DAPUR SUNYI MENGANDUNG EMOSI
Oleh: Zid-li Auliyana Luthfillah
Hari itu tiba, hari dimana santri kembali ke pondok. Tahun ajaran baru dimulai, baru pula jadwal piket yang akan dirombak, tak sama seperti semester sebelumnya menyesuaikan kegiatan masing-masing santri. Seminggu pertama masih free, free dari absen jamaah, taklim, piket masak, piket parkir kendaraan, piket bersih-bersih, dan kegiatan lain. Minggu berikutnya, per divisi mulai mengumpulkan dan menjadwal bersama piket sesuai dengan kebutuhan santri, karena masing-masing jadwal kuliah dan kegiatan mereka berbeda-beda.
Sie kebersihan mengumpulkan para santri di lantai satu guna krs piket masak dan jadwal parkir di masjid karena keterbatasan lahan parkir di pondok. Aku mendapat jadwal piket masak hari Jumat dengan empat anggota. Nabila, Fiona, dan Zuhaira, termasuk aku di dalamnya. Sie kebersihan men-share jadwal piket masak sekaligus piket parkir kendaraan di grup santri putri. Seminggu pertama, Zuhaira tidak masak, kami sekelompok piket diam saja, berharap Zuhaira sadar dengan piket masaknya. Hal tersebut terulang kembali sampai minggu ke empat.
Saat minggu ke dua, setelah diba’an, sie kebersihan mengumpulkan kembali kami, santri putri. Sie kebersihan merombak kembali jadwal piket masak dan piket kendaraan, terutama piket kendaraan karena belum tersebar secara adil. Ada yang dalam sehari lima orang, ada pula yang tiga orang, sehingga penyebaran di sama ratakan.
“Siapa yang mau tukar jadwal lagi?”, tanya sie kebersihan kepada semua santri yang berkumpul disana.
Zuhaira diam tak meminta tukar hari menandakan ia siap dijadwalkan piket pada hari itu, hari Jumat. Minggu ke tiga tiba, lagi-lagi Zuhaira tidak piket masak di hari yang telah di tentukan. Aku memasak tumis jagung, Fiona memasak ayam goreng yang di balur sambal matah, dan juga Nabila memasak tahu crispy.
Salah satu teman kami, Rina, tiba-tiba menghampiri kami bertiga, “Wah! Masak apa enak sekali baunya”.
“Masak ayam donggg… eh, btw sini, minta tolong lihatin Zuhaira ngapain di kamar”, jawab Fiona sekaligus menyuruh Rina mengecek aktivitas Zuhaira.
Rina bergegas ke depan pintu kamar, melihat sekilas dan kembali lagi ke kami bertiga sambil mengabarkan, “lagi tidur anaknya”.
“Coba tanya anaknya, nggak piket kah?”, suruh Fiona lagi.
Rina kembali ke kamar dan mencolek lengan Zuhaira, “Zuhaira, kamu nggak piket? aku kok nggak pernah liat kamu masak?” tanya Rina sedikit menyindir.
“Sakit perut aku”, jawab Zuhaira singkat.
Rina hanya mengangguk pelan dan mengabari percakapan barusan kepada kami bertiga.
Sepuluh menit berlalu, Fiona bergegas ke kamar untuk mengecek handphone-nya, belum juga melangkah melewati pintu kamar, di depan pintu dengan sedikit berbisik lirih dan kode tangan melambai, Fiona mengajakku dan Nabila, kami berdua menghampiri Fiona.
“Lihat itu”, ucap Fiona lirih sambil menunjuk Zuhaira yang berada di kamar.
Nampaknya Zuhaira yang tadi sakit perut sekarang sudah menghadap laptop dan bermain handphone. Aku tersenyum simpul ke atas sedikit dan kembali memasak karena kompor masih menyala, begitu juga dengan Nabila.
Fiona menghampiri Zuhaira dan bertanya dengan kesal, “Kamu kenapa nggak pernah piket masak?!”
“Aku nggak tau kalau jadwalnya hari Jumat”, jawab Zuhaira tanpa rasa bersalah.
“Terus selama ini kalau nggak tahu jadwal kok nggak konfirmasi kalau memang merasa nggak punya jadwal?!?!”, Fiona yang geram bertanya penuh emosi.
Seharusnya jika Zuhaira merasa tidak ada jadwal piket, konfirmasi ke sie kebersihan, namun nyatanya hanya diam membisu. Lebih dari itu, secara logika harusnya Zuhaira tahu jadwal piket masaknya, karena ia mengetahui jadwal piket parkir kendaraan, secara otomatis ia tahu jadwal piket masak karena antara jadwal piket masak dan piket kendaraan atas bawah hanya satu bubble chat tanpa jeda.
“Kamu masak kapan?!”, tanya Fiona kesal, sudah lelah.
“Nanti sore”, jawab Zuhaira singkat.
Fiona bercerita kejadian percakapan singkat antara ia dengan Zuhaira yang menyebalkan kepadaku dan Nabila.
“Lah?! Nanti sore? Masak apa? Lah, ini semua masakan sudah hampir matang”, responku keheranan dengan jawaban Zuhaira.
“Entahlah tadi Zuhaira bilang seperti itu”, ucap Fiona sudah tidak peduli lagi.
“Ya sudah tunggu saja, kalo punya rasa tanggung jawab pasti konfirmasi meskipun masakan sudah matang semua”, jawabku berusaha menenangkan suasana.
“Memangnya punya tanggung jawab? Ups!”, sindir Fiona.
Aku tertawa kecil.
Sore pun tiba, waktu demi waktu berjalan, janji Zuhaira tak kunjung tiba, tak kunjung memasak dan tak ada konfirmasi. Alhasil minggu ini Zuhaira kembali tidak piket memasak dan kami tetap diam sampai minggu berikutnya.
Minggu ke empat, aku izin tidak piket memasak karena ada kegiatan di luar kota. Lagi-lagi Zuhaira tidak piket masak pada minggu ke empat, sehingga yang piket masak hanya Nabila dan Fiona. Kesabaran Fiona habis, untuk kesekian kalinya sudah dimaklumi namun yang dimaklumi tidak tahu diri.
Fiona melihat Zuhaira mengenakan baju rapi lengkap dengan tas yang tergantung di pundaknya, “Loh, kamu mau kemana?”, tanya Fiona penasaran sedikit jengkel.
“Mau ke kampus”, jawab Zuhaira.
“Ngapain?”, tanya Fiona mengganjal dengan jawaban Zuhaira.
“Kuliah”, jawab Zuhaira singkat.
“Memangnya kamu ada kuliah? Sejak kapan?!”, tanya Fiona menegaskan pertanyaan kembali.
“Dari dulu, dari awal masuk”, jelas Zuhaira.
“Lah, tapi selama ini kamu tidur kok, Jumat pagi, nggak berangkat!”, ucap Fiona menyampaikan fakta sebulan ini.
Zuhaira tak menjawab dan tetap fokus bersiap-siap kuliah.
“Aku bukannya benci kamu, aku kayak gini soalnya suatu saat kamu bakal bermasyarakat, sampai kapan kayak gini? Kepekaannya di pakai! Kamu bakal menghadapi berbagai macam karakter, disini kamu masih dimaklumi, entah di luar nanti kamu akan diperlakukan seperti apa kita nggak pernah tahu!”, ceramah singkat Fiona menusuk jantung.
Zuhaira diam tak berkutik, melirik sinis Fiona dan menyeleweng keluar berangkat kuliah.
Sore hari tiba, notifikasi muncul dari grup santri putri. Rupanya anggota piket masak hari Jumat berkurang satu. Yups! Zuhaira tiba-tiba pindah hari Rabu. Zuhaira konfirmasi ke sie kebersihan pindah ke hari Rabu dengan berdalih alasan ada jadwal kuliah di hari Jumat. Namun, disisi lain Zuhaira mengatakan kepada Nabila melalui chat, “Aku marah sama dia”, “dia” yang dimaksud adalah Fiona.
Zuhaira merasa aman dengan Nabila karena merasa tidak terlalu aktif dalam perdebatan ini. Prasangkanya salah, meskipun Nabila tidak terlalu terlibat dalam percekcokan ini, Nabila mengirim screenshot chat-nya dengan Zuhaira di grup piket masak Jumat dan berakhir menjadi perbincangan. Meskipun sedikit kesal, namun kami bertiga lega karena tidak ada lagi biang kerok dalam kehidupan ini.







