Di Balik Rasisme yang Dibalut Lelucon

Di Balik Rasisme yang Dibalut Lelucon

Menelusuri kenapa lelucon itu masih terasa lucu, padahal akarnya jauh lebih kelam dari yang kita kira

Yang Saya Lihat Tiap Kali Buka Instagram

Saya tidak tahu apakah kamu mengalami hal yang sama, tapi hampir setiap kali saya buka Instagram, ada satu pola yang terus muncul. Di kolom komentar, di reels, di meme yang lewat begitu saja, lelucon yang menyudutkan orang kulit hitam seperti sudah jadi bagian dari keseharian. Bentuknya macam-macam. Ada yang memakai kata N (nigga, nigger) seolah itu cuma bahasa gaul biasa. Ada yang melabeli orang kulit hitam dengan ayam goreng, semangka, atau basket, seakan identitas seseorang bisa diringkas jadi beberapa stiker lucu-lucuan. Ada juga stigma yang lebih tajam, seperti anggapan bahwa orang kulit hitam identik dengan tindakan kriminal, pencurian, dan sejenisnya. Meskipun saya sendiri sebagai penulis kerap secara tidak sengaja ikut tertawa melihat meme-meme semacam itu, mungkin karena unsur ketidakterduga atau plot twist-nya, tapi entah kenapa memang sudah dinormalisasi, jadi ya memang banyak penikmatnya.

Di Indonesia sendiri, pola serupa punya versi lokalnya. Muncul istilah dan meme yang secara khusus menyasar laki-laki kulit hitam yang juga gay, dikemas seolah-olah itu cuma humor receh. Yang membuat saya cukup prihatin, penikmat meme semacam ini justru banyak dari kalangan remaja. Sebuah penelitian dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur tentang resepsi Generasi Z terhadap tren meme ini mencatat bahwa penerimaannya sangat beragam: sebagian menganggapnya lucu tanpa sadar itu menyinggung, sebagian lain merasa terganggu tapi memilih diam karena sudah telanjur dianggap normal.

Itu yang menurut saya paling miris. Bukan leluconnya, tapi normalisasinya. Banyak orang ikut tertawa, ikut membagikan, ikut memakai stiker atau gambar semacam itu, tanpa pernah berhenti sejenak untuk bertanya, ini sebenarnya rasisme atau bukan.

Kalau ditanya secara psikologis, kenapa sih orang bisa dengan mudah berbuat rasis, jawabannya tidak tunggal. Psikolog sosial Henri Tajfel, lewat teori identitas sosial yang ia kembangkan bersama John Turner, menjelaskan bahwa manusia cenderung meningkatkan rasa percaya dirinya dengan menempatkan kelompoknya sendiri di atas kelompok lain. Dengan kata lain, merendahkan ras atau suku tertentu bisa jadi cara seseorang merasa kelompoknya, dan dengan begitu dirinya sendiri, lebih unggul. Ini semacam bentuk aktualisasi diri yang keliru, mencari validasi lewat cara menjatuhkan orang lain.

Ada juga faktor yang lebih sederhana, yaitu ikut-ikutan. Banyak orang membagikan lelucon rasis bukan karena benar-benar membenci kelompok tertentu, tapi karena takut ketinggalan tren, atau yang sering disebut FOMO. Fenomena konformitas semacam ini sebenarnya sudah lama diteliti, salah satunya lewat eksperimen klasik psikolog Solomon Asch, yang menunjukkan betapa mudahnya seseorang mengikuti pendapat mayoritas meski sebenarnya ia ragu itu benar. Di media sosial, tekanan semacam itu terasa lewat stiker, template meme, dan candaan yang terus dipakai ulang, sampai akhirnya terasa wajar saja untuk diteruskan.

Dari kegelisahan itulah esai ini saya tulis. Bukan untuk menuding siapa pun yang pernah ikut tertawa, sebab saya percaya sebagian besar dari kita memang tidak sadar. Tapi justru karena itu, ada baiknya kita menengok sebentar ke belakang. Sebenarnya, dari mana lelucon-lelucon ini datang?

Kabar Baiknya, Ras Itu Tidak Ada di Biologi

Sebelum masuk ke sejarah yang lebih berat, ada satu hal yang perlu diluruskan dulu. Rasisme sebenarnya tidak punya pijakan biologis sama sekali. Banyak orang mengira ras adalah tingkatan alami yang sudah ada sejak manusia pertama muncul, padahal kenyataannya tidak begitu. Secara genetika, seluruh manusia modern berasal dari tempat yang sama, yaitu Afrika.

Peta 1. Migrasi awal manusia modern keluar dari Afrika. Angka menunjukkan ribuan tahun lalu. Sumber: ttsz / Getty Images.

 

Titik awalnya cuma satu, di Afrika bagian timur, sekitar 200 ribu tahun lalu. Dari sana, manusia menyebar ke segala arah: ke Eropa sekitar 45 ribu tahun lalu, ke Australia sekitar 65 ribu tahun lalu, dan ke Amerika lewat Selat Bering sekitar 16 ribu tahun lalu. Jadi kelompok mana pun yang hari ini merasa paling “asli” di suatu benua, sebenarnya juga pendatang, hanya beda tanggal kedatangan saja.

Lalu kenapa warna kulit kita bisa berbeda-beda? Antropolog Nina Jablonski menjelaskannya dengan cukup sederhana dalam bukunya Skin: A Natural History. Menurutnya, warna kulit hanyalah cara tubuh menyesuaikan diri dengan sinar matahari. Melanin yang tinggi berfungsi sebagai tabir surya alami di dekat garis khatulistiwa, sementara di lintang tinggi yang jarang disinari matahari, kulit berevolusi ke arah sebaliknya supaya tubuh tetap bisa memproduksi vitamin D.

Ilustrasi 1. Warna kulit mengikuti peta matahari, bukan peta martabat. Semakin dekat ke khatulistiwa, semakin tinggi kadar melanin, murni soal perlindungan dari radiasi ultraviolet.

Human Genome Project menutup perdebatan ini dengan angka yang cukup telak: variasi genetik antar kelompok manusia ternyata kurang dari 0,1 persen. Jadi semua yang selama ini kita anggap “perbedaan besar”, seperti warna kulit, tekstur rambut, atau bentuk hidung, sebenarnya hanya bermain di lapisan paling permukaan.

Ilustrasi 2. Lebih dari 99,9 persen materi genetik manusia identik. Sisanya yang setipis itu tidak menyimpan informasi soal kecerdasan, moral, atau karakter.

Jadi kalau ras bukan kategori biologis, dari mana ia sebenarnya datang? Jawabannya ada di sejarah. Dan kalau mau lebih spesifik lagi, jawabannya ada di uang.

Kenapa Afrika? Ini Soal Bisnis, Bukan Kebencian

Perbudakan sendiri sebenarnya bukan hal baru. Mesir kuno, Yunani, dan Romawi sudah lama mengenalnya, tapi dasarnya adalah kekalahan perang atau utang, bukan warna kulit. Seorang budak waktu itu bisa saja berkulit sama dengan tuannya. Perbudakan berbasis ras baru benar-benar muncul pada era Perdagangan Budak Transatlantik, kira-kira abad ke-16 sampai ke-19.

Sejarawan Eric Williams, dalam bukunya Capitalism and Slavery (1944), menyampaikan tesis yang sampai sekarang masih sulit dibantah: kebencian rasial bukan penyebab munculnya perbudakan, melainkan akibatnya. Perbudakan lahir lebih dulu karena dianggap menguntungkan secara ekonomi, baru setelah itu dicarikan pembenaran rasialnya.

Ceritanya kira-kira begini. Ketika bangsa Eropa membuka perkebunan besar tebu, tembakau, dan kapas di Amerika, mereka butuh tenaga kerja dalam jumlah besar. Penduduk asli Amerika yang awalnya dipaksa bekerja justru berguguran massal karena wabah penyakit yang dibawa dari Eropa. Maka mereka beralih ke Afrika, dengan pertimbangan yang dingin dan sangat ekonomis: rutenya bisa dijangkau, penduduknya punya kekebalan alami terhadap malaria, dan sudah terbiasa bertani di iklim tropis.

Peta 2. Rute segitiga perdagangan budak transatlantik yang berjalan selama tiga abad. Sumber: Tribune Media Services.

Coba perhatikan bentuk petanya, sebuah segitiga yang menguntungkan di setiap sisinya. Kapal dari Eropa membawa tekstil dan barang manufaktur ke Afrika Barat, ditukar dengan manusia, lalu berlayar ke Amerika lewat Middle Passage, pelayaran berbulan-bulan di ruang kapal yang sesak, tempat banyak orang tidak selamat. Dari Amerika, kapal yang sama kembali ke Eropa membawa gula, molase, dan kapas hasil kerja paksa. Dalam skema ini, manusia ditempatkan persis di antara tekstil dan gula, hanya menjadi satu mata rantai komoditas di tengah rantai pasok. Kebencian rasial belakangan baru berfungsi membuat susunan ini terasa wajar.

Hasil dari kalkulasi bisnis yang dingin itu sangat mengerikan: lebih dari 12 juta jiwa diculik, diangkut dalam kapal-kapal yang sama sekali tidak layak untuk makhluk hidup, lalu dijual di seberang samudra.

Ketika Sains Dipakai untuk Membenarkan

Masalahnya, bisnis sebesar itu tetap butuh alasan moral. Orang Eropa abad ke-18 dan ke-19 tidak bisa terus-menerus berdagang manusia tanpa merasa bersalah. Di titik inilah lahir apa yang disebut rasisme ilmiah, upaya membungkus penindasan dengan jubah pengetahuan.

Carl Linnaeus membagi manusia menjadi empat kategori, lalu menempelkan sifat moral pada ciri fisik. Homo Europaeus digambarkan cerdas dan tertib, sementara Homo Afer digambarkan pemalas, tanpa dasar pengukuran ilmiah apa pun.

J.F. Blumenbach memakai kraniometri untuk membagi manusia menjadi lima ras, lalu menempatkan ras Kaukasia di puncak tangga peradaban. Kebetulan sekali, itu rasnya sendiri.

Herbert Spencer memelintir teori evolusi lewat konsep Darwinisme Sosial, seolah dominasi satu kelompok atas kelompok lain adalah semacam takdir alam.

Sejarawan Ibram X. Kendi, dalam Stamped from the Beginning, merangkumnya dengan cukup tajam: gagasan rasial ini disusun secara sengaja supaya eksploitasi ekonomi tampak seperti hukum alam. Jadi bukan temuan ilmiah, melainkan pesanan.

Sampai Sejauh Mana Ini Berjalan?

Kalau pembenaran tadi masih terdengar abstrak, mungkin ini salah satu peristiwa yang terdokumentasi sejarah menunjukkan wujud nyatanya, dan jauh lebih buruk dari yang biasanya diceritakan di kelas sejarah.

Foto 1. Kebun Binatang Manusia (Human Zoo), praktik yang masih berlangsung sampai pertengahan abad ke-20.

Foto di atas merekam salah satu babak paling memalukan dalam sejarah Barat. Manusia dipajang di area terbuka atau dalam kandang, diminta berperilaku “primitif”, lalu difoto oleh turis seolah mereka satwa di kebun binatang. Coba perhatikan komposisinya, yang satu berdiri lengkap dengan kamera dan kacamata hitam, yang lain berjongkok di tanah sebagai objek tontonan. Inilah yang dikenal sebagai colonial gaze, tatapan yang melucuti martabat seseorang dan menyisakan tontonan semata.

Contoh lain yang tak kalah kelam adalah Negara Bebas Kongo, di bawah kekuasaan pribadi Raja Leopold II dari Belgia, antara 1885 sampai 1908. Demi memenuhi permintaan karet alam untuk industri ban di Eropa, rezimnya memberlakukan kuota kerja yang mustahil dipenuhi. Desa yang gagal memenuhi kuota dihukum dengan pemotongan anggota tubuh warganya, termasuk anak-anak. Perkiraan korban jiwa berkisar antara 10 sampai 15 juta orang, sebuah genosida yang nyaris tidak pernah masuk buku pelajaran sekolah.

Lalu Kita Harus Bagaimana?

Warisan perbudakan dan kolonialisme tidak lantas hilang begitu saja ketika hukumnya dicabut. Sosiolog Eduardo Bonilla-Silva, dalam Racism without Racists, menjelaskan bahwa meski aturan segregasi sudah lama dihapus, ketimpangan di bidang perumahan, pekerjaan, dan sistem peradilan tetap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jalur medianya pun tidak pernah benar-benar putus. Lawakan panggung abad ke-19 berpindah ke film, lalu televisi, lalu internet, dengan pola dasar yang nyaris tidak berubah, sampai akhirnya menyatu dengan budaya populer global, termasuk masuk ke Indonesia yang secara geografis sebenarnya jauh dari sejarah ini.

Bagian penutup ini sebenarnya tidak bermaksud membuat siapa pun merasa bersalah. Tidak ada yang perlu dihukum hanya karena pernah tertawa pada sesuatu yang belum ia pahami. Tapi setelah tahu, pilihannya jadi berbeda. Ketika kita meneruskan meme rasis hari ini, sebenarnya kita sedang meneruskan pekerjaan yang dimulai orang-orang abad ke-19, hanya saja mereka mengerjakannya dengan pamflet dan pertunjukan panggung, sementara kita mengerjakannya dengan satu kali tekan tombol bagikan.

Sejarah tidak hilang hanya karena kita berhenti membicarakannya. Kabar baiknya, memutus rantai ini tidak menuntut sesuatu yang besar. Cukup berhenti sejenak sebelum menekan tombol bagikan, dan bertanya pada diri sendiri, lelucon ini sebenarnya berasal dari mana.

Rujukan Utama

Eric Williams, Capitalism and Slavery (1944).

Ibram X. Kendi, Stamped from the Beginning: The Definitive History of Racist Ideas in America (2016).

Nina Jablonski, Skin: A Natural History (2006).

Eduardo Bonilla-Silva, Racism without Racists: Color-Blind Racism and the Persistence of Racial Inequality in America (2003).

Henri Tajfel & John C. Turner, “An Integrative Theory of Intergroup Conflict,” dalam The Social Psychology of Intergroup Relations (1979).

Solomon E. Asch, “Opinions and Social Pressure,” Scientific American (1955).

Gordon W. Allport, The Nature of Prejudice (1954).

National Human Genome Research Institute, hasil Human Genome Project.

Penelitian Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, tentang resepsi Generasi Z terhadap meme “Jomok Tepresak” di media sosial.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang warisan perbudakan dan kolonialisme.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp