BURDAH: ANTARA QOSIDAH, FADHILAH, DAN KESAKRALANNYA

Oleh: Muhammad Anis Fuadi

 

        Burdah merupakan Sholawat yang berisi 160 bait pujian kepada Nabi
Muhammad SAW. Kata burdah berasal dari Bahasa Arab البردة yang berarti jubah
atau selimut dari bulu atau kulit binatang. Sang penyusun, Imam al-Bushiri
sebenarnya memberi nama syair gubahannya ini dengan nama “Al-Kawakib
Ad-Durriyyah fi Al-Madh ala Khair Al-Bariyyah” yang dalam bahasa Indonesia
berarti Bintang-Bintang Gemerlap tentang Pujian Terhadap Sang Manusia Terbaik.
Namun karena qosidah ini memiliki kesakralan dalam historinya, akhirnya sebutan
Qosidah Al-Burdah lebih populer di kalangan pecinta Rasul.

    Pada mulanya, Sang Penyusun Burdah bernama lengkap Imam Syarifuddin
Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Busyiri ini suatu saat menderita penyakit
lumpuh. Sukar baginya untuk beraktivitas normal sehingga beliau lebih banyak
mengisi waktunya dengan menulis pujian-pujian kepada Sang Nabi. Beliau berharap
dengan amalannya tersebut beliau akan lebih dekat dengan Syafaat Nabi Muhammad
SAW.

        Ketika Imam Al-Bushiri sampai di pertengahan menulis sholawat
burdah, beliau terhenti di bait فمبلغ العلم فيه أنه بشر “Puncak
Pengetahuan tentangnya adalah bahwa beliau (Rasulullah) manusia”. Beliau
benar-benar bingung harus melanjutkan penggalan kalimat itu dengan kalimat
apalagi. Hingga kemudian beliau tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah. Dalam
mimpinya beliau membacakan Qosidah Burdah susunannya kepada Rasulullah. Hingga
saat beliau membaca kalimat فمبلغ العلم فيه أنه بشر lagi-lagi beliau terhenti
dan terdiam persis seperti yang beliau alami sebelum tertidur. Kemudian, dalam
mimpinya Rasulullah mengucap kepada Imam al-Bushiri “Katakanlah, وأنه خير خلق
الله كلهم” yang artinya “Dan beliau (Rasulullah) adalah sebaik-baik
seluruh ciptaan Allah. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW memberikan jubah/selimut
dari kulit atau yang disebut dengan Al-Burdah diselimutkan ke tubuh Imam Al-Bushiri. Sejurus kemudian, Imam Al-Bushiri terbangun dan mendapati bahwa
dirinya telah sembuh dari lumpuh. Maka betapa sakralnya qosidah burdah ini,
didalamnya terdapat syair yang disampaikan secara langsung dari Nabi Muhammad
SAW melalui mimpi kepada Sang Penyusun Qosidah.

        Selain kesakralannya, qosidah yang terdiri dari 10 fashal ini juga
memiliki Fadhilah yang dahsyat. Terutama dalam mengobati berbagai penyakit,
qosidah burdah adalah bacaan favorit bagi banyak kaum muslimin. Berkaca saja
pada pandemi ini, banyak diantara ulama’ dan kyai yang mengamalkan Qosidah Burdah ini guna membentengi diri dari ganasnya virus COVID-19. Di Kota Batu
misalnya, seorang habib sekaligus ‘alim, Al-Habib Abu Bakar bin Ahmad Al-Athos
mengadakan Safari Burdah 90 hari berturut-turut dari rumah ke rumah di sekitar
Batu. Dibawah asuhan Al-Habib Abu Bakar, puluhan hingga ratusan jamaah
menghadiri Safari Burdah ini. Diiringi rancaknya tabuhan rebana dan indahnya
alunan nada para munsyid, seluruh jamaah dengan serentak menyebut nama Baginda
Nabi. Tak jarang rintihan tangis dalam majelis itu menegaskan rasa larut dalam
cinta ke hadirat Nabi SAW.

        Adapun di Solo, Al-Habib Hasan al-Kaff, seorang ‘alim yang masyhur
dengan lantunan nada qosidah burdahnya yang amat disegani memiliki kisah
tersendiri tentang magisnya Qosidah Burdah. Beliau menceritakan bahwa pada
suatu saat salah satu jamaahnya menghadap sowan kepada beliau. Jamaah tersebut
sowan kepada Habib Hasan dan meminta tolong kepada Habib Hasan untuk dido’akan.
Beberapa hari sebelum sowan, salah satu jamaah pria tersebut kehilangan BPKB
nya. Ketika sowan, dia meminta kepada Habib Hasan untuk dido’akan agar BPKB nya
segera ketemu. Tanpa ragu Habib Hasan meminta agar pria tersebut menjadikan
Qosidah Burdah sebagai wiridnya. Namun, sesampainya di rumah pria tersebut
selalu disibukkan dengan perkara lain yang menyebabkan ia kesulitan meluangkan
waktunya untuk sejenak membaca burdah. Beberapa hari kemudian, pria itu
mengeluhkan masalahnya kepada Habib Hasan. Sang Habib tetap teguh agar pria itu
menyempatkan untuk membaca burdah. Dengan berat hati, pria
kembali pulang dengan membawa bekal amalan yang masih sama dengan sowan
pertamanya.

       Singkat cerita, pria ini akhirnya mau meninggalkan segala kesibukan
dunianya dan menyempatkan untuk membaca burdah. Malam itu, diambilnya kitab Qosidah Burdah yang ada di rak rumahnya. Alhasil, kejutan besar terjadi. Ketika
baru saja ia buka kitab burdah itu, ternyata terselip di dalamnya sebuah surat
BPKB yang selama ini ia cari-cari. Pria ini heran bukan kepalang, kenapa tidak
dari dulu saja ia menaati perintah dari Habib Hasan untuk membaca Qosidah Burdah. Saat itu juga, langsung diteleponlah Habib Hasan oleh pria tersebut.
Tanpa salam tanpa perkenalan, sang pria langsung mencurahkan segala
kebahagiaannya kepada Habib Hasan malam itu.

 ماشاءالله

        Dengan sedikit saja uraian sejarah, hikmah dan kisah tentang Burdah
ini dapat kita ketahui betapa dahsyatnya Qosidah Burdah ini. Semoga dengan
sedikit ulasan ini dapat mengobati rasa rindu kita kepada Nabi Muhammad SAW.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Perum. Bukit Tidar F3, No. 4

Darunnun.com

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp