Oleh. Charirotut Tohiroh
“Brakkkk”
Tumpukan barangku jatuh dari pelukan tanganku ketika aku terburu-buru untuk memindahkannya ke tempat kos teman kamarku di ma’had. Lulus dari ma’had Sunan Ampel Al-aly UIN Malang mengharuskan ribuan mahasantri untuk bergegas menggusur barang-barangnya yang berada di kamar masing-masing, kutitipkan barangku kepada teman sekamarku terlebih dahulu, karena letaknya yang strategis dan dekat dengan kampus. Karena barangku terlalu banyak jumlahnya, maka aku harus bolak-balik memindahkannya, untung saja ada pinjaman motor dari sahabatku.
Sebelum menggotong barang terakhir, kusempatkan diriku untuk memberi pesan melalui via whatsapp kepada temanku yang mau pulang ke Tulungagung, kebetulan Rosyid (teman satu jurusan) mau pulang kala itu, dan aku menawarkan untuk berangkat bersama menuju stasiun Malang kota baru dengan grab car.
Tak lama kemudian rosyid memesankan grab car, sedangkan aku masih sibuk memgurusi pemindahan barang.
“Rir, kamu dimana?”
“Masih otw ngambil barang yang mau dibawa pulang”
“Ini bapak pengemudi grabnya sudah datang”
“Serius?! aku masih ribet ini, naik turun tangga, tunggu sebentar ya”.
Sesudah itu, kami menemui pengemudi dengan raut muka marah, karena ia telah menunggu kami terlalu lama. Tersadar, bahwa kereta kami akan tiba 10 menit kemudian, dan keadaan jalan raya sedang macet. Dan ketika jalan raya tidak dipenuhi kendaraan, pengemudi kami sengaja memperlambat kecepatan mobil. Karena kesal menunggu kita terlalu lama.
“2 menit lagi” gumamku dengan penuh kekhawatiran
“Hmmm gimana ya” respond rosyid dengan penuh kepasrahan
Sesampainya di depan stasiun, bunyi yang menandai bahwa kereta telah berangkat menggoncangkan hati dan pikiranku. Aku merasa bersalah kepada Rosyid
“Maafkan aku”
“Nggak pa pa, kita bisa beli tiket pemberangkatan selanjutnya”
“Ada jadwal pemberangkatan hari ini, tapi masih 5 jam lagi”
“Ya udah gak papa, daripada nggak jadi pulang”.
Lalu aku membeli dua botol air putih untuk buka puasa, bulan Ramadan membuat kami sadar akan pentingnya kesabaran ketika musibah datang, akan tetapi aku masih sedikit meengeluh padahal akulah yang telah membuat kekacauan ini.
Sambil menunggu, aku sempat tertidur sejenak lalu saya memperhatikan ibu paruh baya. Dari bahasa tubuhnya sudah menunjukkan rasa khawatir, aku hanya diam dan tak lama kemudian ia bertanya
“Mau kemana nduk?”
“Tulungagung buk, panjenengan mau kemana?”
“Saya dari Blitar nduk, dari rumah saudara. Ini saya mau pulang ke Batu tapi belum dijemput sama anak saya. Saya tinggal di rumah hanya dengan anak perempuan saya dan sekarang ia lagi jalan-jalan ke Kediri sama teman-temannya dan ia baru bisa pulang dan jemput saya di stasiun besok seusai subuh, karena ini tadi saya pulangnya dadakan harusnya besok nduk cuman ada beberapa alasan yang mengharuskan saya pulang sekarang. Tapi, saya tidak mempunyai cukup uang untuk ongkos ojek”
“Ibu mau saya pesenin grabbike untuk pulang ke rumah? Rumah ibu di kota Batu sebelah mana ya?”
“Tidak bisa nduk, rumah saya di pelosok hutan, disana jaringan susah untuk didapatkan, saya disana merantau nduk, setelah cerai dengan suami, saya ajak anak perempuan saya untuk bekerja di kebun di sekitar rumah untuk menyambung kehidupan”
Dalam hati aku berkata “Ternyata ada yang lebih jauh menderita daripada aku”.
Kemudian ibu itu menawarkan saya untuk membeli tasnya demi mendapatkan uang untuk ongkos pulang ke Batu.
“Nduk, ibu punya tas bagus, masih baru dan aslinya 150 ribu rupiah, sampeyan beli 50 ribu saja tidak apa-apa, bahannya bagus kok, ini baru saja saya beli kemaren ketika di Blitar, anak saya minta oleh-oleh tas, lalu saya belikan ini. Tapi anak saya kurang suka modelnya, jadi saya tawarkan ke sampeyan dek”.
Sebenarnya aku telah mempunyai banyak tas dan uang aku tinggal sedikit, namun aku merasa iba dan kasihan dengan ibu tersebut dan akhirnya saya beli tas tersebut.
Kisah ibu tersebut membuat hatiku goyah dan sadar akan pentingnya bersyukur. Aku yang selama ini banyak mengeluh jadi mengerti dan faham bahwa Rahmat Allah sangat melimpah.








