Api yang Nggak Padam

Api yang Nggak Padam

Oleh: Muhammad Ilyas

Malam itu, setelah pertarungan panjang di atas kereta, Kyojuro Rengoku berdiri sendirian menghadapi iblis kuat, Akaza, salah satu dari Dua Belas Kizuki Peringkat Tiga Atas. Tubuhnya tegak, tatapan matanya membara. Tanjiro, Zenitsu, dan Inosuke masih terbaring kelelahan setelah melawan Enmu, iblis bulan bawah pertama. Hanya Rengoku yang cukup kuat untuk maju, hanya dia yang mampu menjadi tameng terakhir bagi semua orang yang ada di kereta.

Pertarungan dimulai dengan hawa mencekam. Akaza, dengan wajah datar namun penuh keyakinan, menawarkan sesuatu yang terdengar begitu menggoda sekaligus hina di telinga Rengoku.
“Jadilah iblis, Rengoku. Tubuhmu bakal lebih kuat, nggak bakal tua, nggak bakal mati. Kita bisa bertarung selamanya!”

Namun, Rengoku hanya tersenyum. Senyum itu bukan senyum sombong, melainkan senyum tenang dari seorang ksatria yang tahu arti kehidupan.
“Tidak, terima kasih. Manusia kuat justru karena hidup itu singkat. Karena fana, kita berjuang sekuat tenaga.”

Kalimat itu membuat udara di sekeliling seakan membara. Pertarungan pun pecah.

Rengoku mengayunkan pedang dengan jurus-jurus pernapasan api yang megah. Setiap tebasan melukis cahaya merah keemasan di udara, seperti matahari yang lahir di tengah malam. Sementara itu, Akaza menyerang dengan tinju kosong yang memiliki kekuatan mengerikan. Tanah terbelah, batu beterbangan, udara bergetar setiap kali serangan mereka bertemu. Kecepatan mereka begitu dahsyat hingga sulit dilihat dengan mata biasa.

Pertarungan berlangsung lama. Luka demi luka terbuka di tubuh keduanya, tetapi semangat tidak pernah padam. Hingga akhirnya, Rengoku memusatkan seluruh tenaga, lalu melompat dengan sorot mata membara.

“Bentuk Kesembilan: Rengoku!”

Tebasan itu berhasil menggores tubuh Akaza cukup dalam, tetapi dalam waktu yang sama, tinju Akaza menghantam perut Rengoku sampai menembus perutnya. Darah mengalir deras, namun Rengoku tidak bergeming. Dengan gigih ia menahan tubuh Akaza, berusaha mengikatnya dengan kekuatan terakhir agar matahari segera muncul dan menghanguskan iblis itu.

matahari perlahan terlihat. Cahaya tipis mulai muncul di ufuk timur. Akaza panik. Ia memutuskan tangannya sendiri yang tertancap di tubuh Rengoku, lalu memutuskan lengannya demi bisa kabur ke dalam hutan yang gelap.

Tanjiro yang menyaksikan semuanya menjerit dalam amarah. Dengan sekuat tenaga ia mengejar, melemparkan pedang Nichirin miliknya. Bilah itu menancap tepat di dada Akaza, namun iblis itu hanya terhenti sejenak, tidak merasakan sakit sama sekali.
“Aku lari bukan karena takut,” ucapnya datar. “Mataharilah yang mengganggu pertarungan ini. Sampai jumpa lagi di pertarungan selanjutnya, Tanjiro.”

Tangis Tanjiro pecah. Ia berteriak lantang hingga suaranya menggema di hutan.
“Rengoku tidak kalah! Dia bertarung sampai akhir! Kau yang lari, dasar pengecut!”

Rengoku terbaring lemah. Nafasnya tersendat, darah membasahi seragamnya. Namun, ia masih mampu menatap Tanjiro dan tersenyum. Senyum itu penuh ketulusan, penuh harapan.
“Teruslah maju… meski berat… jagalah Nezuko… dan lindungi manusia…”

Kata-kata itu menjadi pesan terakhirnya, api semangat yang ia titipkan kepada generasi berikutnya.

Saat matahari terbit sepenuhnya, sinarnya menyinari tubuh sang Pilar Api. Kelopak matanya terpejam perlahan, seolah ia hanya tertidur.

Rengoku mungkin telah tiada, tetapi api semangat dalam dirinya  tidak pernah mati. Api itu tetap berkobar di hati rengoku, di hati semua pemburu iblis, dan di hati manusia yang pernah ia lindungi.

Rengoku tidak pernah benar-benar mati, karena api semangatnya akan terus hidup selamanya.

 

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp