Buruh Petik
Moh. Rizal
Tanganku sebagai wali
Dengannya membekas sidik di paku suara
Bergantian sebagai wakilku
Dan mungkin ribuan tangan lain sebelumku
Seketika jejak kala itu teringat
Tentang seorang wanita yang menangis jeru
Lantang suara, mewakili penuh hasrat
Di bilik sunyi, tatap ku tajam meradang
Ibarat kebun teh
Kami pucuk daunnya
Tinggi, diatas segalanya
Tapi mengapa selalu kami yang harus dipetik?
Pengorbanan!
Saut wanita tadi yang kini jadi buruh petik
Hahaha, Lucu sekali
Gelak tawa santai sang buruh memecah
Tenang, jangan serius, jangan tegang
Hei tuan, hidup kupertaruhkan
Nyawa sanak di genggamku
Asa ku titipkan
Adakah yang lucu?
Author
Post Views: 7
