Kita tinggal nunggu keretanya dateng dan berangkat, sekitar
sepuluh menit lagi” (kata Panji)
Akhirnya
kereta yang mereka tunggu telat tiba di Stasiun Malang. Setelah memastikan
tidak ada barang yang ketinggalan, mereka langsung bergegas untuk cek in
terlebih dahulu memastikan pesanan tiketnya.Secara bergantian dan masuk satu
persatu ke dalam kereta. Karena mereka menggunakan tiket yang ekonomi jadi
tempat duduk yang didapatkan
hadap-hadapan. “Han, Lo samping gwe kan?” (tanya Sania). “Iya gwe samping Lo,
khawatir banget sih, gwe ilang sambil”. (jawab Hanna sambil menata tas-tas agar
cukup untuk penumpang lain)
Sembari
menunggu kereta diberangkatkan, mereka bertigapun bersenda gurau menceritakan
apa saja dari hal yang menarik sampai absurd
terutama tentang Panji yang seneng banget ngilang. Sambil memakan snack
yang telah dibeli, sembari melihat orang lain yang sedang memasuki kereta, ada
yang membawa anak, ada yang menenteng koper,kardus dan masih banyak lagi. Ditengah
suasana yang sedang asik, tiba-tiba ada yang berjalan ke arah mereka bertiga
dan menanyakan “Maaf mas mbak, kursi 9D yaa, saya disini” tanyanya “Oh iya mas,
disini disampingku” (jawab Panji)
Selang
beberapa menit dari itu, keretapun jalan menyusuri rel kereta yang memang sudah
mengetahui rutenya. Pemandangan hempasan sawah yang begitu memanjakan mata
membuat mereka seperti menikmati perjalanan ini. Tanpa disadari maghrib telah
tiba yang menandakan waktu sholat telah datang. Hannapun mengawali untuk ke
toilet terlebih dahulu semabri berkata “Guyss, misi gwe ke toilet dulu yaa,
udah maghrib sholat yuk”. “Iyaa Lo duluan”. (jawab Panjia dan Sania) Akhirnya
satu persatu dari mereka sholat secara berganti. Setelah beberapa jam meraka di
kereta, rasa kantuk mulai menyapa dan membuat mereka terlelap hingga satu dua
jam setelahnya tanpa terasa sudah sampai di stasiun Banyuwangi yang menandakan
kereta telah tiba ditujuan akhir.
Mereka
langsung membereskan barang-barang meraka dan memastikan tidak adanya barang
yang tertinggal di dalam kereta serta langsung bergegas keluar kereta, lalu
menemui keluarga paman Panji yang memang sudah menunggu sedari tadi di Stasiun.
Panji menengok kanan kiri untuk mencari pamannya, dan ternyata pamannya juga
sudah melihat Panji dari kejauhan. Panji berlari yang diikuti oleh Sania dan
Hanna dan berteriak “PAMAN”. Setelah berhadapan dengan pamannya, panji seketika
langsung memeluk pamannya yang memang sudah lama tak bertemu.Hanna dan Sania
yang menyaksikan pelepasan rindu antara paman dan ponakanpun ikut menjadi
haru.Setelah melepas rindu, paman mengajak mereka untuk beristirahat di rumah.
Selama
beberapa hari kedepan, mereka akan mengahabiskan waktu di wisata-wisata Banyuwangi untuk mengisi waktu
liburan semester, karena semester depan mereka sudah disibukkan dengan tugas
akhir skripsi yang pasti akan banyak menyita waktu dan. Wisata pertama di mlai
dari mengunjungi Baluran yang memang menjadi salah satu paling diburu
wisatawan. Hamparan rerumputan yang tumbuh di sekitar taman yang luas
menyerupai padang savana yang begitu indah. Dilanjutkan dengan wisata Alas
Purwo yang sangat terkenal menjadi satu tempat wisata yang memiliki tingkat
kemistisan, dan ini wisata yang Hanna paling antusias,karena selama ini hanya
membaca dari artikel kini ia bisa melihatnya secara langsung dan bisa merasakan
seperti apa mitos yang telah berkembang dimasyarakat. Hingga sore hari mereka
menghabiskan waktu disana, karena suasana terasa tidak mendukung seperti hendak
turun hujan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan mencukupkan perjalanan
hari ini.
Keesokan
harinya ia melanjutkan perjalanan ke wisata pantai, yakni pulau merah. Seharian
mereka menghabiskan waktu disana, dari yang bermain air, pasir, bakar-bakar
ikan, bercerita kesana kamari dengan alunan musik yang diiring panji
menggunakan gitarnya. Rasanya syahdu sekali karena suasana di pantai itu. Suara
ombak yang tenang dan alunan petikan gitar yang sangat menyatu menyelaraskan
rasa damai di hari terakhir di kota Banyuwangi. Mereka sangat menikmati liburan
kali ini yang mungkin menjadi liburan mereka terkahir kalinya sebelum sibuk
sidang skrispi, wisuda dan setelah itu mengarungi kehidupan setelahnya.
Bayangan semua itu tampak nyata. Di sela-sela mereka duduk berdua di tepi
pantai karena Sania sibuk dengan selfie dengan ponakan Panji yang memang sangat
menggemaskan.
“Han, apa-apa prioritasmu dalam
waktu dekat” tanya panji
“Kenapa lo tiba-tiba nanya gini”
“Ya gak papa, gwe pingin tau aja”
“Saat ini prioritas gwe cuma satu, gwe pingin cepet
sidang skripsi lalu wisuda, disitu gwe pingin liat tangis kebahagiaan orang tua
gwe karena telah berhasil mengkuliahkan anaknya karena di daerah gwe masih
jarang yang anak yang kuliah, kalau bukan dari keluarga benar bergelimang
harta, ya gitu lah lo buat gwe nangis aja kalau cerita tentang orang tua”
“Ya sorry, kan gwe Cuma mau tau,
terus tentang perasaan Han”
“bosen gwe setiap sama lo pasti
bahasnya itu dan jawabannya masih sama, gwe masih sama dengan Hanna yang dulu,
Hanna yang tidak terlalu memikirkan tentang asmara karena ada prinsip yang
harus tetap dijaga, tapi gwe gak bisa mastiin itu nyampa kapan bakal gini,
intinya gwe mau sidang dan wisuda ulu, kedepannya mau gimana, gwe pasrahin sama
Allah”
“Gwe tetep salut sama lo dari dulu
sampai sekarang” jawaban Panji sembari bergumam dalam hati gwe tetep suka sama
lo Han
Seharian penuh mereka
menghabiskan waktu di pantai itu, karena memang besok harus balik ke Malang
dengan berbagai kesibukan yang sudah menunggu. Setelah membereskan semua
peralatan yang dibawa ke pantai tanpa lupa membawa sampah kembali, mereka
pulang ke rumah kakek Panji untuk beristirahat. Merekapun tidur dengan nyenyak
karena rasa lelah setelah seharian bermain di pantai.
Suara
adzan shubuh berkumandang, menandakan manusia untuk melaksanakan kewajiban.
Kakeknya Panji membangunkan siapapun penghuni rumah, karena memang beliau orang
yang tepat waktu untuk urusan sholat. Hanna yang memang sudah sedari tadi
melaksanakan sholat tahajud dan tidak tidur kembali, ia membangunkan Sania
untuk sholat berjamaah bersamanya.
“San, bangun sholat”
“Nanti ah Han lima menit lagi, gwe
masih ngantuk, Lo gak tau apa gwe kemaren cape banget”
“Heee sama aja lah, lo selalu gitu
kalau dibangunin, gwe gelitikin nih kalau gak bangun”
“Eh eh jangan, udah tau gwe gelian,
iya-iya gwe bangun”
Sambil
mata yang masih menahan ngantuk, Sania mengambil wudhu di kamar mandi.Setelah
itupun mereka melaksanakan sholat subuh secara berjamaah dengan Hanna yang
menjadi imamnya. Ya itulah persahabatan mereka, sudah seperti adik kakak.
Sering banget berantem tapi kalau gak ada kabar seharian udah pada kangen
sendiri-diri. Terlebih Hanna selalu mengingatkan Sania tentang hal-hal baik,
tentunya Hanna mencontohkannya terlebih dahulu, karena ia berfikir cara terbaik
untuk mensharing hal-hal baik adalah mencontohkannya.
Pagi
haripun menyambut, mereka semua akhirnya sarapan dan lanjut untuk mengamasi
baju-baju yang mereka gunakan selama liburan. Setelah selesai semua, mereka
berpamitan kepada kakek dan keluarga Panji lainnya.
“Jangan bosen-bosen nduk maen ke sini,
kapan-kapan harus balik lagi”. (kata Kakek)
“Iya kek, terima kasih sudah menjadi tempat
ternyaman untuk beristirahat selama liburan, insyallah lain waktu jika ada
kesempata kita kesini lagi dan kita juga mohon doanya supaya diberi kelancaran
dalam menghadapi sidang akhir serta kesuksesan untuk kedepannya”.
“Iya nduk, semoga kalian diberi kelancaran
akan harapan-harapan kalian kedepannya”
“Amiin” (kata Panji, Sania dan
Hanna secara serentak)
Setelah
berpamitan mereka langsung menuju ke stasiun karena memang sudah mepet dengan
jadwal keberangkatan kereta. Sekitar enam jam mereka di perjalanan dari
Banyuwangi ke Malang. Sesampainya di stasiun Malang, mereka menggunakan ojek
online untuk sampai di kosan dan inilah akhir dari perjalanan indah di
penghujung semester.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







