AMAL BAIK LAH yang SETIA MENEMANI

Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah

Minggu pagi cerah, tepat jam tujuh matahari menyorotkan
sinar ultraviolet B. Aku terbiasa menjemur badanku di teras rumah.  Abah duduk di depan teras tepat di
belakangku. Dan ama yang sedang menyiapkan kopi khas Dieng untuk jamuan aba. Hari
Minggu adalah “Hari Keluarga” menurut kami, karena aba dan ama setiap hari kecuali
hari Minggu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Sehari-hariku pasti kalian
sudah bisa menebaknya sebagai anak tunggal. Pagi sekolah, siang les, sore
mengaji di pondok pesantren belakang rumah sisanya waktuku habis di dalam
rumah. Maka, abah dan ama sangat memanfaatkan hari Minggu untukku.

“ Bah, ini kopi Dieng kesukaan abah sudah jadi” ucap ama
sambil tersenyum tulus.
“Syukron jaziilan jauzatii”

Matahari semakin panas, aku pun berhenti berjemur lalu
duduk di bawah abah dan ama. Seperti biasanya abah selalu memberi nasihat
untukku.
“Aisyah…abah
pesan kamu tebarkan kebaikan kepada siapa pun dan jangan pernah bosan.
Abah pernah di
nasihati kakekmu
خيرالناس أنفعهم للناس “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat
untuk manusia lainnya”. Kalo temanmu ada yang minta tolong kamu tolong, selagi
kamu mampu menolong dia. Yang setia menemani kamu bukan mereka-mereka yang kamu
tolong tapi, amal kebaikan yang kamu perbuat”.

Nasihat abah pagi itu membuatku teringat kejadian minggu
lalu. Ketika di pinggir jalan, pulang sekolah ban sepedaku kempes jadi terpaksa
aku harus membawanya ke bengkel dahulu. Sebelum sampai tempat bengkel yang
jaraknya agak jauh dari sekolah, tiba-tiba dari belakang ada mobil sedan menyalip
dengan kencang sampai aku terjatuh. Di seberang jalan teman sekelasku melihat.
Tiba-tiba aku teringat pernah menolongnya saat dia kesakitan di sekolah karena
terkena tendangan bola. Kukira dia akan menolongku saat aku jatuh. Ternyata
dugaanku salah, dia mengabaikanku terjatuh di pinggir jalan.

Tak lama, ada seorang wanita dewasa dengan perawakan
tinggi, kulitnya putih menggunakan kerudung biru dengan baju gamis berwarna
hitam menghampiri.
“Ya Allah nak,
kamu kenapa? Ayo bangun. Ada yang luka atau ngga?”.
“Dengkulku aja
ka sedikit luka, tapi gapapa ko. Makasih ya ka”

Ternyata nasihat abah benar telah terjadi di kehidupanku.
Meskipun aba dan ama tak sepenuhnya bersamaku tapi aku merasakan penjagaannya
dari nasihat-nasihatnya setiap hari Minggu.
  

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp