BELAJARLAH DARI PENGALAMAN

Oleh : Fitriatul Wilianti

Aku pernah membaca sebuah pepatah “pengalaman adalah guru terbaik”. Pepatah ini cukup menarik untuk diperhatikan dan juga memiliki makna yang cukup luas, tetapi ketika itu aku hanya tertarik pada satu makna yang ku tafsir sendiri.

“Pengalaman orang lain adalah guru terbaik” seperti itulah aku maknai, ketika itu aku masih duduk di kelas 12 Aliyah, dimana masa-masa penghujung SMA yang akan mengantarkan kita ke jenjang yang lebih tinggi yaitu perkuliahan. Waktu itu aku adalah seorang bocah egois yang belum paham apa-apa aku hanya tertarik mendengarkan cerita-cerita dari orang lain dan langsung menyimpulkan sepengetahuanku dari cerita-cerita itu. Aku anak ke 2 dari 4 bersaudara, kakakku sudah memasuki jenjang perkuliahan dan akan berakhir satu tahun lagi.

Setelah tamat Aliyah Ibuku belum memperbolehkanku untuk melanjutkan studi ke perkuliahan karna mengingat kami dari keluarga yang pas-passan ia menawarkan padaku untuk menunggu kakakku sampai tamat kuliah dan aku membantu ibu dirumah, ibu juga memberikanku pilihan lain, aku akan di perbolehkan untuk kuliah tapi tidak boleh keluar dari lingkup kota Bima artinya tidak boleh merantau lebih jauh dari kota Bima.
Lagi-lagi aku kembali pada pepatah awal “pengalaman orang lain adalah guru terbaik” aku langsung kembali bernostalgia dan mencari-cari contoh pengalaman orang lain yang sudah pernah aku dengarkan.

Dari beberapa pengalaman-pengalaman itu ada beberapa kesimpulan yang aku ambil, dimana setiap orang yang aku dengarkan ceritanya kebanyakan dari mereka yang pernah jeda setahun atau dua tahun untuk tidak melanjutkan kuliah, mereka kesuksesannya belum bisa dipastikan dan akan menunggu lama juga tertinggal jauh dari teman-teman sebaya yang mereka kenal sebelumnya. Itu adalah kesimpulan-kesimpulan mengada yang aku tafsirkan sepengetahuanku.

Kemudian ada juga beberapa kisah anak rantau yang menurutku sangat menggiurkan untuk diikuti, mereka semua memiliki banyak pengalaman menarik untuk diceritakan selanjutnya, yang semakin meyakinkanku untuk coba merantau. Dan ketika aku pikirkan lagi dan lagi, jika aku mengikuti pilihan ibuku untuk hanya kuliah di Kota Bima ataupun untuk jeda setahun baru melanjutkan kuliah, kemungkinan semua pengalaman-pengalaman tak sedap yang pernah kudengarkan dari cerita orang lain akan kurasakan juga. Seperti itulah firasatku.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendengarkan perkataan ibuku dulu dan mengikuti kemauan sendiri. Dan pilihanku adalah melanjutkan kuliah dan merasakan kehidupan sebagai perantau di Kota Malang dimana kakakku berkuliah ataupun di Kota Makassar Kota yang menarik untuk dikunjungi. Dan ketika itu kebetulan disekolahku sudah membuka pendaftaran jalur undangan untuk masuk ke kampus islam negri di indonesia.

akhirnya aku memutuskan mengikuti pendaftaran itu. ketika ibuku mengetahuinya ia tampak biasa saja, ketidaksetujuaannya tidak terlalu diperlihatkan dan aku tidak terlalu menanggapi itu aku hanya terus minta keridhoannya, bapakku juga tidak mempersulit, ia bisa mengikuti semua kemauanku asal itu mengarah ke sesuatu yang bermanfaat.

Akhirnya karna bujukan-bujukanku cukup dapat kupertanggungjawabkan ibuku memutuskan untuk membolehkan aku merantau asal lulus jalur undangan yang aku daftarkan, jika tidak aku wajib mengikuti pilihan ibu. Dan aku sedikit lega atas keputusan ibu, cukup membantuku untuk tetap mempertahankan keyakinanku. Akhirnya pengumuman kelulusan keluar dan aku dinyatakan diterima lewat jalur SPAN PTKIN di UIN Malang jurusan Bahasa Sastra Arab.

Aku sangat legah, kemauanku terpenuhi, Ibu serta bapakku juga menyetujuinya. Akhirnya aku merantau ke kota Malang Untuk menempuh pendidikan di jenjang Universitas, dan yang menyenangkan aku disini tidak sendiri aku punya kakak sebagai tempat berbagi suka dan duka hidup dirantauan, dan bertemu teman-teman baru serta kakak-kakak yang lain yang sangat membantu disini. Dan sekarang aku sudah memasuki tahun kedua di Malang tepatnya di kampusku, perkuliahanku semuanya lancar walaupun ada beberapa mata kuliah yang sampai sekarang belum aku pahami karna tidak aku kenal sebelumnya.

Banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang kudapatkan. Tapi Sayangnya di semester III ini selain tingkat pendidikannya lebih sulit dan harus senantiasa semangat dijalani, dan yang membuatku cukup sedih, kakakku akhirnya di wisuda dan kembali ke kampung halaman, sejujurnya aku senang kakakku di wisuda karena bisa mengurangi beban orangtuaku dari biaya kuliah tapi disisi lain aku kesepian, satu tahun kita bersama-bersama, saat itu aku tidak merasa seperti anak rantauan karna mempunyai kakak sebagai keluarga yang menyalurkan seluruh kepeduliaannya menggantikan ibu dan bapak dirumah.
Akan tetapi fakta bahwa kakakku akan segera pulang membuatku cukup sedih dan kesepian dan rasa kesepian ini mungkin akan berlanjut sampai beberapa tahun kedepan.

Jadi sekaranglah perantauanku dimulai, tidak ada lagi keluarga, hanya ada orang asing bagiku, dan aku harus bisa dan terbiasa mempercayai dan menerima setiap orang-orang baru didekatku dan itu tidak begitu sulit aku hanya perlu tampak selalu bahagiah dan ceriah setiap bertemu dan berkawan dengan orang baru. Dan aku pasti bisa menjalaninya. Semangat kuliah buktikan kalau kita sebagai perantau yang sudah mengorbankan banyak rindu dan materi dari orang-orang di rumah bisa terbalaskan dengan kesuksesan yang akan kita capai, Aamiin.

Dan sekarang aku ingatkan kembali pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru terbaik” jangan sampai dimaknai secara sempit karena makna sebenarnya dari itu sangat luas dan cukup memotivasi jadi semangatlah dan tetap dijalani, apapun itu.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp