Cita Rasa Makanan Fermentasi Khas Melayu Jambi: Warisan Kuliner yang Tidak Terlupakan

Oleh: Hanifia Laila Harisi

Indonesia merupakan negara dengan 38 provinsi yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Keberagaman wilayah tersebut melahirkan beragam suku, budaya, dan tradisi yang menjadi kekayaan bangsa. Salah satu bentuk keunikan budaya tersebut tercermin melalui makanan khas daerah, termasuk dari Provinsi Jambi.

Makanan merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena berperan sebagai sumber energi dan penunjang keberlangsungan hidup. Selain itu, makanan juga menjadi bagian dari hasil kebudayaan manusia, mencerminkan nilai-nilai sosial dan tradisi suatu masyarakat.

Provinsi Jambi terletak di pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatera, dengan Kota Jambi sebagai ibu kota provinsi. Wilayah seluas 50.160,05 km² ini memiliki kekayaan alam yang melimpah serta berbagai tradisi dan suku yang khas. Salah satu ciri budaya yang menonjol dari masyarakat Jambi dapat ditemukan melalui kuliner tradisionalnya.

Secara geografis, Jambi memiliki lahan yang subur dan dataran rendah yang cocok untuk pertanian dan perkebunan. Salah satu hasil perkebunan utama yang banyak ditemukan di daerah ini adalah durian. Selain durian, masyarakat juga menanam berbagai tanaman lain seperti pohon karet dan tanaman keras lainnya. Kondisi ini membuat Jambi dikenal sebagai daerah penghasil buah durian yang melimpah.

Bagi masyarakat Melayu Jambi, makanan memiliki nilai filosofis dan spiritual. Nasi, misalnya, dianggap sebagai simbol kehidupan yang harus dihormati. Dalam tradisi makan, masyarakat Melayu Jambi memiliki aturan tertentu, seperti kewajiban mengenakan peci saat berada di hadapan hidangan nasi. Aturan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap rezeki dan sumber kehidupan.

Selain itu, masyarakat Melayu Jambi mengelompokkan makanan ke dalam tiga kategori utama, yaitu:

  1. Makanan pokok, yakni makanan utama yang dikonsumsi setiap hari seperti
    saat sarapan, makan siang, dan makan malam.
  2. Makanan sampingan, yaitu hidangan ringan atau camilan yang dikonsumsi
    bukan karena lapar, melainkan untuk kebersamaan atau jamuan.
  3. Makanan khusus, yaitu makanan yang hanya dibuat pada acara atau upacara tertentu, seperti Padamaran yang disajikan saat bulan Ramadan sebagai hidangan berbuka puasa.

Dalam perjalanan sejarahnya, makanan tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai penanda status sosial pada masa Kesultanan Jambi. Lebih dari itu, makanan menjadi warisan budaya dan identitas daerah yang merefleksikan perkembangan peradaban masyarakat pada masa lampau.

Salah satu bentuk pengolahan makanan tradisional yang menonjol dalam budaya Melayu Jambi adalah pengawetan melalui proses fermentasi. Teknik ini digunakan untuk menjaga ketahanan bahan makanan agar dapat dikonsumsi dalam waktu lama serta memenuhi kebutuhan lauk pauk sehari-hari.

Biasanya, proses fermentasi diterapkan pada ikan, mengingat wilayah Jambi yang dilintasi banyak sungai menjadikannya sumber utama mata pencaharian masyarakat. Salah satu hasil fermentasi ikan yang terkenal adalah Rusip. Selain itu, teknik fermentasi juga diterapkan pada buah durian, yang menghasilkan makanan khas bernama Tempoyak.

Durian yang telah matang akan dipisahkan dari kulit dan bijinya, kemudian dicampur dengan garam secukupnya dan disimpan dalam wadah tertutup rapat selama 3–7 hari. Selama proses penyimpanan, durian akan mengalami fermentasi alami yang menghasilkan aroma tajam dan cita rasa asam khas. Hasil fermentasi ini dikenal sebagai tempoyak, makanan tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Jambi. Tempoyak biasanya digunakan sebagai bumbu masakan, seperti:

  • Sambal tempoyak
  • Gulai tempoyak ikan patin
  • Tumis tempoyak

Meskipun tempoyak juga dikenal di berbagai daerah Melayu lainnya seperti Malaysia, Aceh, dan Palembang, namun yang menjadi keunikan khas Jambi adalah olahan tempoyak ikan patin, yang telah menjadi simbol cita rasa dan identitas kuliner masyarakat Melayu Jambi.

SUMBER : Wulandari, Riska Ayu, Fatonah, Richard Adiguna, Muhammad Rahmadoni Kurniawan, Rendi Deva Aditiya, Nia Angelina, Shaza Fajhira, dan Dinda Ratih Nurhaliza. Tempoyak Sebagai Makanan Khas Jambi (Tempoyak As Jambi Typical Food). Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi.

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp