Buruh Petik



Buruh Petik

Moh.
Rizal

Tanganku
sebagai wali

Dengannya
membekas sidik di paku suara

Bergantian
sebagai wakilku

Dan
mungkin ribuan tangan lain sebelumku

 

Seketika
jejak kala itu teringat

Tentang
seorang wanita yang menangis jeru

Lantang
suara, mewakili penuh hasrat

Di
bilik sunyi, tatap ku tajam meradang

 

Ibarat
kebun teh

Kami
pucuk daunnya

Tinggi,
diatas segalanya

Tapi
mengapa selalu kami yang harus dipetik?

 

Pengorbanan!

Saut
wanita tadi yang kini jadi buruh petik

Hahaha,
Lucu sekali

Gelak
tawa santai sang buruh memecah

 

Tenang,
jangan serius, jangan tegang

 

Hei
tuan, hidup kupertaruhkan

Nyawa
sanak di genggamku

Asa
ku titipkan

Adakah
yang lucu?

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp