Oleh Siti Rahmatillah
Aku menolak menulis tentangmu dengan cara seperti ini; penuh amarah dan benci. Ada beberapa alasan, pertama aku tidak ingin ada jejak tentangmu yang buruk, yang kedua aku tidak sudi mengabadikanmu dengan cara seperti ini. Tetapi nyatanya mengabadikan bukan hanya tentang yang dianggap baik saja tetapi juga baik-buruk.
Aku tidak tau sejauh mana tulisan ini dibaca dan mendekam di barisan-barisan karya. Mungkin aku sendiri yang menghapusnya dengan caraku, atau kamu sendiri yang menghapusnya dengan caramu; mustahil dan sangat sedikit percaya.
Ini terlalu berlebihan; membawamu sejauh ini hingga meluapkannya dalam paragraf-paragraf yang tak jelas strukturnya, pun kalimat-kalimatnya dirangkai dengan perasaan yang bingung. Hahaha aku sepenuhnya sadar, jika yang pernah aku anggap teman dekat, biasa saja.
Bagiku bersikap biasa saja sepertinya tidak bisa. Oh aku tau, karena aku tidak terbiasa, ini pertama. Selama ini hanya terdengar dan mendengar sebatas cerita, belum merasakan sepenuhnya; tentang pertemanan yang asing.
Di saat yang bersamaan aku bisa menerima bahkan merindukan hal-hal yang telah lalu, pun bisa muak hanya dengan mendengar suaramu. Amarah itu mulai mencuat jika kepalsuan itu terjadi, pun luluh jika kamu menunjukan warnamu sendiri.
Aku sulit percaya jika suara-suaramu itu asli. Aku selalu mengira bahwa itu adalah suara-suara yang berusaha terlihat lantang dan bermakna, tetapi aslinya hampa. Semoga saja aku salah mengira atau justru kamu yang sudah berubah, bagus. Jika dengan begitu kamu nyaman, lanjutkan.
Aku sedang tidak menyalahkanmu atau menulis tentangmu yang buruk. Aku hanya sedang jujur dengan pikiran-pikiran liar yang lahir dari satu sisi. Seperti aku yang memiliki kebebasan untuk menilaimu, kamu juga memiliki kebebasan untuk menilaiku. Seperti aku yang memiliki kebebasan untuk tidak nyaman denganmu, kamu juga memiliki kebebasan untuk tidak nyaman denganku.
Turut selalu bahagia dan pernah bangga dengan hal-hal baik yang menyertaimu. Sehat dan berkah selalu ya, “ya” adalah partikel terakhir dari namamu. Semoga ada kesempatan agar kata “pernah” berubah menjadi “selalu”. Namun, jika tidak ada, biarkan hal-hal baik-berkesan yang pernah dilalui menjadi kenangan yang menyenangkan untuk diingat kembali. Mohon maaf dan terima kasih banyak, ya.







