DENGAN HIKMAH MAKA KAU TIDAK AKAN MEMECAHKAN KACA

Oleh: M. Hadiyan Ihkam

Hikmah
merupakan tingkatan di atas berilmu. Dua hal ini memiliki pengertian yang
berbeda. Secara sederhana hikmah adalah bersikap bijaksana sedangkan ilmu
adalah pengetahuan akan suatu hal. Banyak orang berilmu namun tidak memiliki
hikmah. Banyak orang pandai dalam segala bidang namun sangat minim bijaksana
terhadap apa yang di sekitarnya. Berbeda jika seseorang mempunyai hikmah maka
ia akan bersikap bijaksana serta pandai mengambil pelajaran dari apa yang
terjadi.
            Orang
yang pandai berhikmah akan lebih dihormati oleh orang lain daripada orang
berilmu tanpa berhikmah. Orang berilmu akan cenderung marah-marah ketika apa
yang dihadapannya tidak sesuai dengan seharusnya. Orang yang berhikmah akan
mampu menempatkan sikap serta tutur kata yang halus dan baik ketika terjadi
sesuatu yang tidak seharusnya.
            Kita
ambil contoh, seorang ketua komunitas memanah mengumumkan akan ada latihan
sekaligus rapat membahas mengenai persiapan lomba ASEAN Game berkumpul di basecamp
pukul jam 7 pagi tepat. Semua anggota mau tidak mau, suka tidak suka harus
berkumpul jam 7 pagi. Besoknya, latihan memanah dimulai dengan arahan dari
ketua. Semua anggota berlatih dengan semangat. Setelah latihan mereka rapat
koordinasi terkait persiapan lomba. Ternyata dalam latihan tersebut ada satu
orang yang tidak ikut namun tetap datang pada saat rapat berlangsung.
            Ketua
yang tidak mempunyai hikmah akan langung memarahi orang yang tidak ikut
latihan. Karena latihan tersebut sangat penting bagi nama baik komunitas
memanah. Secara manusiawi pasti akan emosi dan langsung meluapkan pada saat
itu. Berbeda dengan ketua yang penuh dengan hikmah. Dia akan mencari tahu
alasan terlambat datangnya anggota tersebut. Mungkin dengan cara diajak ngopi
lalu bincang-bincang ringan sambil menanyakan alasannya datang terlambat.
            Hati
seseorang ibarat kaca, tentu ungkapan ini tidak asing bagi siapa saja. Semua
orang bisa merasakan sakit hati. Seseorang ketika dimarahi oleh lain di depan
umum pasti akan merasa sangat malu. Ditambah lagi jika dimarahi dengan
kata-kata kasar yang seharusnya tidak diucapkan maka akan sakit hati. Maka
janganlah seseorang langsung marah ketika ada orang lain mempunyai kesalahan.
Jika marah-marah langsung meluapkan emosi yang berapi-api ibaratnya seperti
memecahkan kaca dengan hantaman yang sangat keras. Dengan marah, dihati memang
terasa puas namun efek dari marah tersebut akan berakibat sangat fatal.
            Kaca
yang dipecah dengan hantaman yang luar biasa akan menimbulkan suara yang keras.
Akibat dari hantaman tersebut kaca pasti pecah bahkan bisa hancur
berkeping-keping. Setelah hancur maka tidak ada seorang pun yang mampu
mengembalikan kaca pecah kembali seperti semula. Begitu juga hati orang lain.
Ketika orang lain dimarahi dengan luar biasa karena kesalahannya maka akan
sakit hati. Oleh karena itu sangat dianjurkan memiliki hikmah yang banyak
dibandingkan ilmu.



Pondok Pesantren Darunnun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp