Bumantara Ujung Hari

Oleh : Ilman Mahbubillah

Terka segala utara yang mengumpat dalam ranum. Membisat dan membiarkan puja menjadi dentum. Risalah hujan mengguyur deras rasa yang terhukum. Memainkan senandung cinta yang tlah lama tersimpan dalam album

Terjerat lagi dada busung; dalam simpul senyummu pagi tadi. Berdebar dan merampas habis seluruh isi relung; dalam jiwa yang dulu merapal sepi. Menepi; membawa mimpi-mimpi mati yang kini kau hidupkan kembali. Mengoyak-oyak konsonan hati; beradu pada rindu atau berhenti mencintai. Lalu sabdaku; dengan takut dan ragu-ragu, seolah mengintip di celah pintu, karena aku; bukanlah pemula, mungkin hanya pemalu

“Sejak kembali kutatap matamu yang gemerlap. Terbius; lidahku mendadak kelu dan dibuatnya membisu. Oh Kasihku; perahuku dahulu serupa dedaun layu. Saat badai melintir; ia tergelincir ke hulu-hilir, yang letak muaranya tak kuasa tuk kutafsir”

Semerah bumantara pada ujung hari; Mentari yang gagah, luluh pada haribaannya. Berkata seekor burung tua; pada anak generasi penerusnya, “Jangan jadi sia-sia sebab setia; kesetiaan bukan suatu yang murah untuk diberikan”. Jadi, Lihatlah seluruh sudut rumah yang hendak kamu jaga;

Adakah celah sebab renta, Adakah duri yang akan melukai. Jika iya; maka benahi sebelum nyaman kau semayami

Semerah bumantara pada ujung hari; Pada haribaan gelap malam bulan bersinar terang. Lalu kita adalah semisal pesan; Yang ingin saling dibaca dan menemukan. Makna-makna yang ingin kita mengerti, Makna-makna yang ingin kita miliki sendiri.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp