Oleh : Ilman Mahbubillah
Setelah perpisahan yang cukup panjang, kupahami bahwa rindu hanyalah waktu yang harus dinikmati dengan lapang, dan waktu adalah jutaan semu yang tak bisa dikekang, sedangkan semu adalah serangkaian kisahmu pada setiap detak-detik yang menolak usang. Di setumpuk renjana; kulibatkan namamu dalam bait yang tertata serta menjadi semoga yang siap untuk terbang dan tak kunjung lekang.
Setelah mencari ribuan diksi baru, rima yang padu, lalu kutuang senandika untukmu. Silakan kau larung segala pilu yang selama ini mengganggu setiap debarmu, lantas aku; hanya bisa menunggu. Selesaikanlah segenap risau; kekecewaan atas perih dan kesedihan berujung kacau. Kau serupa warna biru; yang memilih berdamai dengan lautan masa lalu atau bersemai dengan cerahnya langit di musim baru.
Entah bagaimana ceritanya; pergantian malam yang mungkin terlalu dini kiranya dengan mentari yang tenggelam sebab tak berani melawan takdirnya atau kilau purnama di antara suram namun tak benar-benar hasilkan sinarnya. Segeralah putuskan pilihannya; sebelum kita diterpa berbagai ironi kenyataanya, terhadap rasa yang ternyata tak sesuai dengan tafsirnya dan cinta yang faktanya malah menyatukan kita
Entah bagaimana bisa; aku adalah kanvas putih yang hanya mengenal hitam dan kau adalah perpaduan dari segala warna kecuali kelam. Perihal pelataranmu yang megah dan menebar sumringah, semoga ada celah untukku menjadi sanggah yang berdiri dengan gagah, atau sebuah pion tak tahu arah lalu ditahan untuk tak segera punah dan sekedar pernah. Benar! Tak salah kan jika kita mencoba menoreh kisah?
Entah bagaimana caranya; sifat kerasnya batu, ucap getirnya ciu, dan gemuruh badai dengan petirnya yang gaduh bersanding menyatu dengan lembutnya kapas randu, tutur manisnya madu, dan desir damai dari lautan riuh yang selalu berhasil menyeka setiap peluh dikala secangkir luka, nestapa, dan amarah mulai diseduh. Maka, apa tak masalah langit yang sedang membiru didatangi oleh awan putih yang mulai mengabu?
Entah bagaimana akhirnya; di ujung jalan yang masih belum ditentukan rute perjalanannya, atau di sudut reruntuh ruang yang masih tak jelas bentuknya, dan segala sesuatu yang masih dipertimbangkan lainnya. Kelak, segala bentuk bisu dari mulutmu akan merangkum semua siksa dunia, dan semoga setiap dari bicaraku tidak akan memusnahkan seluruh isi semesta. Lalu, harapku; segenap cinta dan bahagia, menjadi asa pada jutaan makna di kemudian harinya.