BINTANG UNTUK FOTOKU

BINTANG UNTUK FOTOKU

Oleh Dina Ikmalia

Aku tidak pernah membayangkan, sebuah foto sederhana yang kuambil dengan rancangan seadanya bisa terpajang sejajar dengan karya luar biasa lain di sebuah pameran besar. Semuanya berawal dari hobiku mengambil foto random. Awalnya hanya untuk diri sendiri, sekadar menyimpan momen yang menurutku indah. Lama-lama, aku merasa perlu tempat untuk belajar lebih jauh, bagaimana membuat foto yang benar-benar bagus, dan menjadikan hobiku menjadi suatu hal yang lebih bermanfaat dan punya tempat untuk sharing. Dari situlah aku memutuskan bergabung dengan UKM fotografi.

Setelah proses seleksi pendaftaran dan wawancara, aku resmi menjadi calon anggota. Kegiatan demi kegiatan kulalui seperti diklat indoor, diklat outdoor, hingga diklat lanjutan. Dan akhirnya tibalah momen yang paling mendebarkan yaitu pameran pasca-dikjut (diklat lanjutan). Sebelum karya dipamerkan, kami harus melalui proses kurasi (seleksi) sebanyak empat kali.

Kurasi pertama membuatku cemas. “Lolos nggak, ya?” pikirku. Tapi ketika hasilnya keluar, kurator berkata, “Sudah layak, tinggal diedit dan diberi warna. Narasi jangan lupa.” Kata-kata itu membuat semangatku bangkit. Aku pun belajar editing dengan aplikasi yang bahkan belum pernah kucoba sebelumnya.

Kurasi kedua tiba. Aku mengumpulkan hasil revisi lengkap dengan narasinya. Satu hari kemudian, hasilnya keluar, kurator berkata “Sip, sudah acc.” Rasanya lega sekaligus senang bukan main. Namun, saat melihat foto teman-temanku, terbesit rasa minder. “Kayaknya fotoku nggak akan ada yang kasih bintang deh,” bisikku dalam hati. Aku sempat ingin memotret ulang, tapi teman-temanku meyakinkan aku kalau fotoku sudah bagus, 2 kali kurasi langsung bisa di acc. Dukungan itu membuatku memilih tidak memotret ulang.

Hari pameran pun tiba, pameran akan dibuka selama 3 hari. Hari pertama, aku menemukan tiga bintang menempel di bawah fotoku. Aku terpaku, tak percaya ada orang asing yang benar-benar menyukai hasil jepretanku. Meski jumlahnya tak sebanyak teman lain, aku merasa sangat bangga. Di hari kedua, aku tidak melihat sama sekali fotokusama sekali karena sibuk mengurus administrasi pameran sampai tak sempat mengecek fotoku. Menjelang pulang, ada yang bilang kalau bintang di fotoku banyak. Degup jantungku berpacu cepat ternyata ada lagi yang memilih karyaku. Sedikit harapan muncul, meski aku tahu teman-temanku punya bintang lebih banyak.

Hari ketiga yang semakin hectic. Tamu berdatangan, acara puncak harus dipersiapkan. Saat sempat beristirahat, aku mencari fotoku. Dan di sanalah kulihat ada 12 bintang menghiasi fotoku. Senyumku mengembang, aku berfoto sambil memegang hasil karyaku yang kini dipenuhi tanda apresiasi. Teman-temanku bahkan bercerita ada orang lain yang mengunggah fotoku di Instagram story mereka, rasanya bangga banget.

Aku tidak memenangkan penghargaan “foto favorit”, karena ada yang sudah mencapai lebih dari 20 bintang. Tapi anehnya, aku sama sekali tidak merasa kecewa, marah, sedih dan putus asa. Justru aku semakin bersemangat untuk acara selanjutnya dan menanti pameran berikutnya. Bagiku, fotoku sudah menjadi hadiah paling berharga bukan karena jumlah bintang, tapi karena telah diapresiasi oleh orang-orang yang bahkan tak mengenalku. Dari pengalaman ini, aku belajar satu hal, tidak ada usaha yang sia-sia. Sesuatu yang menurut kita belum sempurna, bisa jadi justru bernilai bagi orang lain. Dan aku, benar-benar bangga pada diriku sendiri. Selain aku mendapatkan pengalaman baru aku juga mendapatakan banyak teman baru yang sefrekuensi, yang saling mengh

 

argai serta saling bekerja sama untuk mensukseskan acara tersebut.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp