![]() |
| sumber : unsplash |
Oleh : Hariski Romadhona Setya
Di kalangan islam
terjadi berbagai pandangan tentang islam dan politik. Apakah islam tidak
mengajarkan politik? Islam hanya mengajarkan tentang ibadah mahdhah,
akhlak dll. Padahal di dalam islam sendiri ada yang namanya Fiqh Siyasah
(Fiqih politik) dan Fiqh Dusturiyah (Fiqih Konstitusi). Maka dari itu
seharusnya islam harus bersinergi dengan politik. Islam tidak akan maju kalau
tidak ikut berkontribusi dalam proses proses berpolitik.
Dinukil dalam kitab Al
Iqtishad fi al I’tiqad Imam Al ghozali mengatakan bahwasanya “Agama dan
Kekuasaan politik adalah dua saudara kembar” atinya agama adalah pondasi
dan kekuasaan adalah penjaganya. Tidak mungkin kita beragama dengan baik kalau
tidak didukung oleh kekuatan politik. Untuk menjamin kita bebas beribadah, dan
tidak mungkin kita mempunyai kekuatan politik yang bagus kalau tidak dibumbui
oleh nilai-nilai kemuliaan agama. Agama adalah asas dan nilai luhur
perjuangan sedangkan kekuasaan politik adalah pengawal perjuangan. Apabila
perjuangan tidak dikawal oleh organisasi yang benar, maka kegagalannya adalah
suatu niscaya. Pada intinya islam boleh untuk berpolitik.
Berdasarkan qaul
Ulama, Bahwa politik itu bukan ghoyah (tujuan) melainkan sebagai wasilah
(cara, alat). Disebut sebagai alat, Imam Mawardi mengatakan bahwa politik akan
baik jika dilandasi agama dan politik agama jika didukung politik akan kuat.
Maka dari itu kita sebagai santri tidak boleh ikut ikutan pendapat yang
mengatakan politik itu kotor. Padahal itu bukan politiknya, tetapi siapa yang
ada di dalamnya. Tugas kitalah sebagai santri kita harus mengontrol
perpolitikan agar tetap berada di jalur yang lurus (benar). Kekuasaan politik
memang seharusnya dipegang oleh kaum sarungan yang Insyaallah akan baik dan
bersih. Supaya politik bisa menjadi rahmatan lil alamin.
Selain belajar ilmu
agama dan ilmu umum lainya, santri harus peduli terhadap lingkungannya. Dengan
adanya rasa kepedulian, minimal kepada lingkungannya sendiri maka rasa cinta
tanah air itu akan tumbuh dalam benak seorang santri. Kalau santri sudah cinta
tanah air, maka rasa ingin memajukan dan mengharumkan bangsa ini akan
tumbuh. Secara tidak langsung santri turut berkecimpung dalam dunia
perpolitikan. Tahun 2024 adalah pesta demokrasinya masyarakat Indonesia. Tidak
golput pun itu termasuk wujud kepedulian dan kecintaan seorang santri terhadap
tanah air kita. Karena wakil rakyat yang kita pilih adalah mereka yang akan
memimpin kita selama kepemimpinanya.
Oleh karenanya, sebagai
santri kita harus paham akan politik, walau sejatinya tidak semua santri harus
berpolitik. Kalau kita paham akan politik, maka kita akan tidak gampang
dibohongi dan diperalat. Karena sesungguhnya kekuasaan itu seperti pedang yang
bermata dua, kalau digunakan dengan baik maka akan menjadi baik. Begitu juga
sebaliknya, kalau digunakan untuk kemungkaran maka akan melukai pemiliknya
sendiri.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







